Tampilkan postingan dengan label sejarah eropa barat abad pertengahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah eropa barat abad pertengahan. Tampilkan semua postingan

PENEMUAN-PENEMUAN DAN TEKNOLOGI ABAD PERTENGAHAN

Posted by Unknown On Selasa, 30 Oktober 2012 8 komentar
PENEMUAN-PENEMUAN DAN TEKNOLOGI ABAD PERTENGAHAN

Abad pertengahan teryata menghasilkan banyak kontribusi yang berarti bagi sejarah teknologi. Bangsa Eropa Abad Pertengahan tidak hanya mewarisi metode-metode pembuatan alat-alat dan perlengkapan mekanis dari zaman klasik, tetapi juga mampu mengembangkanya. Pada abad pertengahan ini menunjukan bahwa pengembangan teknologi pada abad-abad tersebut ternyata merupakan basis bagi perkembangan teknologi modern.

Teknologi Awal Abad Pertengahan

Sebagian besar alat-alat yang dipergunakan selama abad pertengahan memang merupakan warisan dari bangsa Yunani dan Romawi. Karena langsung mewarisi sistem pertanian Romawi, teknologi pertanian awal abad pertengahan masih menerapkan alat-alat kuno, seperti cangkul, sabit pemangkas, ember, gunting bulu domba, bajak, sekop, kereta, grobak, arit, sabit besar, pengerik biji-bijian, gandar, alat pemangkas anggur, alat pemeras sari buah apel dan batu gerinda. Namun pada periode ini juga terjadi sejumlah penemuan yang berarti, yakni sanggurdi dan leher kuda. Garu atau penyisir tanah juga merupakan penamuan awal abad pertengahan, satu penemuan yang cukup monumental dalam sejarah teknologi pertanian.

Dalam teknologi pertukanagan, boleh dikatakan tidak terjadi penemuan baru. Alat-alat tukang kayu, misalnya seperti palu, gergaji, kapak, beliung, gurdi atau bor, penarah dan pahat, semuanya telah ada sejak zaman Yunani-Romawi. Demikian pula dengan perkakas tukang batu, misalnya seperti tang, dan puputan telah dikenal sejak sebelum masehi. Demikian pula dengan perlengkapan para ahli bedah, misalnya seperti gunting tang, pisau bedah dan sebagainya.

Alat Giling Model Awal

Salah satu dari semua penemuan terpenting adalah alat giling. Penemuan ini merupakan penerapan prinsip gerak roda penggilingan biji padi-padian, penggilingan kuno belum menggunakan roda. Alat semacam ini ternyata dikenal dalam setiap masyarakat selama Zaman Batu Baru dan Perunggu.

Alat giling temuan akhir abad klasik digerakan dengan kincir air. Alat ini berupa kinciran dengan tangkai kayu ek pada satu sisi dan batu gerinda pada sisi lainya. Alat giling temuan bangsa Yunani-Romawi ini belum lazim digunakan di Eropa Utara pada abad-abad awal Masehi. Dalam model baru gerak batu gerindanya tergantung pada gerigi roda. Tangkai tempat pemukul diikatkan menggerakan kinciran bergerigi yang diikatkan pada tangkai, yang pada giliranya menggerakan batu gerinda.

Tumbuhnya perdagangan, kota-kota, dan penduduk perkotaan yang luar biasa selama abad X dan XI mendorong timbulnya berbagai perubahan teknologis. Dalam teknik penggilingan biji-bijian setidak-tidaknya telah terjadi dua modifikasi. Yang pertama adalah alat giling yang digerakan dengan angin, satu teknik dikembangkan di Persia. Yang kedua adalah penggilingan yang digerakan dengan kuda. Namun, seperti apa alat-alat giling yang telah di modifikasikan itu, sulit dipastikan.

Penenunan

Penenunan sudah dikenal sejak Zaman Batu Baru. Dalam penenunan kain dipergunakan dua set serat atau akar yang seperti benang. Kedua serat yang membentang sepanjang panjangnya kain itu disebut warp (pelengkung). Sedangkan alat yang mengulurkan pelengkung secara bolak-balik itu disebut woof (pakan). Pada mulanya perkakas tenun ini amatlah sederhana. Namun, selama zaman Yunani-Romawi terjadi usaha modifikasi, yang kemudian diwarisi bangsa Eropa abad pertengahan. Perkakas tenun yang sudah dimodifikasi ini berupa silinder kayu tempat ujung-ujung pelengkung diikatan, batang pelepas yang merentangkan pelengkung, tali-taliyang dirancang untuk mengendalikan benang-benang pelengkung, tali-tali yang dirancang untuk mengendalikan benang-benang pelengkung kumparan yang membolak-balik pakan, dan buluh atau sejenis bambu untuk mengangkat pelengkung. Perkakas tenun semacam ini lazim dikenal selama zaman Romawi.

Pemintalan

Proses pemintalan sama tuanya dengan penenmuan proses penenunan. Tongkat (pendek) tempat wol atau rami digulungkan ditahan dengan tangan kiri. Benang yang dipilin diikatkan pada gelondong tongkat kayu yang panjangnya sekitar satu kaki dan kedua ujungnya dibuat runcing dan salah satunya untuk pengait.
Cara merajut seperti ini lazim dilakukan pada abad pertengahan dan kini boleh jadi masih dipraktekan di negara-negara Balkan. Perlengkapan semacam ini lazim dikenal menjelang tahun 1300. Dan dalam perkembangan selanjutnya mengalami berbagai modifikasi.

Kompas dan Cross-staff


Navigasi mengalami perkembangan yang cukup berarti pada Abad Pertengahan. Sejak zaman kuno, para pelaut telah terbiasa mengatur peleyaran mereka dengan mendasarkan diri pada letak bintang-bintang. Setelah tahun 1300 para pelaut mulai lebih menyandarkan diri pada kompas, daripada mengamati letak bintang-bintang. Penemuan Kompas ini kemungkinan ditemukan oleh orang Cina.

Pengembangan kompas ditentukan sekali oleh penemuan daya magnetisitu, yakni jika salah satu ujung sebuah jarum, yang diikatkan pada gabus yang mengapung di air, di gosokan pada besi magnetis ujungnya yang bermagnet menunjukan utara, ujung lainnya selatan.

Walaupun penemuan kompas ini menandai suatu langkah maju dalam perkembangan navigasi ilmiah, para pelaut ternyata tidak meninggalkan sama sekali kebiasaan melihat bintang kutub untuk memastikan posisi mereka. Cross-staff, yakni alat lazim dipergunakan pada masa-masa akhir Abad Pertengahan, lebih memungkinkan para pelaut untuk mengetahui ketepatan posisi mereka jika telah jauh dari daratan.

Astrolabe dan Armillary Sphere


Astrolable telah digunakan sejak zaman Yunani kuno. Seperti cross-staff , alat ini digunakan untuk mengetahui ketinggian bintang-bintang. Astrolabe berbentuk lempengan tembaga yang bulat yang dibagi ke dalam 360 derajat. Sebuah penunjuk, yang dilengkapi dengan sasarannya serta diikatkan di tengah.

Perkapalan

Perkapalan terus mengalami perkembangan selama Abad Pertengahan. Sampan dan kapal-kapal besar telah ada di kawasan Laut Tengah jauh sebelum zaman Homerus. Selama zaman Yunan-Romawi, kapal dibuat lebih besar, cepat, dan mewah, kapal juga dilengkapi dengan menara tempur kecil baik di bagian depan maupun butirannya. Hal ini dimaksudkan untuk menangkal bahaya serangan para bajak laut.

Para pembuat kapal pada akhir abad pertengahan mengembangkan terus, mampu menghasilkan kapal yang lebih besar lagi, dan yang kemudian digunakan oleh orang-orang seperti Vasco de Gama, Magellan, Columbus untuk mengarungi dunia.

Busur

Salah satu senjata para prajurit abad pertengahan adalah busur. Senjata ini sebenarnya juga sudah digunakan para prajurit Romawi. Pada abbad pertengahan telah mengalami berbagai modifikasi. Slah satu modifikasi yang penting adalah dotemukannya alat penembak busur sebelum abad XI. Dengan crossbow ini, busur atau anak panah secara horizontal dipasang pada sebilah kayu yang panjangnya beberapa kaki.

