Tampilkan postingan dengan label Sejarah Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Eropa. Tampilkan semua postingan
Kebudayaan Indis
Kehadiran bangsa Belanda sebagai penguasa di Pulau Jawa menyebabkan pertemuan dua kebudayaan yang jauh berbeda itu makin akrab. Kebudayaan Eropa (Belanda) dan kebudayaan Timur (Jawa), yang masing-masing didukung oleh etnik berbeda dan mempinyai struktur social yang berbeda pula, bercampur makin mendalam dan erat. Akibat pertemuan kebudayaan tersebut, kebudayaan bangsa pribumi(Jawa) diperkaya dengan kebudayaan Barat. Lambat laun pengaruh tersebut makin besar dan mempengaruhi berbagai bidang dan undur kebudayaan.
Kata Indis berasal dari kata “Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda, yaitu nama daerah jajahan negeri Belanda diseberang lautan yang secara geografis meluputi jajahan dikepulauan Nusantara yang disebut Nederlandsch Osdt Indie, untuk membedakan dengan suatu wilayah Suriname dan Curascao. Gaya Indis sebagai suatu hasil perkembangan budaya campuran Belanda dan pribumi Jawa, menunjukkan adanya proses historis.
Faktor penentu dalam perkembangan pola hidup gaya indis ini antara lain: adanya nasib dan penderitaan yang sama sebagai rakyat jajahan, karena takdir dilahirkan dari campuran Eropa dan Jawa, keinginan untuk dapat hidup lebih baik dari golongan masyarakat lain, karena mengabdi atau bekerja pada penguasa jajahan dan beruntung karena mendapat pendidikan yang tinggi dan jabatan tinggi. Gaya hidup dan bangunan rumah Indis pada tingkat awal cenderung banyak bercirikan budaya Belanda. Hal ini terjadi karena para pendatang bangda Belanda pada awal dating ke Indonesia membawa kebudayaan murni dari negeri Belanda. Para penguasa colonial yang datang pada masa awal kekuasaan Kompeni terdiri dari orang militer, pedagang dan pejabat kompeni. Mereka datang tanpa membawa istri dan anak-anak mereka. Baru kemudian dianggap aman, kehadiran wanita Belanda dimungkinkan. Mereka mengadakan percampuran darah dengan wanita pribumi dan menesuaikan hidupnya dengan alam dan kehidupan pribumi. Pengaruh efektif kebudayaan Belanda yang sangat besar lambat laun makin berkurang, terutama setelah anak keturunnya dari hasil perkawinan dengan bangsa Jawa makin banyak. Perkawinan diantara mereka melahirkan masyarakat indo.
Kehidupan mewah dan boros akibat keberhasilan bidang ekonomi di antaranya karena adanya segolongan masyarakat Indis di Batavia mengacu pada kehidupan para petinggi di Weltevreden(istana Bogor). Sementara itu, para pejabat bawahan dikota-kota besar Jawa hidup mewah dengan mengacu pada kehidupan raja dan bangsawan Jawa. Tanda-tanda kebesaran sebagai lambing status seperti payung, sejumlah pengiring, kehidupan mewah dengan memiliki rumah besar dan sejumlah besar budak, ditiru dari kehidupan dan gaya hidup keratin para raja dan bangsawan Jawa.
Gambar : Rumah gaya Indis di Rijswijk (jl. Veteran), Batavia
Sumber : http://tege-peace-love.blogspot.com/
Gaya hidup golongan masyarakat pendukung Kebudayaan Indis menunjukkan perbedaan menyolok dengan kelompok-kelompok social lainnya, terutama dengan kelompok masyarakat tradisional Jawa. Tujuh unsure universal budaya Indis seperti halnya tujuh unsure universal budaya yang dimiliki semua bangsa, mendapatkan bentuknya yang berbeda dari akar budaya Belanda, ataupun budaya pribumi Jawa. Kehidupan social dan ekonomi yang rata-rata lebih baik dibandingkan dengan kehidupan social ekonomi masyarakat pribumi pada umumnya. Salah satu factor yang menjadi petunjuk utama status seseorang ialah gaya hidupnya, yaitu berupa berbagai tatacara, adat istiadat serta kebiasaan berkelakuan dan mental sebagai cirri golongan social Indis. Keseluruhan cirri tersebut mempengaruhi hidupnya sehari-hari karena semuanya dijiwai oleh pandangan hidup yang berakar dari dua kebudayaan, yaitu Eropa dan Jawa
Beberapa contoh unsure-unsur budaya yang meliputi tujuh universal budaya Indis sebagai hasil karya budaya masyarakat Indis yang merupakan pencerminan akulturasi kebudayaan Indonesia (khususnya Jawa) merambah berbagai aspek kehidupan yang akhirnya mewarnai gaya hidup segolongan masyarakat di Hindia Belanda. Contoh unsure universal pertama yaitu bahasa. Bahasa meripakan hasil campuran orang-orang Belanda dengan orang Jawa sebelum Perang Dunia II di Semarang, Jawa Tengah dan sekelilingnnya, lazim disebut bahasa petjoek. Kehadiran bangsa Belanda di Indonesia yang dilanjutkan dengan percampuran darah dan budaya, sebagai manyfestasunya juga timbul pribadi yang lahir dari darah campuran yang juha menggunakan bahasa campuran (bahasa petjoek) yaitu bahasa yang dipergunakan oleh golongan orang-orang papa atau miskin dan orang Belanda yang tidak diakui. Bahasa petjoek ini juga dipergunakan di antara anak-anak indo dan anak-anak dari golongan terpandang, tetapi tidak boleh diperhunakan dirumah karena mereka harus menggunakan atau berbicara dengan menggunakan bahasa Belanda sopan. Pengertian sopan mendapat tekanan keras karena siapa yang tidak menggunakan bahasa Belanda dengan baik( sopan), juga dianggap tidak beradap atau tidak sopan (hina). Bahasa petjoek juga dianggap sebagai bahasa hina karena dipengaruhi oleh bahasa bangsa kulit berwarna, sebagai orang dianggap berderajat rendah di dalam kehidupan masyarakat Hindia Belanda.
