Tampilkan postingan dengan label sejarah eropa barat abad pertengahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah eropa barat abad pertengahan. Tampilkan semua postingan
PENEMUAN-PENEMUAN DAN TEKNOLOGI ABAD PERTENGAHAN
READ MORE
Abad pertengahan teryata menghasilkan banyak kontribusi yang berarti bagi sejarah teknologi. Bangsa Eropa Abad Pertengahan tidak hanya mewarisi metode-metode pembuatan alat-alat dan perlengkapan mekanis dari zaman klasik, tetapi juga mampu mengembangkanya. Pada abad pertengahan ini menunjukan bahwa pengembangan teknologi pada abad-abad tersebut ternyata merupakan basis bagi perkembangan teknologi modern.
Teknologi Awal Abad Pertengahan
Sebagian besar alat-alat yang dipergunakan selama abad pertengahan memang merupakan warisan dari bangsa Yunani dan Romawi. Karena langsung mewarisi sistem pertanian Romawi, teknologi pertanian awal abad pertengahan masih menerapkan alat-alat kuno, seperti cangkul, sabit pemangkas, ember, gunting bulu domba, bajak, sekop, kereta, grobak, arit, sabit besar, pengerik biji-bijian, gandar, alat pemangkas anggur, alat pemeras sari buah apel dan batu gerinda. Namun pada periode ini juga terjadi sejumlah penemuan yang berarti, yakni sanggurdi dan leher kuda. Garu atau penyisir tanah juga merupakan penamuan awal abad pertengahan, satu penemuan yang cukup monumental dalam sejarah teknologi pertanian.
Dalam teknologi pertukanagan, boleh dikatakan tidak terjadi penemuan baru. Alat-alat tukang kayu, misalnya seperti palu, gergaji, kapak, beliung, gurdi atau bor, penarah dan pahat, semuanya telah ada sejak zaman Yunani-Romawi. Demikian pula dengan perkakas tukang batu, misalnya seperti tang, dan puputan telah dikenal sejak sebelum masehi. Demikian pula dengan perlengkapan para ahli bedah, misalnya seperti gunting tang, pisau bedah dan sebagainya.
Alat Giling Model Awal
Salah satu dari semua penemuan terpenting adalah alat giling. Penemuan ini merupakan penerapan prinsip gerak roda penggilingan biji padi-padian, penggilingan kuno belum menggunakan roda. Alat semacam ini ternyata dikenal dalam setiap masyarakat selama Zaman Batu Baru dan Perunggu.
Alat giling temuan akhir abad klasik digerakan dengan kincir air. Alat ini berupa kinciran dengan tangkai kayu ek pada satu sisi dan batu gerinda pada sisi lainya. Alat giling temuan bangsa Yunani-Romawi ini belum lazim digunakan di Eropa Utara pada abad-abad awal Masehi. Dalam model baru gerak batu gerindanya tergantung pada gerigi roda. Tangkai tempat pemukul diikatkan menggerakan kinciran bergerigi yang diikatkan pada tangkai, yang pada giliranya menggerakan batu gerinda.
Tumbuhnya perdagangan, kota-kota, dan penduduk perkotaan yang luar biasa selama abad X dan XI mendorong timbulnya berbagai perubahan teknologis. Dalam teknik penggilingan biji-bijian setidak-tidaknya telah terjadi dua modifikasi. Yang pertama adalah alat giling yang digerakan dengan angin, satu teknik dikembangkan di Persia. Yang kedua adalah penggilingan yang digerakan dengan kuda. Namun, seperti apa alat-alat giling yang telah di modifikasikan itu, sulit dipastikan.
Penenunan
Penenunan sudah dikenal sejak Zaman Batu Baru. Dalam penenunan kain dipergunakan dua set serat atau akar yang seperti benang. Kedua serat yang membentang sepanjang panjangnya kain itu disebut warp (pelengkung). Sedangkan alat yang mengulurkan pelengkung secara bolak-balik itu disebut woof (pakan). Pada mulanya perkakas tenun ini amatlah sederhana. Namun, selama zaman Yunani-Romawi terjadi usaha modifikasi, yang kemudian diwarisi bangsa Eropa abad pertengahan. Perkakas tenun yang sudah dimodifikasi ini berupa silinder kayu tempat ujung-ujung pelengkung diikatan, batang pelepas yang merentangkan pelengkung, tali-taliyang dirancang untuk mengendalikan benang-benang pelengkung, tali-tali yang dirancang untuk mengendalikan benang-benang pelengkung kumparan yang membolak-balik pakan, dan buluh atau sejenis bambu untuk mengangkat pelengkung. Perkakas tenun semacam ini lazim dikenal selama zaman Romawi.