Busur panjang Inggris merupakan suatu penemuan luar biasa, busur panjang ini memiliki keunggulan dibandingkan crossbow yakni dapat dipasang sewaktu-waktu, dua keunggulan lainnya adalah bahwa busur panjang mempunyai daya lesat atau kecepatan yang lebih tinggi, sehingga bisa menimbulkan efek yang lebih parah pada pihak yang terkena.

Artileri

Para komandan militer abad pertengahan memiliki berbagai jenis persenjataan warisan artileri Yunani-Romawi. Yang paling sederhana adalah ketapel, semacam alat pelembar batu. Senjata lainnya adalah ballista, yang bentuknya agak mirip crossbow yang besar. Senjata lainnya adalah trebuchet, yang ukurannya yang bentuknya seperti ketapel, tetapi mampu melempar batu dengan ukuran besar.

Baju Baja (Zirah)

Para perajin abad pertengahan memiliki kejelian yang lumayan dalam menyempurnakan zirah atau baju baja. Para prajurit abad pertengahan tubuh mereka dilindungi dengan zirah, yang memanjang dari leher hingga atas lutut, menutupi lengan dan siku, dan terbelah di bagian depan dan belakang sehingga pemakainya masih memungkinkan untuk naik kuda.

Senjata Api

Penemuan dan penyempurnaan senjata api menjadi faktor yang sangat berarti dalam kehidupan bangsa Eropa selama Abad Pertengahan. Pada mulanya peluru meriam dibuat dari batu, dan pembuatnya adalah tukang batu. Ukurannya tidak mungkin dibuat sama. Demikian pula dengan senjata api laras besar yang terbuat dari lempengan-lempengan baja. Tetapi secara bertahap pembuat senjata api ini semakin mampu membikin merian yang lebih sempurna. Meriam hasil pembuatan akhir Abad Pertengahan mampu meruntuhkan tembok kastil yang paling kuat sekalipun.

Senjata lars tangan pada mulanya juga sangat tidak akurat. Menjelang tahun 1500 senjata laras tangan ini diperlengkapi dengan kokang yang menarik deretan yang ditembakan dengan pelatuknya. Senjata semacam ini disebut matchlock. Para bangsawan, yang dulu dapat mengamankan dirinya dengan berlindung dibalik tembok tebal kasti-kastil mereka, ini tak dapat lagi menikmati suatu perlindungan yang memadai. Kemiliteran mereka mulai merosot, prajurit yang berbaju besi sekalipun dapat tewas oleh prajurit api laras tangan yang ditembakkan oleh pasukan infantri.

Khronometer (Pengukuran Waktu)

Sebelum zaman Romawi-Yunani manusia sudah mengenal semacam alat penunjuk waktu dengan bantuan bayangan sinar matahari serta apa yang disebut jam pasir, yang lazim digunakan bahkan hingga tahun 1800. bangsa Yunani kuno telah mengembangkkan apa yang disebut clepsydra atau jam air.
Perkembangan jam mekanis merupakan hal yang penting dalam sejarah peradaban. Jam adalah alat yang terdiri dari serangkaian roda-roda kecil yang digerakkan oleh pegas atau batu, yang dilengkapi dengan alat pengukur dan penunjuk waktu. Inovasi besar dalam pembuatan jam terjadi sekitar tahun 1500 yakni ketika Peter Henlein dari Nuremberg membuat jam ini atau yang disebut arloji.

Percetakan dan Kertas

Percatakan termasuk penemuan besar pada akhir Abad Pertengahan. Di Athena, Alexandria dan Roma orang-orang yang pandai menulis rapi melakukan penyalinan karya-karya besar. Dengan penyalinan yang sedemikian ini harga buku menjadi mahal, sehingga hanya beberapa segelintir orang yang bisa mendapatkan buku.

Hampir sepanjang Abad Pertengahan orang mengunakan kertas yang berbahan dari kulit binatang, untuk membuat naskah-naskah. Menjelang akhir Abad Pertengahan, kertas digeser menjadi menggunakan perkamen. Puncak keberhasilan inovasi atau bahkan penemuan adalah nerhasil dicetaknya injil 36 baris pada tahun 1455. dengan demikian penemuan mesin cetak ini berjasa besar dalam penyebaran ide-ide. Penemuain mesin cetak ini menandai akhir Abad Pertengahan dan awal Zaman Baru dalam sejarah intelektual.

READ MORE

MONARKHI SENTRALISTIS : AKHIR FEODALISME

Posted by Unknown On Selasa, 28 Agustus 2012 5 komentar

Raja-Raja Awal Abad Pertengahan

         Ketika sektor agraria didominasi oleh masyarakat Eropa barat dan utara,bentuk pemerintahannya secara khas ditandai dengan hadirnya ekonomi pedesaan.Stratifikasi masyarakat dibagi menjadi 2 kelas yaitu petani dan tuan tanah.Petani bertugas untuk menggarap tanah sedangkan tuan tanah bertugas memilki tanah dan mengatur tanah itu.

          Selama paroh pertama Abad Pertengahan,pemerintahan masih bersifat personal.Para penguasa itu sendiri yang mengatur segala urusan kerajaan atau mengawasi orang-orang yang mereka angkat untuk menangani segala urusan itu..Seorang penguasa ,selain mengawasi pengelolaaan tanahnya,juga mengawasi pengaturan pasukannya,mengawasi pemerintahannya,menangani rumah tangganya,menjamu para utusan dari penguasa lain,menangani urusan peradilan.Bisa dikatakan penguasa pada saat itu sangat sibuk untuk menangani semua urusan Negara.Pada zaman feodalisme ,seorang penguasa yang malasdan tidak cakap tidak akan mampu mempertahankan kekuasaanya.
Metode-Metode Baru dalam Pemerintahan

         Metode baru pemerintahan yang bekembang sesudah abad XI memilki arti yang cukup penting.Dalam masa-masa itulah tumbuh benih yang dalam perkembangannya menjadi basis permanen pemerintahan modern.Praktek menyerahkan segala urusan public kepada para pejabat istana mulai ditinggalkan.Jabatan–jabatan seperti pengurus rumah tangga,kepala pelyan,marsekal,dan polisi istana mulai dilepaskan.Sedangkan jabatan seperti sekretaris istana tetap dipertahankan,dan bahkan menjadi jabatan ang lebih penting.Tugas sebagai polisi istana dan marsekal dalam perkembangannya lebih bersifat kemiliteran.Organisasi pemerintahan model baru ini dinamakan feodal,yang merupakan adaptasi terhadap perkembangan kondisi yang ada pada masyarakat,yang muncul sesudah disintregasi Negara bentukan dinasti Karoling selama abad IX dsn X.

Curia Regis

         Para bangsawan tinggi kerajaan ,termasuk para uskup dan kepala biara,membentuk suatu dewan penasihat raja yang dinamakan curia regis. Curia Regis ini hanya berkumpul jika raja membutuhkannya.Anggota dewan ini terus berubah dan dewan ini tidak bekerja secara terus menerus.Para adipati (dukes) dan pangeran (count) juga memilki dewan penasihat semacam ini.Dewan paenasihat adipati disebut curia duris,dan dewan penasihat pangeran dinamakan curia comitis.Fungsi curia yaitu menangani masalah- masalah yang timbul diantara para vassal dan antara raja dengan para vassalnya.
Para Pejabat Lokal

          Pada masa itu belum dikenal adanya pemerintahan local atau daerah  sebab manor merupakan suatu pemerintahan yang swapraja,dan para vassal mengelola tanah dalam kekuasaan mereka sesuai dengan adat yang berlaku.Oleh karena seorang raja tidak mampu menjangkau daerah yang dikuasai oleh  manor,maka raja telah memilki wakil untuk setiap manor .Kalau di Prancis dinamakan prevot.Para wakil itu direkrut dari kelompok bangsawan tinggi dan vassal-vassal yang dekat dengan istana.Kelemahan utama system perwakilan raja ini adalah para prevot cenderung ingin mewariskan penguasaanya atas tanah feudal kepada anak laki-laki mereka.