Anak-anak yang ber ibu Jawa dan ber ayah Belanda, biasanya menerima pengaruh budaya dari ibu sangat besar. Lingkungannya adalah orang Jawa. Disamping itu, anak-anak tersebut setiap harinya juga mendengar bahasa Belanda dari ayahnya, tetapi mereka mengucapkannya dengan lidah Jawa. Sementara itu, sebagian anak-anak yang ibunya berkebangsaan Eropa atau Indo, mereka pun sehari-hari juga mendengar percakapan bahasa Jawa misalnya dari pembantu dan masyarakat sekelilingnya, yang kemudian dicampur dengan bahasa Belanda lafal Jawa. Didalam percakapan sehari-hari kata-kata “bahasa Belanda rusak” dipergunakan, tetapi ironisnya dipergunakan juga oleh masyarakat Belanda keturunan Indo Belanda, dan orang Jawa.
Ciri lain gaya hidup pada zaman itu, yang banyak dipengaruhi oleh gaya Eropa ialah tata busana. Cara berpakaian kaum wanita Indis akibat pengaruh para pembantu rumah tangga dan para nyai, mereka menggunakan sarung dan kebaya. Kain dan kebaya juga dikenakan untuk berpakaian sehari-hari dirumah oleh para wanita Eropa, sedangkan pria mengenakan sarung dan baju takwo atau pakaian tidur (piyama) motif batik walaupun dalam acara resmi pakaian Eropa yang mereka kenakan. Menarik pula adalah kebiasaan makan sirih, pijat, kerokan dikalangan wanita keturunan (Indo). Tetapo Lady Olivia Marianne Raffles mencoba menghapuskan kebiasaan ini, seperti juga halnya berpakaian sarung dan kebaya di kalangan nyonya-nyonya pejabat colonial.
Gambar : Gadis Indis berkain kebaya panjang
Sumber : http://tege-peace-love.blogspot.com/
Pendidikan
Lazim seperti pandangan pada masyarakat tradisonal umum bahwa orang yang berusia lanjut memiliki pengalaman yang luas akibat dari akumulasi pengalaman yang dilihat dan didengar, sehingga dianggap memiliki kebijakan dan kearifan, orang muda Jawa hatus menurut adat-istiadat dan kebiasaan orang-orang tua. Dengan demikian, proses belajar dan penyampaian pengetahuan serta nilai-nilai secara turun-temurun, dari mulut ke mulut berperan sangat penting. Peran orang tua khususnya ibu sangat besar. Setiap anggota masyarakat tunduk pada adat. Banyak peraturan dan kaidah-kaidah dalam masyarakat tradisional masih bercorak kaidah kesusilaan, kaidah kepercayaan dan keagamaan. Adanya kaidah-kaidah tersebut menjadikan orang takut akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat, apabila seseorang melakukan pelanggaran.
Pada keluarga bangsawan dan priyayi Jawa, anak-anak diasuh oleh para pembantu yang disebut emban yang bertugas mengasuh anak, inya yang bertugas menyusui danwulucumbu yang bertuhas abdi pendamping. Hal demikian ternyata diikuti oleh keluarga Belanda, Indo dan priyayi baru, yang anak-anaknya diasuh oleh para pembantu. Proses pendidikan tradisional Jawa yang semula berfungsi sebagai pelestarian budaya dan kesinambungan generasi, telah melunak pada masyarakat Indis. Banyak unsure budaya Jawa mempengaruhi anak-anak keturunan Eropa, dan sebaliknya pengaruh unsure Eropa pada anak-anak para priyayi. Para priyayi pertama-tama menuntut lemajuan para putyranya dengan pendidikan modern, dengan maksud mereka dapat menduduki posisi jabatan dalam administrasi pemerintahan,suatu profesi tertentu yang terpandang dalam masyarakat Jawa.
Sistem pendidikan dengan menggunakan pendekatan budaya setempat, disamping system pengenalan dan pendidikan cara barat, memperluas dan memperkaya pengetahuan para siswa. Kesemuanya ini tidak mengubah sendi-sendi budaya Jawa, misalnya dalam hal cara berpakaian, bahasa, logika, materi bacaan, menulis dan berhitung yang pengajarannya dilakukan oleh guru-guru pribumi dari Ganjuran dan Muntilan. Pendidikan umum adalah alat penting untuk melatif seseorang untuk dapat memegang suatu posisi jabatan dalam suatu status dalam masyarakat. Pendidikan juga dipergunakan sebagai criteria pengangkatan suatu jabatan dalam pemerintahan maupun swasta. Penggajian seseorang juga didasarkan pada penyesuaian fungsi dan pendidikan. Singkatnya, pendidikan Barat merupakan daya tarik dan idaman sehingga orang menghargainya tanpa mengingat asal-usul seseorang.