Pemintalan
Proses pemintalan sama tuanya dengan penenmuan proses penenunan. Tongkat (pendek) tempat wol atau rami digulungkan ditahan dengan tangan kiri. Benang yang dipilin diikatkan pada gelondong tongkat kayu yang panjangnya sekitar satu kaki dan kedua ujungnya dibuat runcing dan salah satunya untuk pengait.
Cara merajut seperti ini lazim dilakukan pada abad pertengahan dan kini boleh jadi masih dipraktekan di negara-negara Balkan. Perlengkapan semacam ini lazim dikenal menjelang tahun 1300. Dan dalam perkembangan selanjutnya mengalami berbagai modifikasi.
Kompas dan Cross-staff
Navigasi mengalami perkembangan yang cukup berarti pada Abad Pertengahan. Sejak zaman kuno, para pelaut telah terbiasa mengatur peleyaran mereka dengan mendasarkan diri pada letak bintang-bintang. Setelah tahun 1300 para pelaut mulai lebih menyandarkan diri pada kompas, daripada mengamati letak bintang-bintang. Penemuan Kompas ini kemungkinan ditemukan oleh orang Cina.
Pengembangan kompas ditentukan sekali oleh penemuan daya magnetisitu, yakni jika salah satu ujung sebuah jarum, yang diikatkan pada gabus yang mengapung di air, di gosokan pada besi magnetis ujungnya yang bermagnet menunjukan utara, ujung lainnya selatan.
Walaupun penemuan kompas ini menandai suatu langkah maju dalam perkembangan navigasi ilmiah, para pelaut ternyata tidak meninggalkan sama sekali kebiasaan melihat bintang kutub untuk memastikan posisi mereka. Cross-staff, yakni alat lazim dipergunakan pada masa-masa akhir Abad Pertengahan, lebih memungkinkan para pelaut untuk mengetahui ketepatan posisi mereka jika telah jauh dari daratan.
Astrolabe dan Armillary Sphere
Astrolable telah digunakan sejak zaman Yunani kuno. Seperti cross-staff , alat ini digunakan untuk mengetahui ketinggian bintang-bintang. Astrolabe berbentuk lempengan tembaga yang bulat yang dibagi ke dalam 360 derajat. Sebuah penunjuk, yang dilengkapi dengan sasarannya serta diikatkan di tengah.
Perkapalan
Perkapalan terus mengalami perkembangan selama Abad Pertengahan. Sampan dan kapal-kapal besar telah ada di kawasan Laut Tengah jauh sebelum zaman Homerus. Selama zaman Yunan-Romawi, kapal dibuat lebih besar, cepat, dan mewah, kapal juga dilengkapi dengan menara tempur kecil baik di bagian depan maupun butirannya. Hal ini dimaksudkan untuk menangkal bahaya serangan para bajak laut.
Para pembuat kapal pada akhir abad pertengahan mengembangkan terus, mampu menghasilkan kapal yang lebih besar lagi, dan yang kemudian digunakan oleh orang-orang seperti Vasco de Gama, Magellan, Columbus untuk mengarungi dunia.
Busur
Salah satu senjata para prajurit abad pertengahan adalah busur. Senjata ini sebenarnya juga sudah digunakan para prajurit Romawi. Pada abbad pertengahan telah mengalami berbagai modifikasi. Slah satu modifikasi yang penting adalah dotemukannya alat penembak busur sebelum abad XI. Dengan crossbow ini, busur atau anak panah secara horizontal dipasang pada sebilah kayu yang panjangnya beberapa kaki.
Busur panjang Inggris merupakan suatu penemuan luar biasa, busur panjang ini memiliki keunggulan dibandingkan crossbow yakni dapat dipasang sewaktu-waktu, dua keunggulan lainnya adalah bahwa busur panjang mempunyai daya lesat atau kecepatan yang lebih tinggi, sehingga bisa menimbulkan efek yang lebih parah pada pihak yang terkena.