          Sebagai reaksi akibat meosotnya para prevot itu ,Raja Phillip II,yang berkuasa di Prancisdari tahun 1180 hingga 1233,menempatkan pejabat-pejabat baru yang bertugas mengawasi dan memantau tindak tanduk para prevot itu.Pejabat baru itu disebut bailiff ( juru sita).Meraka berasal dari golongan rakyat biasa.


Organ-organ Pemerintahan Pusat
        
          Bagi seorang raja ternyata merupakan beban yang berat jika setiap kali melakukan peninjauan ke daerah ia harus diiringi semua pejabat istana. Hal ini terutama sangat dirasakan oleh  raja yang aktif mengawasi urusan kerajaan secara lebih dekat dan terus-menerus menghadapi urusan pemerintahan yang cenderung bertambah. Dari sinilah muncul suatu kebutuhan untuk menempatkan para bendaharawan kerajaan di tempat-tempat tertentu, sehingga orang tahu kemana mereka harus menyerahkan upeti. System semacam in terutama dipraktekkan oleh pemerintah Inggris.
Peradilan Feodal

           Seiring  waktu berjalan,seorang raja digunakan untuk menangani masalah – masalah peradilan.Jika ada waktu,seorang raja akan mendengarkan  semua jenis kasus dari para curia regis.Jika tidak,curia regis ditunjuk untuk menangani kasus – kasus itu.Di Prancis,dewan komite semacam itu disebut Parlement,yang kemudian menjadi sebuah badan permanen di Paris.
Lembaga Perwakilan

            Perwakilan merupakan hal yang prinsipil dalam pemerintahan feodal .Inilah awal munculnya Parlemen Inggris,yang kemudian dikemabangkan dalam system representasi pemerintahan modern,terutama abad XVIII dan XIX. Akan tetapi representasi atau lembaga perwakilan pada Abad Pertengahan, tidak seperti pada masa kini, adalah persoalan kelas, atau golongan. Suatu golongan merupakan suatu kelas sosial dan politik yang disatukan oleh ikatan-ikatan tertentu dan terpisah dari rakyat kebanyakan. Golongan pertama, adalah para pejabat gereja, yang bukan hanya menjadi pemimpin agama tetapi sekaligus juga tuan tanah besar. Golongan kedua, adalah para bangsawan, yang menjadi tuan tanah besar dan biasanya kaum ningrat.Setelah abad X, dengan bangkitnya kembali perdagangan dan industri, muncullah golongan ketiga, yang terdiri dari kelas menengah baru, yakni para pedagang dan pabrikan (manufacturer).
Awal Pemerintahan Birokratis


           Ada satu perbedaan yang mendasar antara pemerintahan abad pertengahan dengan modern. Pada masa dinasti Karoling dan awal feodalisme, administrasi kerajaan masih terbatas, dan raja tidak membutuhkan pegawai dalam jumlah yang besar. Sementara negara modern, untuk menjalankan roda pemerintahannya secara efektif, telah mengembangkan anggota biro dalam jumlah yang besar, yang dibagi ke dalam departemen-departemen, dan masing-masing menangani sekelompok persoalan tertentu dengan aparatnya yang tidak sedikit. Oleh karena itu pemerintahan modern bersifat “ birokratis”, dalam arti segala persoalan ditangani biro-biro. Pemerintahan birokratis mulai tampak pada akhir Abad Pertengahan, terutama sesudah tahun 1200.

Imperium Romawi Suci

          Imperium Romawi Suci, sejarah negara yang cukup sulit dipahami. Sepanjang Abad Pertengahan berkembang suatu pandangan yang dominan bahwa semua pemerintahan diselenggarakan oleh Tuhan. Para penggagas masalah-masalah politik abad pertengahan ini umumnya mengajarkan bahwa kekaisaran diadakan oleh Tuhan untuk mengatasi segala bentuk kekerasan dan menegakkan kedamaian. Selain mendirikan Kekaisaran, Tuhan juga telah membangun gereja untuk menyelamatkan umat manusia.


          Keanggotaan identik : fungsi agama dan politik terpisah tetapi dalam banyak hal tumpang-tindih sehingga sering timbulkan konflik. Lebih jauh, paus dan raja terlibat pertikaian tentang hal-hal yang menyangkut kontrol atas kependetaan, perpajakan gereja, masalah perceraian, perampasan kekayaan gereja.
          Masalah-masalah yang menjadi sebab timbulnya pertikaian antara paus dan raja tampak sepele. Zaman Feodal dengan kekuasaan-kekuasaan yang bertumpang tindih secara ruwet telah berlalu. Dengan berlalunya hal itu maka lenyap juga kemungkinan timbulnya pertentangan antara gereja dan Negara.

Hukum

         Dalam pandangan para filsuf skolastik, tugas negara adalah untuk menjaga tatanan moral dengan menegakkan ‘keadilan’. Hal ini (diharapkan) akan membawa ‘kesamaan’ bagi warganya. Jadi, keadilan dan kesamaan merupakan tujuan semua hukum, entah itu hukum yang berakar pada adat manorial, adat feodal, hukum rakyat Inggris, atau ketentuan-ketentuan dalam komunitas-komunitas. Konsepsi lainnya yang lazim diterima pada Abad Pertengahan, yakni hukum kodrat. Hukum kodrat adalah bagian dari hukum moral yang mengatur relasi sosial manusia. Relasi ini didasarkan atas konsep-konsep dasar moralitas Kristen, yang melarang setiap perbuatan jahat kepada sesama manusia. Hukum tidak boleh melanggar hak-hak manusia. Jika ada hubungan yang melanggar hak-hak manusia, berarti hukum itu tidak legal, bahkan merupakan suatu tirani. Maka seorang raja harus melaksanakan pemerintahannya sesuai dengan prinsip moralitas. Pemerintahannya tidak boleh bertentangan dengan hak-hak kodrati rakyatnya.

         Masa abad pertengahan tak pernah sepenuhnya mewujudkan gagasan-gagasan ideal yang serba bagus. Pengaruh hukum Romawi atas teori politik abad pertengahan menarik untuk kita kaji. Hukum Romawi telah berkembang dalam suatu masyarakat di mana raja atau kaisar memonopoli kontrol atas segala aktivitas politik. Pada Abad Pertengahan, kekuasaan raja atas Negara dan rakyat tidaklah sebesar kekuasaan para kaisar Romawi. Hukum Romawi kuno memberikan contoh-contoh praktis yang bisa mengantarkan mereka untuk menjadi penguasa absolut.

Legitimasi Keagamaan Para Raja

            Ajaran bahwa raja memperoleh kekuasaan langsung dari Tuhan muncul dan berkembang dalam abad-abad terakhir Abad Pertengahan. Teori tentang pemerintahan absolut ini mempunyai pengaruh besar terhadap lahirnya para aristokrat modern seperti Louis XIV. Menurut teori abad pertengahan yang lebih awal, kaisar mendapatkan kekuasaan dari Tuhan. Namun, raja-raja seperti di Inggris dan Prancis tidak mau mengakui kepemimpinan sang kaisar. Sebab, mereka mengklaim, mereka juga menerima kekuasaan dari Tuhan, dan tidak ada raja yang lebih tinggi di bumi ini. Yang ternyata efektif dalam masa-masa akhir Abad Pertengahan. Dengan klaim ini kekuasaan raja semakin kuat. Sebab, kekuasaan itu didasarkan atas legitimasi keagamaan. Di pihak lain, kekuasaan para vassal kian melemah. Dan inilah awal tersapunya dasar-dasar feodalisme lama.

            Pada Abad Pertengahan ketika wacana politik penuh dengan konsepsi-konsepsi ideal sebagaimana disebutkan di atas, realitas politik praktis sangat diwarnai berbagai macam peperangan yang brutal serta ketidakadilan politis yang merajalela.