Sejak awal kehadiran orang Belanda, unsur-unsir budaya dan iklim alam sekeliling sudah mempengaruhi dalam membangun rumah tempat tinggal mereka di Jawa. Dari rumah tempat tinggal masa awal ini, dapat diketahui bahwa pembuatan rumah di Batavia tidak sepenuhnya tepat seperti bentuk tempat tinggal rumah Belanda kuno di negeri induknya. Pembuatan rumah di Batavia kuno mendapatkan penanganan yang baik dan dikerjakan oleh para akli yang betul-betul pandai. Hal ini diketahui dari ciri-ciri yang ada, yaitu kecuali penggunaan material dan percampuran antara seni bangunan barat dengan lingkungan dunia timur yang sangat asing. Bangunan-bangunan gaya Indis yang memiliki nilai historis, arkeologis dam estetis yang mewakili zamannya patut dilestarikan, diteliti dan diselamatkan. Diantara berbagai gaya bangunan yang pernah berkembang di Indonesia, seni bangunan gaya Indis memperkaya keindahan kota-kota di Indonesia.
Renaisans
Renaisans adalah sebuah gerakan budaya dan ilmiah yang menekankan penemuan kembali dan penerapan teks dan pemikiran dari zaman klasik, terjadi di Eropa c. 1400 - c. 1600. The Renaissance, sebuah gerakan yang menekankan ide-ide dari dunia klasik, telah digambarkan sebagai mengakhiri era abad pertengahan dan awal zaman modern.Penyebabnya banyak, semua sangat saling berhubungan dan sekarang perdebatan sejarawan kepentingan relatif dari masing-masing, serta ketika Renaissance benar-benar dimulai. Abad keempat belas pertengahan merupakan tanggal yang umum untuk memulai, meskipun beberapa komentator kembali lebih jauh. Selain Florence pernah diidentifikasi sebagai rumah awal Renaissance, tetapi beberapa sejarah memperluas ini ke Italia secara keseluruhan.
Masih ada perdebatan tentang apa sebenarnya merupakan Renaissance. Pada dasarnya, itu adalah sebuah gerakan budaya dan intelektual, erat dengan masyarakat dan politik, dari keempat belas terlambat untuk awal abad ketujuh belas, meskipun biasanya terbatas hanya abad kelima belas dan keenam belas. Hal ini dianggap berasal di Italia.Secara tradisional orang telah mengklaim itu dirangsang, sebagian, oleh Petrarch, yang memiliki gairah untuk menemukan kembali naskah yang hilang dan keyakinan sengit di kekuatan peradaban pemikiran kuno, dan sebagian oleh kondisi di Florence.
Pada intinya, Renaisans adalah sebuah gerakan yang didedikasikan untuk penemuan kembali dan penggunaan pembelajaran klasik, artinya pengetahuan dan sikap dari era Yunani dan Romawi Kuno. Renaissance harfiah berarti 'kelahiran kembali', dan pemikir Renaissance percaya periode antara mereka dan jatuhnya Roma, yang mereka berlabel Abad Pertengahan, telah melihat penurunan prestasi budaya dibandingkan dengan era sebelumnya. Peserta yang dimaksudkan, melalui studi teks-teks klasik, kritik tekstual dan teknik klasik, untuk kedua memperkenalkan kembali ketinggian hari-hari kuno dan memperbaiki situasi sezaman mereka.Beberapa teks-teks klasik bertahan hanya di kalangan ulama Islam dan dibawa kembali ke Eropa saat ini.
"Renaissance" juga dapat merujuk kepada periode, c. 1400 - c. 1600. "High Renaissance" umumnya mengacu c. 1.480 - c. 1520. Era itu dinamis, dengan penjelajah Eropa "menemukan" benua baru, transformasi metode perdagangan dan pola, penurunan feodalisme, perkembangan ilmiah seperti sistem Copernican dari kosmos dan munculnya mesiu. Banyak dari perubahan ini dipicu, sebagian, oleh Renaissance, seperti matematika klasik merangsang mekanisme perdagangan keuangan yang baru, atau teknik baru dari laut navigasi timur meningkatkan. Mesin cetak juga dikembangkan, memungkinkan Renaissance teks yang akan disebarkan secara luas.
Di seberang abad keempat belas, dan mungkin sebelumnya, struktur sosial dan politik lama dari periode abad pertengahan rusak, sehingga konsep-konsep baru untuk bangkit. Sebuah elit baru muncul, dengan model-model baru pemikiran dan ide-ide untuk membenarkan diri mereka sendiri, apa yang mereka temukan di zaman klasik adalah sesuatu yang bisa digunakan baik sebagai penyangga dan alat untuk membesarkan mereka. Keluar elit cocok mereka untuk mengikuti, seperti yang dilakukan Gereja Katolik. Italia, dari mana berevolusi Renaissance, adalah serangkaian kota negara, masing-masing bersaing dengan yang lain untuk kebanggaan warga, perdagangan dan kekayaan. Mereka sebagian besar otonom, dengan proporsi tinggi pedagang dan terima kasih kepada pengrajin rute perdagangan Mediterania.
Di bagian paling atas dari masyarakat Italia, para penguasa pengadilan utama di Italia adalah semua "orang baru", baru-baru ini dikonfirmasi dalam posisi kekuasaan mereka dan dengan kekayaan yang baru diperoleh, dan mereka sangat antusias untuk menunjukkan keduanya.Ada juga kekayaan dan keinginan untuk menunjukkannya di bawah mereka. The Black Death telah membunuh jutaan orang di Eropa dan meninggalkan korban dengan kekayaan proporsional lebih besar, baik melalui sedikit orang mewarisi lebih atau hanya dari kenaikan upah yang mereka bisa menuntut. Masyarakat Italia, dan hasil dari Black Death , diperbolehkan untuk mobilitas sosial yang jauh lebih besar, aliran konstan orang-orang tertarik untuk menunjukkan kekayaan mereka. Menampilkan kekayaan dan menggunakan budaya untuk memperkuat sosial dan politik merupakan aspek penting dari kehidupan di masa itu, dan ketika gerakan artistik dan ilmiah berbalik kembali ke dunia klasik pada awal abad kelima belas ada banyak pelanggan siap untuk mendukung mereka dalam ini berusaha untuk membuat poin politik.
Penyebaran Renaisans
Dari asal-usulnya di Italia, Renaissance tersebar di seluruh Eropa, ide-ide berubah dan berkembang sesuai dengan kondisi setempat, kadang-kadang menghubungkan ke booming budaya yang ada, meskipun masih menjaga inti yang sama. Perdagangan, perkawinan, diplomat, akademisi, penggunaan memberikan seniman untuk menjalin hubungan, bahkan invasi militer, semua dibantu sirkulasi. Sejarawan sekarang cenderung untuk memecah Renaissance turun menjadi lebih kecil,, kelompok geografis seperti Renaissance Italia, The Renaissance English, Renaissance Utara (gabungan dari beberapa negara) dll Ada juga karya-karya yang berbicara tentang Renaissance sebagai fenomena global yang dengan mencapai, mempengaruhi - dan dipengaruhi oleh - timur, Amerika dan Afrika.
Akhir dari Renaissance
Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Renaissance berakhir pada 1520-an, beberapa tahun 1620-an. Renaissance tidak hanya berhenti, namun ide intinya secara bertahap diubah menjadi bentuk lain, dan paradigma baru muncul, terutama selama revolusi ilmiah dari abad ketujuh belas.
Istilah 'kebangkitan' sebenarnya berasal dari abad kesembilan belas, dan telah sangat diperdebatkan sejak itu, dengan beberapa sejarawan mempertanyakan apakah itu bahkan kata berguna lagi. Awal sejarawan menggambarkan istirahat intelektual jelas dengan era abad pertengahan, tetapi dalam beberapa dekade terakhir telah berubah beasiswa untuk mengenali kelangsungan tumbuh dari abad sebelumnya, menunjukkan bahwa perubahan Eropa mengalami lebih merupakan evolusi dari revolusi. Era ini juga jauh dari zaman keemasan bagi semua orang, di awal itu sangat banyak gerakan minoritas humanis, elit dan seniman, meskipun disebarkan lebih luas dengan pencetakan. Wanita, khususnya, melihat pengurangan ditandai kesempatan pendidikan mereka selama Renaissance.
Aspek Renaissance: Seni
Ada Renaissance gerakan dalam arsitektur, sastra, puisi, drama, musik, logam, tekstil dan mebel, tapi Renaissance adalah mungkin paling dikenal karena seni. Kreatif usaha menjadi dipandang sebagai bentuk pengetahuan dan prestasi, bukan hanya cara dekorasi. Seni sekarang harus didasarkan pada pengamatan dari dunia nyata, menerapkan matematika dan optik untuk mencapai efek yang lebih maju seperti perspektif. Lukisan, patung dan lainnya bentuk seni berkembang sebagai bakat baru mengambil penciptaan karya, dan menikmati seni menjadi dilihat sebagai tanda individu berbudaya.
Aspek Renaissance: Renaissance Humanisme
Mungkin ungkapan paling awal dari Renaissance berada di Humanisme, pendekatan intelektual yang dikembangkan di antara mereka yang diajarkan bentuk baru dari kurikulum: humanitatis studia, yang menantang pemikiran Scholastic sebelumnya dominan. Humanis khawatir dengan fitur sifat manusia dan upaya oleh manusia untuk menguasai alam daripada mengembangkan kesalehan religius.
Pemikir humanis implisit dan eksplisit menantang pola pikir Kristen tua, yang memungkinkan dan memajukan model intelektual baru di belakang Renaissance. Namun, ketegangan antara humanisme dan Gereja Katolik yang dikembangkan selama periode, dan pembelajaran humanis sebagian disebabkan Reformasi. Humanisme juga sangat pragmatis, memberikan mereka yang terlibat dasar pendidikan untuk bekerja di birokrasi Eropa yang sedang berkembang. Penting untuk dicatat bahwa istilah 'humanis' adalah label kemudian, seperti "renaissance".
Aspek Renaissance: Politik dan Kebebasan
Renaissance digunakan untuk dianggap sebagai mendorong maju keinginan baru untuk kebebasan dan republikanisme - ditemukan kembali pada karya tentang republik Romawi - meskipun banyak negara kota Italia diambil alih oleh penguasa individu. Pandangan ini telah datang di bawah pengawasan dekat oleh para sejarawan dan sebagian ditolak, tapi itu menyebabkan beberapa pemikir Renaissance menghasut untuk kebebasan agama dan politik yang lebih besar selama bertahun-tahun kemudian. Lebih luas diterima adalah kembali ke berpikir tentang negara sebagai badan dengan kebutuhan dan persyaratan, mengambil politik jauh dari penerapan moral Kristen dan ke dunia, beberapa mungkin mengatakan licik, lebih pragmatis, seperti yang ditandai oleh karya Machiavelli.