READ MORE

SENI ABAD PERTENGAHAN

Posted by Unknown On Rabu, 01 Agustus 2012 3 komentar
Arsitekturdari 313 sampai dengan 1000
Sejarah arsitektur gereja abad pertengahan dimulai pada tahun 313 saat ketika   agama Kristen dinyatakan sebagai agama yang legal.
Setelah Terbebas dari penyiksaan, umat Kristen mulai membangun basilika. Basilika paling bagus dan besar adalah Gereja St. Sophia di Konstantinopel, yang memiliki gaya khas Byzantium. Gaya Byzantium tersebut dalam perkembangan selanjutnya berpengaruh ke daerah-daerah dunia Muslim. Arsitektur Masjid sangat dipengaruhi oleh gaya Byzantium itu. Salah satunya adalah masjid Umar di Yarusalem. Para arsitek di luar Konstantinopel juga mencoba memodifikasikan gaya Byzantium. Salah satu contoh adalah Gereja San Vitale, di Ravena, Italia Utara. Kapel ini semula dimaksudkan untuk mausoleum Karel Agung

Periode Abad Gelap
Selama abad gelap, di Eropa Barat tidak ada gaya khas yang berkembang. Mundurnya peradaban Romawi berakibat pada melemahnya upaya pengembangan gaya arsitektur orisinal. Kaum barbar, baik Jerman, Slav, maupun Finno-Ugria, paling banter hanya bisa membuat imitasi gaya arsitektur Romawi Barat yang tengah merosot itu.
Periode Romanesque
Istilah ini mengacu pada seni yang berkembang di Eropa barat dari sekitar tahun 1000 hingga 1200. Gereja-gereja yang dibangun dengan gaya baru di segala penjuru Eropa barat mengingatkan kembali pada basilika-basilika yang dibangun di Roma pada abad IV, V, dan VI. Itulah sebabnya maka gaya baru ini disebut Romansque.  Salah satu gereja gaya Romanesque yang terkenal adalah katedral Pisa, yang selesai dibangun pada 1093. Contoh lain dari bangunan gaya Romanesque yang perlu dicatat adalah gereja biara Cluny. Gereja ini diresmikan pada 1131. Gereja Cluny merupakan gereja yanh sangat besar dan megah.


Arsitektur Gothik
Istilah gothik mengacu pada seni –arsitektur, lukis, dan pahat – tiga abad terakhir zaman pertengahan. Istilah ini berasal dari para penulis akhir Abad Pertengahan yang lebih menaruh perhatian pada kebudayaan Yunani-Romawi daripada kebudayaan abad pertengahan sendiri. Arsitektur gothik adalah kreasi para genius abad pertengahan. Sebagai gaya dalam seni, gaya Gothik ini adalah lebih baik jika diperbandingkan dengan gaya-gaya lainnya. Pengaruh arsitektur Gothik lebih luas daripada gaya Romanesque. Perbedaan utama antara gaya ini adalah bahwa gaya Gothik serba lancip, sedangkan Romanesque serba bundar.  Arsitektur Gothik pertama-tama berkembang di Prancis tengah, terutama di daerah sekitar Paris. Abad XIII merupakan puncak perkembangan arsitektur Gothik . selama masa pemerintahan Raja Louis IX (1226-1270) bermunculanlah karya-karya besar seperti katedral-katedral di Reims, Amiens, Paris, Beauvais, dan yang terbagus adalah katedral Sainte Chapelle, yang berhadapan dengan Notre Dame di Paris. Meskipun arsitektur Gothik pada mulanya muncul di sekitar Paris, ini tidak berarti bahwa gaya ini semata-mata milik Prancis. Arsitektur ini tetap dianggap sebagai hasil dari semangat Kristianitas, karena kristen merupakan agama yang merambah seluruh kawasan Eropa barat.

Dekorasi Gothik
Ide-ide Gothik bukan hanya tampak pada gaya arsitektur, tetapi juga pada dekorasi seni patung, lukis, hiasan, serta pada setiap bentuk seni kerajinan, termasuk kerajinan yang terbuat dari besi. Motif atau corak dekorasi yang mengandung pesan ajaran kristen. Telah lama gereja menampakkan imaji-imaji tentang Allah Bapa, Kristus, Perawan Maria, para tokoh suci serta malaikat. Penampakan imaji-imaji itu dimaksudkan untuk mendorong semangat keagamaan umat Kristen.
Seni Pahat: Romanesque dan Gothik
Pahatan menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Kristus serta para santo banyak dijumpai di gereja-gereja. Selama masa Romanesque penggambaran peristiwa-peristiwa tersebut kurang tampak hidup. Hasilnya, seni pahat Romanesque tidak tampak naturalistik. Lain halnya dengan para pemahat Gothik. Sebelum memahat, mereka pahat secara cermat dan naturalistik. Mereka amati kedetilan lekuk-lekuk anatominya. Barulah mereka mulai memahat. Satu hal yang khas dalam seni pahat Gothik adalah penampilannya yang kaku.
Seni Lukis
Tembok yang rata biasnya dihiasi dengan fresco – gambar yang dilukis dengan air kapur berwarna yang dipakai pada gips yang basah, sesuai dengan sketsa karbon yang telah dirancang.  Bentuk lukisan terbaik sebelum tahun 1300 adalah karya para miniaturis. Para miniaturis Irlandia terkenal sebagai ilustator yang piawai, yang membuat hiasan-hiasan yang begitu indah dan kompleks pada buku-buku para biarawan. Karya-karya mereka mencapai puncak perkembangannya selama periode Gothik.
Seni Lukis Italia
Karena gaya Gothik merupakan produk Eropa utara, pengaruhnya tidak begitu kuat di Italia. Para seniman Italia cenderung tetap mempertahankan metode-metode dan konsepsi-konsepsi lama, yang disebut Greek (Yunani) atau Byzantine (Byzantium). Sama seperti para penganut naturalisme Gothik, para seniman Italia pada mulanya juga lebih senang menciptakan lukisan-lukisan tentang alam, seperti binatang, tumbuhan, bunga, dan sebagainya. Oleh karena itu ketika mereka harus membuat lukisan tentang manusia, hasilnya tampak kaku, dan tidak riil. Dengan kata lain, mereka bersikap tradisional. Para seniman Italia yang pertama-tama menunjukkan perubahan sikap terhadap komposisi warna, anatomo, pencahayaan, bayangan, dan animasi adalah Cimabue (1302) dan muridnya, Giotto (1336) mereka adalah seniman Florence (Firenze). Karya terbesar Giotto dapat kita lihat di Arena Chapel katedral Padua dan Bardi Chapel Gereja Santa Croce di Florence. Para pelukis sesudah Giotto cenderung sebagai epigon-epigonnya. Mereka hanya bisa mengikuti model-model yang telah dirintis Giotto, tetapi tak mampu menandinginya.