Aspek Renaissance: Buku dan Belajar
Bagian dari perubahan yang dibawa oleh Renaissance, atau mungkin salah satu penyebab, adalah perubahan sikap untuk pra-Kristen buku. Petrarch, yang memiliki memproklamirkan diri "nafsu" untuk mencari buku lupa antara biara-biara dan perpustakaan Eropa, memberikan kontribusi terhadap pandangan baru: satu (sekuler) gairah dan rasa lapar akan pengetahuan. Ini menyebar sikap, meningkatkan pencarian karya yang hilang dan meningkatkan jumlah volume yang beredar, pada gilirannya mempengaruhi lebih banyak orang dengan ide-ide klasik. Salah satu hasil utama lainnya adalah perdagangan baru dalam naskah dan dasar perpustakaan umum untuk lebih memungkinkan studi luas. Mencetak kemudian diaktifkan ledakan dalam membaca dan penyebaran teks.
Historiografi pada masa Renaissance
Niccolo Machiavelli, termasyhur karena nasihatnya yang blak-blakan bahwa seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman penggunaan kekuatan. Machiavelli lahir tahun 1469 di Florence, Italia. Ayahnya, seorang ahli hukum, tergolong anggota famili terkemuka, tetapi tidak begitu berada.
Selama masa hidup Machiavelli --pada saat puncak-puncaknya Renaissance Italia-- Italia terbagi-bagi dalam negara-negara kecil, berbeda dengan negeri yang bersatu seperti Perancis, Spanyol atau Inggris. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa dalam masanya Italia lemah secara militer padahal brilian di segi kultur.
karya pokoknya yang terkenal adalah The Prince (Sang Pangeran), The Prince dapat dianggap nasihat praktek terpenting buat seorang kepada negara. Pikiran dasar buku ini adalah, untuk suatu keberhasilan, seorang Pangeran harus mengabaikan pertimbangan moral sepenuhnya dan mengandalkan segala, sesuatunya atas kekuatan dan kelicikan. Machiavelli menekankan di atas segala-galanya yang terpenting adalah suatu negara mesti dipersenjatai dengan baik. Dia berpendapat, hanya dengan tentara yang diwajibkan dari warga negara itu sendiri yang bisa dipercaya; negara yang bergantung pada tentara bayaran atau tentara dari negeri lain adalah lemah dan berbahaya.
Machiavelli menasihatkan sang Pangeran agar dapat dukungan penduduk, karena kalau tidak, dia tidak punya sumber menghadapi kesulitan. Tentu, Machiavelli maklum bahwa kadangkala seorang penguasa baru, untuk memperkokoh kekuasaannya, harus berbuat sesuatu untuk mengamankan kekuasaannya, terpaksa berbuat yang tidak menyenangkan warganya. Dia usul, meski begitu untuk merebut sesuatu negara, si penakluk mesti mengatur langkah kekejaman sekaligus sehingga tidak perlu mereka alami tiap hari kelonggaran harus diberikan sedikit demi sedikit sehingga mereka bisa merasa senang."
Apa yang ditulis Machiavelli dalam The Prince adalah rangkaian preskripsi untuk penataan sebuah Negara dengan sukses melalui upaya untuk mendapatkan kekuasaan. Karena terpengaruh sepenuhnya oleh nilai dan sikap masanya, ia dengan tidak kenal malu meyakini bahwa kekuasaan itu baik dan bahwa kekuasaan harus dicari dan dinikmati, bersama dengan kemansyuran, reputasi dan kehormatan. Seperti dalam judulnya The Prince, secara tidak langsung, ia lebih mendukung monarki daripada republic
PENEMUAN-PENEMUAN DAN TEKNOLOGI ABAD PERTENGAHAN
READ MORE
Abad pertengahan teryata menghasilkan banyak kontribusi yang berarti bagi sejarah teknologi. Bangsa Eropa Abad Pertengahan tidak hanya mewarisi metode-metode pembuatan alat-alat dan perlengkapan mekanis dari zaman klasik, tetapi juga mampu mengembangkanya. Pada abad pertengahan ini menunjukan bahwa pengembangan teknologi pada abad-abad tersebut ternyata merupakan basis bagi perkembangan teknologi modern.
Teknologi Awal Abad Pertengahan
Sebagian besar alat-alat yang dipergunakan selama abad pertengahan memang merupakan warisan dari bangsa Yunani dan Romawi. Karena langsung mewarisi sistem pertanian Romawi, teknologi pertanian awal abad pertengahan masih menerapkan alat-alat kuno, seperti cangkul, sabit pemangkas, ember, gunting bulu domba, bajak, sekop, kereta, grobak, arit, sabit besar, pengerik biji-bijian, gandar, alat pemangkas anggur, alat pemeras sari buah apel dan batu gerinda. Namun pada periode ini juga terjadi sejumlah penemuan yang berarti, yakni sanggurdi dan leher kuda. Garu atau penyisir tanah juga merupakan penamuan awal abad pertengahan, satu penemuan yang cukup monumental dalam sejarah teknologi pertanian.
Dalam teknologi pertukanagan, boleh dikatakan tidak terjadi penemuan baru. Alat-alat tukang kayu, misalnya seperti palu, gergaji, kapak, beliung, gurdi atau bor, penarah dan pahat, semuanya telah ada sejak zaman Yunani-Romawi. Demikian pula dengan perkakas tukang batu, misalnya seperti tang, dan puputan telah dikenal sejak sebelum masehi. Demikian pula dengan perlengkapan para ahli bedah, misalnya seperti gunting tang, pisau bedah dan sebagainya.
Alat Giling Model Awal
Salah satu dari semua penemuan terpenting adalah alat giling. Penemuan ini merupakan penerapan prinsip gerak roda penggilingan biji padi-padian, penggilingan kuno belum menggunakan roda. Alat semacam ini ternyata dikenal dalam setiap masyarakat selama Zaman Batu Baru dan Perunggu.
Alat giling temuan akhir abad klasik digerakan dengan kincir air. Alat ini berupa kinciran dengan tangkai kayu ek pada satu sisi dan batu gerinda pada sisi lainya. Alat giling temuan bangsa Yunani-Romawi ini belum lazim digunakan di Eropa Utara pada abad-abad awal Masehi. Dalam model baru gerak batu gerindanya tergantung pada gerigi roda. Tangkai tempat pemukul diikatkan menggerakan kinciran bergerigi yang diikatkan pada tangkai, yang pada giliranya menggerakan batu gerinda.
Tumbuhnya perdagangan, kota-kota, dan penduduk perkotaan yang luar biasa selama abad X dan XI mendorong timbulnya berbagai perubahan teknologis. Dalam teknik penggilingan biji-bijian setidak-tidaknya telah terjadi dua modifikasi. Yang pertama adalah alat giling yang digerakan dengan angin, satu teknik dikembangkan di Persia. Yang kedua adalah penggilingan yang digerakan dengan kuda. Namun, seperti apa alat-alat giling yang telah di modifikasikan itu, sulit dipastikan.
Penenunan
Penenunan sudah dikenal sejak Zaman Batu Baru. Dalam penenunan kain dipergunakan dua set serat atau akar yang seperti benang. Kedua serat yang membentang sepanjang panjangnya kain itu disebut warp (pelengkung). Sedangkan alat yang mengulurkan pelengkung secara bolak-balik itu disebut woof (pakan). Pada mulanya perkakas tenun ini amatlah sederhana. Namun, selama zaman Yunani-Romawi terjadi usaha modifikasi, yang kemudian diwarisi bangsa Eropa abad pertengahan. Perkakas tenun yang sudah dimodifikasi ini berupa silinder kayu tempat ujung-ujung pelengkung diikatan, batang pelepas yang merentangkan pelengkung, tali-taliyang dirancang untuk mengendalikan benang-benang pelengkung, tali-tali yang dirancang untuk mengendalikan benang-benang pelengkung kumparan yang membolak-balik pakan, dan buluh atau sejenis bambu untuk mengangkat pelengkung. Perkakas tenun semacam ini lazim dikenal selama zaman Romawi.
Pemintalan
Proses pemintalan sama tuanya dengan penenmuan proses penenunan. Tongkat (pendek) tempat wol atau rami digulungkan ditahan dengan tangan kiri. Benang yang dipilin diikatkan pada gelondong tongkat kayu yang panjangnya sekitar satu kaki dan kedua ujungnya dibuat runcing dan salah satunya untuk pengait.
Cara merajut seperti ini lazim dilakukan pada abad pertengahan dan kini boleh jadi masih dipraktekan di negara-negara Balkan. Perlengkapan semacam ini lazim dikenal menjelang tahun 1300. Dan dalam perkembangan selanjutnya mengalami berbagai modifikasi.
Kompas dan Cross-staff
Navigasi mengalami perkembangan yang cukup berarti pada Abad Pertengahan. Sejak zaman kuno, para pelaut telah terbiasa mengatur peleyaran mereka dengan mendasarkan diri pada letak bintang-bintang. Setelah tahun 1300 para pelaut mulai lebih menyandarkan diri pada kompas, daripada mengamati letak bintang-bintang. Penemuan Kompas ini kemungkinan ditemukan oleh orang Cina.
Pengembangan kompas ditentukan sekali oleh penemuan daya magnetisitu, yakni jika salah satu ujung sebuah jarum, yang diikatkan pada gabus yang mengapung di air, di gosokan pada besi magnetis ujungnya yang bermagnet menunjukan utara, ujung lainnya selatan.
Walaupun penemuan kompas ini menandai suatu langkah maju dalam perkembangan navigasi ilmiah, para pelaut ternyata tidak meninggalkan sama sekali kebiasaan melihat bintang kutub untuk memastikan posisi mereka. Cross-staff, yakni alat lazim dipergunakan pada masa-masa akhir Abad Pertengahan, lebih memungkinkan para pelaut untuk mengetahui ketepatan posisi mereka jika telah jauh dari daratan.
Astrolabe dan Armillary Sphere
Astrolable telah digunakan sejak zaman Yunani kuno. Seperti cross-staff , alat ini digunakan untuk mengetahui ketinggian bintang-bintang. Astrolabe berbentuk lempengan tembaga yang bulat yang dibagi ke dalam 360 derajat. Sebuah penunjuk, yang dilengkapi dengan sasarannya serta diikatkan di tengah.
Perkapalan
Perkapalan terus mengalami perkembangan selama Abad Pertengahan. Sampan dan kapal-kapal besar telah ada di kawasan Laut Tengah jauh sebelum zaman Homerus. Selama zaman Yunan-Romawi, kapal dibuat lebih besar, cepat, dan mewah, kapal juga dilengkapi dengan menara tempur kecil baik di bagian depan maupun butirannya. Hal ini dimaksudkan untuk menangkal bahaya serangan para bajak laut.