Seni Pahat Italia
Seni pahat, seperti halnya seni lukis, mengalami serangkaian perubahanyang sangat berarti dalam abad XIV. Sebelum tahun 1300, pahatan-pahatan yang menggambarkan manusi tampak kaku. Karya-karya itu sebagian besar adalah hasil kerja para seniman penganut model Yunani.  Ayah dan anaknya yang bernama Niccola dan Giovanni Pisano menghasilkan pahatan-pahatan pada mimbar besar di katedral-katedral di Pisa, Siena, dan Pistoia. Karya-karya ini sudah menunjukkan semangat Gothik. Giotto, selaim pelukis, adalah juga pemahat. Pengaruhnya dalam dunia seni pahat tidak kalah besarnya dengan pengaruhnya dalam dunia seni rupa. Ketenaranya antara lain karena karya-karya pahatannya pada panel-panel rendah, yang ia rancang untuk menghiasi menara lonceng Gereja Santa Maria dan Katedral Florence. Panel-panel karya Giotto tersebut tampak sederhana. Tetapi justru karena itu, karya-karya tersebut mengundang banyak perhatian. Dan sejak saat itulah para pemahat meninggalkan metode penggambaran yang serba semarak.
Seni Lukis Flanders
Di Eropa Utara, perintis inovasi dalam dynia seni Lukis adalah para seniman Flanders.  Hubert dan Jan van Eyck bersaudara menunjukkan inovasi itu pada karya-karya miniatur mereka yang menjadi ilustrasi pada buku-buku agama. Inovasi lainnya yang dipelopori Van Eyck bersaudara ini adalah penggunaan cat minyak dalam melukis. Kapan tepatnya perintisan inovasi ini dimulai sebenarnya masih kabur. Setelah Van Eyck bersaudara, pelukis lainnya yang perlu dicatat adlah Rogier van der Weyden (1464). Ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menggambarkan insiden-insiden dramatis, dan mampu membangkitkan emosi yang pedih. Seniman lukis Flanders lainnya lagi yang perlu dicatat adalah Hans Memling (1494. Ia berasal dari Bruges. Ciri khas dari karyanya adlah sentuhan yang halus dan sentimentil.
Seni Pahat Flanders
Seni pahat Flanders, seperti halnya seni lukisnya, mencapai puncak perkembangannya pada awal abad XV. Ciri khas yang menonjol yang dapat kita amati dalam karya-karya besar yang ada adalah mencuatnya gagasan-gagasan naturalisme, idealisme religius, dan corak penderitaan yang pedih. Seniman pahat Flanders yang terkemuka adalah Claus Sluter, yang berkerja pada istana Duke Philipe di Burgundia. Sluter ditugasi untuk mendekorasi biara Carthuisan di Champmol, dekat Dijon, yang dipersembahkan sebagai mausoleum para pangeran Burgandia.
Seni Musik Abad Pertengahan
Seperti halnya dengan seni lukis, pahat, dan arsitektur, seni musik abad pertengahan diabadikan untuk gereja. Lagu-lagu dan tari-tarian rakyat sudah barang tentu tetap ada. Namun, karena sebagian besar bukti karya-karya populer itu sudah lenyap, maka kita tidak dapat merekontruksikannya dengan baik. Bahkan musik Yunani dam Romawi telah dilupakan orang. Kreasi seni seorang seniman musik cenderung dilupakan begitu sang seniman tiada. Apalagi seni musik kuno, entah Yahudi, dan Romawi, yidak tertulis, sehingga cepat hilang. Demikian jugalah seni musik populer atau seni musik rakyat abad pertengahan. Meskipun begitu kita tidak boleh berasumsi bahwa abad pertengahan tidak mengenal musik rakyat semacam itu, hanya kaarenaa bukti-bukti historis yang kita dapatkan semata-mata berkaitan dengan musik gereja.  Liturgi atau kebangkitan gereja banyak menggunakan musik. Pada mulanya para pemimpin gereja tidak suka menggunakan musik dalam kebangkitan keagamaan. Alasan utamanya adalah karena musik telah menjadi bagian dalam ritus-ritus kaum kafir, pertunjukan-pertunjukan gladiator, maupun hiburan-hiburan tak bermorak dalam masyarakat kafir.  Namun, meski betapa kerasnya sikap para pemimpin gereja, secara perlahan-lahan musik menyelinap masuk ke dalam gereja. Inovasi dalam seni musik banyak bermunculan saat puncak abad pertengahan tiba. Guido d’Arezzo (1050) melengkapi sistem notasi yang telah dikembangkan pada masa itu. Ia menggunakan lima garis paralel yang di atasnya terdapat not-not balok untuk menandai pola titinada. Organ adalah alat musik yang paling penting dalam abad pertengahan. Alat musik ini telah diketemukan jauh sebelumnya. Selain alat musik tiup, alat musik bersenar juga digunakan. Oarang Yunani kuno telah mengenal alat musik bersenar yang disebut cithara. Alat ini dimainkan dengan jari.


Begitu banyak aspek kehidupan akhir abad pertengahan yang menjadi sumber inspirasinya para seniman Gothik. Dan begitu eratnya kaitan antara kreasi-kreasi kesenimanan mereka dengan apa yang menjadi puncak-puncak peradaban Abad pertengahan, sehingga periode ini kemudian lazim disebut  Zaman Gothik
READ MORE

KEBUDAYAAN YANG BERINSPIRASIKAN AGAMA

Posted by Unknown On Senin, 23 Juli 2012 0 komentar


“Sebelum seseorang melakukan studi tentang suatu organisme, mengestimasi nilainya, atau bahkan memahaminya, ia harus tahu untuk apa segalanya itu.”
(A.D. Sertillanges)

Tidak ada institusi pada abad pertengahan yang pengaruhnya sebesar pengaruh gereja Kristen. Semua orang yang dibabtis dengan sendirinya menjadi jemaah gereja, dan hampir semua orang yang telah dibabtis terlahir karena orang tuanya yang telah memeluk agama Kristen. Gereja senantiasa mengumandangkan kepastian kehidupan absolut tetang kehidupan abadi manusia. Gereja mengajarkan suatu sistem moral yang mengikat dalam setiap relasi manusia. Aktifitas intelektual tidak dapat dilepaskan dari kehidupan gereja karena, gerejalah yang mengembangkan teologi, filsafat, etika, kesusastraan dan seni.

Apakah gereja itu?

            Gereja adalah persekutuan semua umat manusia yang mengakui Kristus, mengikuti sakramen, dan yang berada di bawah gembala para pendeta, yang secara sah menjadi wakil san pemimpin di dunia, yakni Paus.

Organisasi Gereja

            Organisasi gereja pada dasarnya bersifat monarkhis. Gereja bereda di dalam uslup Roma, yang memiliki otoritas begitu besar kerena dialah pemegang kuasa kunci-kunci. Organisasi gereja juga bersifat hierarkhis, dengan Paus sebagai pucuk pimpinan dan pendeta jemaah atau pendeta lokal sebagai pimpinan yang paling bawah.
            Kata papacy  (kepausan) biasanya diterapkan pada Paus dan pembantu-pembantunya, para kardinal dan pejabat didepartemen –departemen istana kepausan Roma. Pemerintahan, gereja yang mencangkup wilayah Eropa barat dan beberapa bagian di Asia dan Afrika serta Greenland, mengharuskan adanya aktifitas administratuf yang luas.
Berbagai persoalan yang muncul dari aktivitas gereja yang  benar-benar bersifat keagamaan diselesaikan dalam tiga tribunal (pengadilan) berikut ini:
1.      Pengadilan Suci, yang bertugas menangani persoalan-persoalan disipliner seperti pengucilan, pemegatan, dan pemberian dispensasi.
2.      Pengadilan Tinggi Roma, yang bertugas menangani pelanggaran-pelanggaran hukum agama serta kasus-kasus naik banding dipengadilan-pengadilan keuskupan.
3.      Apostolus Signatura ( Pengadilan Kerasulan), yang menangani kasus-kasus naik banding yang muncul dalam Pengadilan Tinggi Roma.

Persoalan lain yang muncul dari aktivitas praktis gereja yang begitu luas diselesaikan dibeberapa departemen.
misalnya:
1.    Dataria (Departemen Personalia), yang menangani rekruitmen calon pemimpin gereja.
2.   Apostolus Chancellaria (Kanselir Kerasulan), yang menerbitkan dokumen-dokumen resmi kepausan sehubungan dengan pengangkatan pejabat gereja dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
3. Apostolus Camera (Kubah Kerasulan), yang menagani keuangan kepausan. Pada abad XIV organisasi ini dibuat lebih sempurna lagi.

Wilayah seorang uskup disebut diocese (keuskupan). Luas wilayah keuskupan sangat beragam. Di kawasan Mediterania misalnya, luas wilayah keuskupan relatif  lebih kecil dari pada di kawasan Eropa Utara.  Masing-masing keuskupan dibagi kedalam beberapa archdeacon (diakon utama) yang menangani persolan-persolan keuskupan yang menyangkut anggota jemaah gereja diwilayahnya. Tempat tinggal uskup yakni diwilayah gereja utama di sebut catedral berasal dari bahasa Latin cathedra yang atinya kursi kata lain yang ledih halus dari mahkota keuskupan. Uskup membawahi para pendeta lokal, dan bertanggung jawab atas semua masalah yang berkaitan bengan persoalan keagamaan anggota jemaah gereja diwilayahnya. seorang uskup memakai cincin, simbol dari perkawinan spiritual dengan gereja, dan membawa tongkat yang merupakan simbol dari karyanya sebagai pastor (penggembala umat).

Parish ( Kongregasi atau jemaah gereja) adalah unit terkecil dalam administrasi gereja. Wilayah Kongregasi ini pun sangat bervariasi. Para pendeta memperolah penghasilan dari tanah gereja  serta potongan sepuluh persen dari setiap penduduk manorial. Tugas keagamaan mereka adalah mengatus sakramen, memberikan khotbah-khotbah keagamaan, dan merawat gereja serta rumah mereka sendiri.
Sakramen



            Kebesaran kekuasaan gereja itu antara lain ditunjukkan dalam sakramen, yang adalah media pedagosis dimana khotbah-khotnah dan perintah-perintah keagamaan disampaikan, sakramen bukan sekedar media penyampai perintah keagamaan, tetapi lebih jauh adalah perwujudan dari persekutuan orang-orang yang beriman.