Para pembuat kapal pada akhir abad pertengahan mengembangkan terus, mampu menghasilkan kapal yang lebih besar lagi, dan yang kemudian digunakan oleh orang-orang seperti Vasco de Gama, Magellan, Columbus untuk mengarungi dunia.
Busur
Salah satu senjata para prajurit abad pertengahan adalah busur. Senjata ini sebenarnya juga sudah digunakan para prajurit Romawi. Pada abbad pertengahan telah mengalami berbagai modifikasi. Slah satu modifikasi yang penting adalah dotemukannya alat penembak busur sebelum abad XI. Dengan crossbow ini, busur atau anak panah secara horizontal dipasang pada sebilah kayu yang panjangnya beberapa kaki.
Busur panjang Inggris merupakan suatu penemuan luar biasa, busur panjang ini memiliki keunggulan dibandingkan crossbow yakni dapat dipasang sewaktu-waktu, dua keunggulan lainnya adalah bahwa busur panjang mempunyai daya lesat atau kecepatan yang lebih tinggi, sehingga bisa menimbulkan efek yang lebih parah pada pihak yang terkena.
Artileri
Para komandan militer abad pertengahan memiliki berbagai jenis persenjataan warisan artileri Yunani-Romawi. Yang paling sederhana adalah ketapel, semacam alat pelembar batu. Senjata lainnya adalah ballista, yang bentuknya agak mirip crossbow yang besar. Senjata lainnya adalah trebuchet, yang ukurannya yang bentuknya seperti ketapel, tetapi mampu melempar batu dengan ukuran besar.
Baju Baja (Zirah)
Para perajin abad pertengahan memiliki kejelian yang lumayan dalam menyempurnakan zirah atau baju baja. Para prajurit abad pertengahan tubuh mereka dilindungi dengan zirah, yang memanjang dari leher hingga atas lutut, menutupi lengan dan siku, dan terbelah di bagian depan dan belakang sehingga pemakainya masih memungkinkan untuk naik kuda.
Senjata Api
Penemuan dan penyempurnaan senjata api menjadi faktor yang sangat berarti dalam kehidupan bangsa Eropa selama Abad Pertengahan. Pada mulanya peluru meriam dibuat dari batu, dan pembuatnya adalah tukang batu. Ukurannya tidak mungkin dibuat sama. Demikian pula dengan senjata api laras besar yang terbuat dari lempengan-lempengan baja. Tetapi secara bertahap pembuat senjata api ini semakin mampu membikin merian yang lebih sempurna. Meriam hasil pembuatan akhir Abad Pertengahan mampu meruntuhkan tembok kastil yang paling kuat sekalipun.
Senjata lars tangan pada mulanya juga sangat tidak akurat. Menjelang tahun 1500 senjata laras tangan ini diperlengkapi dengan kokang yang menarik deretan yang ditembakan dengan pelatuknya. Senjata semacam ini disebut matchlock. Para bangsawan, yang dulu dapat mengamankan dirinya dengan berlindung dibalik tembok tebal kasti-kastil mereka, ini tak dapat lagi menikmati suatu perlindungan yang memadai. Kemiliteran mereka mulai merosot, prajurit yang berbaju besi sekalipun dapat tewas oleh prajurit api laras tangan yang ditembakkan oleh pasukan infantri.
Khronometer (Pengukuran Waktu)
Sebelum zaman Romawi-Yunani manusia sudah mengenal semacam alat penunjuk waktu dengan bantuan bayangan sinar matahari serta apa yang disebut jam pasir, yang lazim digunakan bahkan hingga tahun 1800. bangsa Yunani kuno telah mengembangkkan apa yang disebut clepsydra atau jam air.
Perkembangan jam mekanis merupakan hal yang penting dalam sejarah peradaban. Jam adalah alat yang terdiri dari serangkaian roda-roda kecil yang digerakkan oleh pegas atau batu, yang dilengkapi dengan alat pengukur dan penunjuk waktu. Inovasi besar dalam pembuatan jam terjadi sekitar tahun 1500 yakni ketika Peter Henlein dari Nuremberg membuat jam ini atau yang disebut arloji.
Percetakan dan Kertas
Percatakan termasuk penemuan besar pada akhir Abad Pertengahan. Di Athena, Alexandria dan Roma orang-orang yang pandai menulis rapi melakukan penyalinan karya-karya besar. Dengan penyalinan yang sedemikian ini harga buku menjadi mahal, sehingga hanya beberapa segelintir orang yang bisa mendapatkan buku.
Hampir sepanjang Abad Pertengahan orang mengunakan kertas yang berbahan dari kulit binatang, untuk membuat naskah-naskah. Menjelang akhir Abad Pertengahan, kertas digeser menjadi menggunakan perkamen. Puncak keberhasilan inovasi atau bahkan penemuan adalah nerhasil dicetaknya injil 36 baris pada tahun 1455. dengan demikian penemuan mesin cetak ini berjasa besar dalam penyebaran ide-ide. Penemuain mesin cetak ini menandai akhir Abad Pertengahan dan awal Zaman Baru dalam sejarah intelektual.
Kekaisaran Ottoman
Pada abad ke-13 seorang anggota suku nomaden Turki bernama Ertogrul mendirikan kontrol atas sebagian besar dari barat laut Anatolia. Kekaisaran Ottoman mengambil namanya dari putranya Osman (r. 1.280-1.324), Ottoman adalah korupsi Italia Osmanli.