            Kemujaraban sakramen sudah dianggap pasti, agar mendapatkan kemujaraban sakramen seseorang agar memiliki sikap metal yang benar.

Ada tujuh sekramen yakni:
1.      Pembaptisan
2.      Pengesahan
3.      Penebusan dosa
4.      Ekaristi Suci
5.      Matrimoni (ikatan perkawinan)
6.      Pemberian minyak suci
7.      Orde-orde suci

Pengertian - Pengertian Sakramen:

·         Pembaptisan adalah sakramen pertama dalam kehidupan setiap umat Kristen. Dilakukan beberapa hari sesudah kelahiran, dan lebih awal jika terancam kematian.

·         Sakramen konfirmasi (pengesahan) di ikuti ketika seorang anak telah cukup dewasa untuk memahami ajaran gereja. Untuk menanamkan Roh Kudus, memberikan kekuatan agar si penerima Roh Kudus itu menjadi umat Kristen yang saleh.

·         Sakramen penebusan dosa atau lazim disebut  konfensi, merupakan pengujian terhadap suara hati seseorang. Di uji apakah ia benar-benar merasa menyesal atas dosa yang telah ia perbuat. Sakramen penebusan dosa ini merupakan momentum yang strategis dalam pengaturan kehidupan moral dan keagamaan seseorang
.
·         Ekaristi suci adalah sakramen yang menghadirkan tubuh dan darah kristus, yang disimbolisasikan dengan roti dan anggur. Tujuannya adalah untuk membangun persekutuan spiritual dengan kristus.

·         Matrimoni adalah juga sebuah sakramen. Perkawinan sepasang umat Kristen dianggap tidak sah jika tidak dilaksanakan di dalam gereja.

·         Pemberian minyak suci adalah sakramen terakhir dalam kehidupan setiap umat Kristen. Sudah termasuk konfesi atau penebusan dosa jika yang bersangkutan tidak terlalu sakit.

·         Orde-orde suci adalah sakramen pentahbisan seorang pendeta atau pastor, yang dengan demikian ia memiliki wewenang untuk menyelanggarakan sakramen-sakramen.


Disiplin Gereja

            Gereja sangat menyentuh semua aspek kehidupan di abad pertengahan. Apa yang terjadi pada orang yang menolak disiplin gereja? Ia dikucilkan, dikeluarkan dari persekutuan kaum beriman. Ini merupakan hal yang serius, sebab jika ia meninggal dengan membawa dosa-dosa yang berat sekali, jiwanya akan lenyap. Ini dianggap sebagai hukuman berat, karena anggota keluarganya tidak dapat membantu berbuat apa-apa.


Kependetaan: Sekuler dan Reguler
           
            Kependetaan dibagi kedalam dua kelompok, yakni sekuler dan reguler. Yang pertama, berasal dari bahasa Latin seculum, yang artinya bertugas memberikan kebaktian-kebaktian di dunia, bukan di biara. Mereka inilah yang mengatur penyelenggaraan sakramen, mengelola organisasi gereja, dan mendisiplinkan umat. Pendeta jemaat, uskup uskup agung, kardinal dan Paus adalah termasuk kelompok yang pertama. Sedangkan yang termasuk kelompok yang kedua, yang reguler – bersal dari bahasa Latin regula, yang artinya rule – adalah para biarawan, seperti biarawan ordo St. Benedictus. Mereka inilah para poendeta yang menarik diri dari dunia ramai, yang menjalani suatu kehidupan damai, dan mencurahkan diri hampir sepenuhnya untuk menghayati kehidupan.

Gereja dan Feodalisme

            Organisasi gereja yang begitu rumit, yang memiliki otoritas khusus dalam keimanan, moralitas dan disiplin, dalam abad X dan XI dihadapkan  pada suatu krisis yang gawat ketika masyarakat masih terfeodalisasikan. Hubungan feodal merupakan  hubungan yang rumit dan membingungkan hal ini berakibat pada menggejalanya korupsi, yang merendahkan moralitas para pendeta dan kaum awam, dan mengancam misi keagamaan gereja. Para tuan manor sering melakukan simony, yakni menjual atau membeli jabatan kegerejaan sekedar sebagai kesempatan untuk mencari uang.

            Penyalahgunaan hal lainnya terjadi dalam hal pentahbisan, para bangsawan feodal atau raja selalu berusaha mempengaruhi jalannya pemilihan uskup dan kepala biara.  Setelah, pemilihan usai, para bangsawan feodal atau raja “menobatkan” uskup itu dengan memakaikan cincin dan tongkat sebagai simbol jabatan keuskupan. Dengan munculnya penyimpangan ini, kehidupan keagamaan dan disiplin gereja lalu berada dibawah kontrol raja atau para bangsawan feodal. Hal ini mendapat tantangan keras dari orang yang masih menaruh kepedulian terhadap kemurnian gereja.

            Perkawinan pendeta juga merupakan ancaman yang serius bagi gereja, sejak awal pendeta memang sudah kawin, tetapi sebenarnya gereja menganjurkan kehidupan selibat, agar mereka mencapai kehidupan yang lebih sempurna.




Kongregasi Cluny

            Biara induk cluny di Burgundia didirikan pada tahun 910. Duke William dari Aquitane dan istrinya menyisihkan beberapa bidang tanah untuk membangun biara dan menetapkan bahwa biara itu sepenuhnya dan selamanya berada di bawah perlindungan Kepausan Suci, dan kepala biaranya dipilih secara bebas. Biara baru ini tidak untuk diperjual belikan, dan kepala biaranya tidak ditasbihkan oleh raja. Dari sinilah Cluny menjadi pusat perlawanan yang keras terhadap kebobrokan-kebobrokan masyarakat feodal.

            Pendiri kongregasi ini senantiasa berpesan agar para biarawan itu selalu menjalankan kebajikan lama yang penuh dengan keramah tamahan. Hal ini rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah orang besar untuk mengunjungi Cluny. Tujuan Cluny adalah memuliakan ajaran gereja dalam setiap langkah kehidupan.

            Abad XI menyaksikan kembali awal kehidupan keagamaan, hal ini jelas tidak dapat dipisahkan dari suntikan energi spiritual baru gereja.

            Para biarawan Cluny memang gigih dalam mendorong Truce of God (genjatan Senjata atas Nama Allah) yang melengkapi perdamaian Al-lah. Dengan ketentuan ini dileluarkan larangan berperang mulai dari kamis sore hingga senin pagi. Bagi siapa yang melanggarnya akan mendapat hukuman dikucilkan dan interdiksi.

            Pengaruh biarawan Cluny mulai terasa di banyak daerah, bahkan hingga kepausan Roma. Dari Cluny ini juga muncul pendirian yang tegas bahwa harus dipilih secara bebas, lepas dari para pengaruh penguasa politik. Para kaisar Jermanlah yang sering mencampurtangani pemilihan Paus, dan mendiktekan pilihan mereka. Akhirnya, pada 1059, dikeluarkan dekrit yang mengatur pemilihan paus. Dekrit ini dikeluarkan oleh dewan gereja Roma tanpa berkonsultasi pada dengan  kaisar. Mencegah adanya korupsi dan kekerasan. Dokumen ini ditandatangani oleh delapan uskup dan diaken, menetapkan kolese kardinal, yakni sebuah badan kependetaan yang sejak saat itu hingga kini berperan dalam pemilihan paus.

Perjuangan Pentahbisan

            Kebrobokan-kebrokan yang dapat menghancurkan gereja, misalnya seperti praktek-praktek jual beli jabatan kegerejaan, pentahbisan awam, dan perkawinan para pendeta. Menjadi sasaran kritik serangan Gregorius VII, Paus dari 1073 hingga 1085 berselisih sengit tentang pentahbisan ini dengan kaisar Jerma Henry IV, yang memrintah dari 1056 hingga 1106. Diduga bahwa Gregorius pernah hidup membiara di Cluny. Ia banyak terpengaruh oleh gagasan para biarawan Cluny. Gregorius mendesak agar Henry meninggalkan praktek jual beli jabatan, dan berhenti mencampurtangani pemilihan uskup. Dilain pihak, Henry bersikeras mempertahankan pendapatnya bahwa adalah haknya untuk menjual jabatan, mempengaruhi pemilihan uskup dan mentasbihkan uskup dengan memakaikan cincin serta tongkat yang berfungsi sebagai lambang kekuasaan.

            Gregorius mengungkapkan ide-idenya tentang hubungan antara gereja dan negara, serta asal-usul dari kedua kekuasaan tersebut. Teorinya ini banyak di anut oleh para pemikir abad pertengahan. Di katakan bahwa ada dua kekuasaan di bumi yakni negara dan gereja. Keduanya sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Gereja yang dibangun oleh kristus didirikan untuk mengajarkan tentang keselamatan, karena didrikan untuk melindungi kesejahteraan abadi umat manusia, gereja lebih penting dari pada negara.

            Negara, menurut Gregorius diciptakan karena manusia telah terjatuh dari kesepurnaannya. Negara memang juga diciptakan Tuhan tapi hanya untuk urusan duniawi, yakni mengawasi manusia yang telah bejat akhlaknya. Negara mengandalikan kejahatan manusia, sementara gereja mengembangkan kehidupan akal manusia. Oleh karena itu kehidupan gereja lebih penting dari pada negara, dan kaisar salah besar jika memperjualbelikan jabatan kegerejaan dan melakukan pentahbisan awam.

            Pertikaian merupakan krisis serius dalam bidang politik dan agama. Pertikaian tetap berlanjut setelah kematian Henry IV. Anaknya Henry V (1125) membuat perjanjian dengan Paus Calixtus II, perjanjian ini kemudian dikenal dengan nama “Concordat of Worms of 1122”. Henry menghentikan praktek simoni dan pentahbisan awam. Dilain pihak paus tidak keberatan akan kehadiran kaisar dalam pemilihan uskup dan kepala biara. Pemilihan tiidak boleh siwarnai dengan simoni dan kekerasan. Selanjutnya, setelah pemilihan uskup dan kepala biara menerima tongkat lambang kekuasaan politis dan kekaisaran.


Skisma Yunani

            Gereja dalam perkembangan selanjutnya pecah dalam kedua bagian; di Barat: Latin, Kelt, dan Jerman. Di Timur: Yunani dan Slav. Perpecahan ini dikenal dengan istilah Skisma Yunani. Terjadi pada tahun 1054.
            Telah lama terdapat kesalingpahaman dan perbedaan pendapat antara Roma dan Konstatinopel. Yang disebutkan pertama mewarisi kebudayaan yang bercorak Latin, sedangkan yang kedua bercorak Yunani. Patriarkh Konstatinopel, yang iri kepada Paus di Roma, menyangkal klaim-klaim St. Petrus. Selain itu, antara kedua gereja itu juga terdapat perbedaan-perbedaan dogma. Kesalingpahaman terus menerus terus meningkat, sampai akhirnya datang utusan paus di Konstatinopel dan meletakkan dekrit pengucilan diatas altar gereja Khatolik Roma di Barat, dan gereja Yunani (atau Khatolik Ortodoks) di Timur.

Ordo Carthusian  
            Monarkisme tetap populer sepanjang Abad Pertengahan. Banyak ordo baru bermunculan, yang satu dengan yang lainnya ada perbedaan yang besar. Ordo baru yang pertama adalah ordo Carthusian yang didirikan pada 1084. Gagasan dasarnya adalah adalah penyangkalan diri secara aksetis, yang tampaknya berbeda dari ide dasar ordo Benedictus dan kongregasi Cluny. Pendirinya adalah St. Bruno dari Cologne, yang dengan sekelompok kecil pengikutnya membangun biara di daerah yang sulit dijangkau orang disuatu tempat di Burgundia yang disebut Chartreuse.

            Para biarawan Ordo Cathusian ini bermata pencarian antara lain dengan menggembalakan ternak dihutan. Dengan uang yang mereka peroleh dari penjualan kulit ternak itulah mereka membeli makanan dan barang-barang keperluan lainnya. Berbeda dari kongregasi Cluny mereka sangat tidak suka pada kemegahan dan kemewahan misa-misa keagamaan. Secara persisten mereka mampu mempertahankan jalan hidup yang sangat asketis ini selama abad enam.

Ordo Cistercian

            Ordo ini didirikan pada 1098. Sekelompok kecil orang, yang muak dengan kemewahan para biarawan Cluny. Membuka calon komplek persemedian di hutan Citeaux dekat Dijon, Burgundia. Mereka melatih diri mereka untuk hidup miskin dan sederhana.

            Meskipun pada awalnya menentang kemewahan hidup Cluny tapi pada perkembangannya Ordo Cistercian mengalami kemakmuran. Tokoh terbesar ordo ini adalah St. Bernard dari Clairvaux (1153). Nama ordo ini terkenal luas pada 1152, ordo ini memiliki 330 biara yang terdsebar di Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Inggris, dan Belanda.

Ordo Premonstratensian

            Ordo ini didirikan pada 1120. Ordo ini berbeda dari ordo-ordo Benecditus, Carthusian, dan Cistercian. Ordo ini beranggotakan para pendeta yang sekaligus biarawan. Sedangkan kebanyakan ordo-ordo lainya beranggotakan para biarawan yang tidak pernah menjadi pendeta.

            St. Norbert mendirikan biara premonstratensian yang pertama didekat Leon, Prancis. Karena para pendeta anggota ordo ini mempunyai tugas untuk berkhotbah, mengajar, mendengarkan pengakua-pengakuan dosa dan tugas-tugas kependetaan lainya, biara-biara ordo ini dibangun didekat kota-kota, dimana mereka bisa melakukan layanan kepada setiap umat. Ordo ini menarik, karena inilah institusi kebiaraan pertama dalam Abad Pertengahan yang mengadabtasikan model kehidupan keagamaannya sesuai dengan kebutuhan warga kota. Model ini kemudian banyak ditiru ordo-ordo lainnya, seperti Franciscan dan Dominican.

Ordo Kariatif       

Di pusat-pusat industri dan perdagangan baru tumbuhlah ordo-ordo yang melayani kaum miskin. Karitas merupakan kebijakan nilai kristiani yang terus menerus ditanamkan sejak semula. Pada Abad pertengahan penyakit kusta memeng merupan gejala yang endemis, terutama sebelum kebiasaan mandi secara teratur di praktekan para warga kota-kota yang baru bermunculan.

Satu hal yang khas dalam ordo-ordo kariatif ini adalah bahwa sebagian besar anggotanya bukan para biarawan atau pendeta, tetapi justru kaum awam. Namun, beberapa ciri kebiaraannya tetap bertahan. Artinya, beberapa aturan yang lazim berlaku dalam kehidupan di biara-biara wajib dipatuhi anggota-anggotanya, termasuk yang awam. Misalnya seperti hidup secara sederhana dan saleh tetapi tidak harus selibat.




  
Sekte Albigenses

Sekte Albigenses ini boleh dikatakan merupakan semacam penjelmaan dari kelompok bid’ad manikhea kuno- yang dulu secara tak henti-hentinya diburu-buru oleh St, agustinus. Ajarannya merupakan campur aduk tak karuan antara pandangan-pandangan paganisme dan kristen. Sekte ini mengajarkan bahwa di dunia ini terdapa pertarungan abadi antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Kekuatan baik berkaitan dengan roh, sedangkan kekuatan jahat berkaitan dengan materi. Kreasi material adalah hasil dari pertarungan antara kedua kekuatan tersebut. Oleh karena itu Sang Pencipta alam semesta ini tak mungkin Tuhan Yang Maha pemurah. Tuhan dalam perjanjian lama adalah jahat. Kristus tidak mungkin menampakkan diri secara fisik dalam tubuh manusia. Perkawinan adalah suatu kejahatan, karena perkawinan mengekelkan wadaq fisik manusia. Pokoknya, agama khatolik itu jahat, sakramen-sakramennya itu palsu, dan ajaran-ajaranya tak perlu dipatuhi. Sekte albigenses ini kmengenal satu sakramen inisiasi, yakni consolamentum. Di dalam sakramen ini mereka mengucapkan kata-kata yang menolak segala ajaran khatolik. Sebagian besar ajaran sekte ini berkaitan dengan seks, satu hal yang sungguh mereka benci. Adalah dosa besar bagi seorang leleki menyentuh seorang wanita, bahkan dengan cara yang tidak ofensif sekalipun. Jalan keluar dari kesulitan ini, bagi yang mempercayai ajaran sekte ini, adalah endura atau bunuh diri. Hal ini mereka percayai sebagai suatu yang terpuji, karena dengan bunuh diri ini jiwa mereka akan terbebaskan dari segala hal yang bersifat material.  