Seperti dinasti Seljuk dan dinasti Turki lainnya, Kekaisaran Ottoman mengandalkan ghazi prajurit sebagai dasar kekuatan militernya. Para prajurit Ghazi adalah masyarakat egaliter di mana kepemimpinan diperoleh melalui keberanian dan prestasi dalam pertempuran.
Mereka berlatih kode etik (futuwwa) analog dengan kode ksatria di antara ksatria abad pertengahan Barat. Mengkonversi ke Islam Sunni, Ottoman memandang diri sebagai pelindung Islam.
Osman menikahi putri seorang syekh sufi yang merupakan master dari salah satu Sufiorders banyak yang telah didirikan di Asia Kecil. Syekh sufi seringkali menjadi pemimpin spiritual di Ottoman masyarakat.
Seperti semua pemimpin Ottoman awal Osman dan putranya Orhan (r. 1324-c. 1359) adalah pemimpin militer yang mampu secara pribadi memimpin pasukan mereka ke dalam pertempuran. Kedua diperluas Ottoman wilayah dan, dengan penaklukan Gallipoli, Orhan diperpanjang tanah Ottoman ke Eropa.
Pertempuran Kosovo
Murad I (r. 1360-1389) mengambil gelar sultan dan melanjutkan ekspansi Ottoman ke Balkan dan Anatolia, mengambil Adrianople dan Ankara. Kemenangan Ottoman lanjut berkurang wilayah yang dikuasai oleh Kekaisaran Bizantium. Kemenangan Ottoman pada Perang Kosovo tahun 1389 adalah kekalahan besar bagi Serbia dan mulai periode panjang dominasi Ottoman selama sebagian besar Balkan.
Pertama 10 Ottoman sultan adalah orang-orang dari kepribadian yang kuat dengan kemampuan yang luar biasa. Posisi Sultan adalah satu-satunya peran diperuntukkan bagi ahli waris dari rumah Osman, jika tidak, Kekaisaran Ottoman dipupuk mobilitas ke atas yang luar biasa bagi masyarakat yang ditaklukkan, yang bisa, dan sering kali, naik ke tertinggi militer, posisi politik, dan ekonomi dalam kerajaan.
Mengikuti ajaran Islam Ottoman juga toleran terhadap agama minoritas dan sering menikah dengan kelompok-kelompok agama dan etnis yang berbeda dalam kekaisaran. Namun elit berbahasa Turki mendominasi kelas penguasa.
Ottoman simbol
Di Eropa Utsmani awal memerintah dari Edirne (Adrianopel), sedangkan Bursa menjabat sebagai ibukota kekaisaran. Relatif stabilnya pemerintahan Ottoman menarik sarjana dan pedagang ke Bursa. Pedagang dan pengrajin terampil membentuk serikat dari ahki atau koperasi yang memberikan kontribusi bagi kemakmuran ekonomi kekaisaran.
Pengendalian rute perdagangan utama juga finansial menguntungkan Ottoman. Yayasan amal (wakaf) menyediakan layanan sosial yang luas. Suatu sistem hukum Islam dengan qadi terlatih (hakim) memberikan kerangka yudisial keseluruhan untuk kekaisaran.
Di bawah Murad I kepemilikan tanah telah didaftarkan dan pemerintahan yang lebih terpusat muncul. The wazir agung menjabat sebagai menteri kepala dan administrator kunci setelah sultan. Meskipun keluarga suku Turki membenci hilangnya otonomi tradisional mereka, tentara Ottoman dan administrasi yang cukup kuat untuk mencegah pemberontakan besar.
Bayezid I (r. 1.389-1.402) menjadi sultan setelah kematian, Murad ayahnya I, pada Pertempuran Kosovo. Untuk memastikan nya suksesi Bayezid telah membunuh saudaranya, selanjutnya Ottoman sultan sering sanksi pembunuhan saudara atau penjara anggota keluarga untuk mencegah pemberontakan atau divisi atas suksesi. Meskipun Bayezid memenangkan sejumlah pertempuran di Balkan dan Anatolia, ia juga mengadopsi sejumlah Bizantium atau Balkan sosial kebiasaan.
Di bawah kesultanan nya di istana kerajaan mewah muncul. Sultan Ottoman sering menikah non-Turki perempuan. Harem, terdiri dari ibu sultan, istri, istri mantan, dan selir, tumbuh dalam ukuran dan pentingnya. Para ibu dan istri dari para sultan menjadi kekuatan di kanan mereka sendiri dan sering tertarik untuk mengamankan suksesi putra favorit mereka ke kesultanan tersebut.
Pertempuran Varna
Timurlane (Tamerlane) menghentikan ekspansi Ottoman teritorial. Pada Pertempuran Ankara tahun 1402 ia ditangkap Bayezid dan kemudian telah membuatnya terbunuh. Timurlane dipotong-potong wilayah Ottoman, membagi di antara penguasa yang terpisah.
Namun, setelah perjuangan dengan saudara-saudaranya, Mehmed I (r. 1413-1421) memimpin kebangkitan yang luar biasa dari kerajaan, yang muncul lebih kuat dan lebih kuat daripada sebelumnya. Murad II (r. 1421-1444, 1446-1451) melanjutkan ekspansi dan kontrol atas Balkan dan pindah ke Hungaria. Meskipun ia mengepung Konstantinopel ia gagal merebut kota itu.
Kemenangan di 1444 pada Pertempuran Varna menandai konsolidasi kekuasaan Ottoman selama Balkan. Dalam satu dekade Utsmani akan mencapai kemenangan akhir atas Kekaisaran Bizantium gagal.