Mereka merupakan ancaman yang serius bagi gereja. Mereka menentang praktek pengambilan sumpah didepan pengadilan atau dalam seremoni-seremoni di depan publik. Para pengikut sekte albigenses itu menolak pengambilan sumpah dengan mendasarkan diri pada injil Matius 5:36 kuadrat. Ajaran-ajaran semacam itu tidak munkin diterima dalam masyarakat abad pertengahan yang mendasarkan diri pada kepatuhan, dan dimana kesatriaan  merupakan suatu yang diidealisasikan. Maka, pada abad XIII masyrakat Eropa Kristen bersatu dipihak gereja dan negara untuk membasmi sekte atau kelompok bid’ah albigenses ini. Dari sinilah lalu muncul inkuisisi yakni suatu pengadilan yang mencabut semua ajaran sekte albigenses.

Inkuisisi

Hukuman utamanya berupa penyitaan harta benda mereka atau pembuangan. Hukuman ini masih lebih manusiawi dari pada hukuman yang di jatuhkan oleh masa fanatik, yakni membakar mereka hidup-hidup.
            Dibawah kaisar Frederick II, yang berkuasa dari 1212 sampai dengan 1250, sifat inkuisisi ini banyak berubah. Pada tahun 1224 ia mengeluarkan suatu undang-undang yang menyatakan bahwa pengikat gerakan bid’ah dijatuhi hukuman bakar atau potong lidah. Inkuisisi dipindahkan dari tangan para uskup ke tangan dua ordo yang baru saja muncul, yakni Dominican dan Fransiscan. Akhirnya, Innocentius IV, Paus dari 1243 hingga 1254, mengesahkan penggunaan penyiksaan atas para bid’ah, seperti yang sering diterapkan dalam pengadilan negara.


St. Franciscus dari Assisi

Ordo Biarawan Minor didirikan oleh St. Fransiscus (sekitar 1181-1226), seorang biarawan yang benar-benar tulus hati. Ia berasal dari keluarga pedagang kaya di Assisi, sebuah kota kecil di Italia tengah tempat ia menjalani hidup dengan penuh kegembiraan, tidak memikirkan masalah-masalah kehidupan. Akhirnya, ia benar-benar tampak tergugah oleh kata-kata Yesus sebagaimana ditulis dalam injil Matius dan kemudian mencurahkan dirinya untuk berkhotbah terhadap kaum miskin dan papa di daerah Umbria.

Kejeniusan St. Franciscus terungkap dalam Little Flowers of St. Francis yang merupakan kumpulan cerita tentang kesalehan sang santo ini kumpulan cerita ini, yang di susun setelah kematiannya. Dengan dua belas muridnya ia pergi ke Roma, memohon kepada Paus Innocentius III untuk mendirikan sebuah ordo.

Tujuan ordo Francisus yang pertama ini, yang terdiri dari para Biarawan Kecil, adalah untuk menirukan teladan Yesus. Para anggotanya disebut bruder atau frater secara berpasang-pasangan menjelajahi seluruh negeri, berkhotbah dan membantu kaum miskin. Mereka itu sebenarnya adalah kaum awam yang hidup dalam aturan, kebiaraan, tetapi tetap bukan atau belum betul-betul menjadi biarawan atau pendeta tetapi tetap bukan atau belum betul-betul menjadi biarawan atau pendeta. Jadi ordo yang pertama ini merupakan perpaduan antara idealisasi hidup kebiaraan  dan kehidupan kaum awam. Prinsip utama mereka tampak paradoksal dengan manusia modern, yang selalu berpikir bahwa tanpa benda-benda material hidup adalah hampa. “Kemiskinan” kata para murid Franciscus itu, “tercapai dalam ketidakpunyaan dan ketidakinginan , kecuali dalam keinginan akan semangat pembebasan. “dalam” “kebebasan” inilah manusia mereguk kemerdekaan spiritual yang merupakan jalan ajaran-ajaran Yesus.

Ordo kedua dibentuk pada tahun 1212. Ordo ini terdiri dari kaum wanita, yang merupakan pasangan kerja para murid St. Franciscus. Ordo ini didirikan oleh St. Klara- putri dari sebuah keluarga kaya di Assisi yang sejak muda terpesona pada kesalehan St. Franciscus.

Ordo ketiga: para Bruder dan suster penubusan dosa. Ordo-ordo fransiscan ini, yang menaruh kepedulian yang dalam terhadap tatanan masyarakat kota, cukup mendorong gereja untuk menyesuaikan dirinya untuk dengan kondisi-kondisi sosial yang tengah berubah.

Ordo Dominican

            Ordo ini didirikan oleh seorang Spanyol yang bernama St. Dominica (1170-1121) pada 1216. Ia adalah seorang anggota yang berhasrat kuat untuk mengendalikan para pengikut kelompok bid’ah Albigenses kedalam gereja. Seperti para anggota ordo Francicscus, anggota ordo juga menjalani hidup dalam kemiskinan. Mereka hidup dari sedekah orang lain. Itulah sebabnya mereka disebut biarawan peminta-minta.
          
  Para anggota ordo ini sangat berminat pada ilmu pengetahuan. Hal ini didorong oleh hasrat untuk membantah pandangan-pandangan yang berbau bid’ah. Banyak anggota ordo Dominican yang terpelajar yang kemudian menjadi guru besar teologi di universitas-universitas yang mulai bermunculan dimasa itu.


Makna Sosial Remisi Hukuman

            Remisi ini diberikan untuk menghapus hukuman dosa, bukan untuk menghapus kesalahan dosa itu yang adalah wewenang adalah Tuhan untuk menganpuninya, dan hanya efektif jika yang bersangkutan telah benar-benar mengakui dosa-dosanya. Penerima remisi hukuman itu biasanya lalu diwajibkan memberikan jaminan yang berupa uang atau tenaga kerja. Satu hal yang harus digaris bawahi adalah bahwa yang terpenting dalam pemberian remisi ini bukan jaminanya, tetapi kedisiplinan moral dan religius orang yang menerima penebusan tersebut. Uang jaminan atau tenaga kerja yang diberikan oleh penerima hukuman remisi itu biasanya diberikan untuk membangun atau merawat gereja. Uang jaminan itu juga digunakan untuk memberikan semacam pensiunan bagi para veteran perang salib. Selain itu juga digunakan untuk mebiayai proyek-proyek sosial yang berguna, seperti pembangunan jalan, parit, bendungan, tanggul, pelabuhan, bendungan, benteng, serta pendayaagunaan tanah-tanah kosong.

Kalender

            Pengaruh agama sedemikian kuatnya sehingga orang menyusun penanggalan didasarkan atas orang hari-hari suci. Mereka tidak menulis “24 Juni 1330”, tetapi “Hari Raya St.Yohannes Pembabtis, 1330”. Bahkan mereka sering menyusun penanggalan peristiwa-peristiwa berdasarkan hari-hari besar gereja, yang tidak jarang berubah-ubah, sehingga memperumit perhitungan. Jelaslah kini agama merupakan sumber inspirasi bagi basis-basis peradaban abad pertengahan. Sejak semula gereja kristen telah mengajarkan pandangan hidup yang konsisten, dan mengilhami konsepsi ideal tentang perilaku etis melalui sakramen-sakramen. Reformasi, dalam sejarah gereja adalah gerakan yang dimulai oleh Martin Luther pada abad XVI, yang bertujuan untuk mereformasi, gereja Khatolik Roma dan kemudian menghasilkan protestanismepent.
    
 
READ MORE