Artileri
Para komandan militer abad pertengahan memiliki berbagai jenis persenjataan warisan artileri Yunani-Romawi. Yang paling sederhana adalah ketapel, semacam alat pelembar batu. Senjata lainnya adalah ballista, yang bentuknya agak mirip crossbow yang besar. Senjata lainnya adalah trebuchet, yang ukurannya yang bentuknya seperti ketapel, tetapi mampu melempar batu dengan ukuran besar.
Baju Baja (Zirah)
Para perajin abad pertengahan memiliki kejelian yang lumayan dalam menyempurnakan zirah atau baju baja. Para prajurit abad pertengahan tubuh mereka dilindungi dengan zirah, yang memanjang dari leher hingga atas lutut, menutupi lengan dan siku, dan terbelah di bagian depan dan belakang sehingga pemakainya masih memungkinkan untuk naik kuda.
Senjata Api
Penemuan dan penyempurnaan senjata api menjadi faktor yang sangat berarti dalam kehidupan bangsa Eropa selama Abad Pertengahan. Pada mulanya peluru meriam dibuat dari batu, dan pembuatnya adalah tukang batu. Ukurannya tidak mungkin dibuat sama. Demikian pula dengan senjata api laras besar yang terbuat dari lempengan-lempengan baja. Tetapi secara bertahap pembuat senjata api ini semakin mampu membikin merian yang lebih sempurna. Meriam hasil pembuatan akhir Abad Pertengahan mampu meruntuhkan tembok kastil yang paling kuat sekalipun.
Senjata lars tangan pada mulanya juga sangat tidak akurat. Menjelang tahun 1500 senjata laras tangan ini diperlengkapi dengan kokang yang menarik deretan yang ditembakan dengan pelatuknya. Senjata semacam ini disebut matchlock. Para bangsawan, yang dulu dapat mengamankan dirinya dengan berlindung dibalik tembok tebal kasti-kastil mereka, ini tak dapat lagi menikmati suatu perlindungan yang memadai. Kemiliteran mereka mulai merosot, prajurit yang berbaju besi sekalipun dapat tewas oleh prajurit api laras tangan yang ditembakkan oleh pasukan infantri.
Khronometer (Pengukuran Waktu)
Sebelum zaman Romawi-Yunani manusia sudah mengenal semacam alat penunjuk waktu dengan bantuan bayangan sinar matahari serta apa yang disebut jam pasir, yang lazim digunakan bahkan hingga tahun 1800. bangsa Yunani kuno telah mengembangkkan apa yang disebut clepsydra atau jam air.
Perkembangan jam mekanis merupakan hal yang penting dalam sejarah peradaban. Jam adalah alat yang terdiri dari serangkaian roda-roda kecil yang digerakkan oleh pegas atau batu, yang dilengkapi dengan alat pengukur dan penunjuk waktu. Inovasi besar dalam pembuatan jam terjadi sekitar tahun 1500 yakni ketika Peter Henlein dari Nuremberg membuat jam ini atau yang disebut arloji.
Percetakan dan Kertas
Percatakan termasuk penemuan besar pada akhir Abad Pertengahan. Di Athena, Alexandria dan Roma orang-orang yang pandai menulis rapi melakukan penyalinan karya-karya besar. Dengan penyalinan yang sedemikian ini harga buku menjadi mahal, sehingga hanya beberapa segelintir orang yang bisa mendapatkan buku.
Hampir sepanjang Abad Pertengahan orang mengunakan kertas yang berbahan dari kulit binatang, untuk membuat naskah-naskah. Menjelang akhir Abad Pertengahan, kertas digeser menjadi menggunakan perkamen. Puncak keberhasilan inovasi atau bahkan penemuan adalah nerhasil dicetaknya injil 36 baris pada tahun 1455. dengan demikian penemuan mesin cetak ini berjasa besar dalam penyebaran ide-ide. Penemuain mesin cetak ini menandai akhir Abad Pertengahan dan awal Zaman Baru dalam sejarah intelektual.
Raja-Raja
Awal Abad Pertengahan
Ketika sektor agraria
didominasi oleh masyarakat Eropa barat dan utara,bentuk pemerintahannya secara
khas ditandai dengan hadirnya ekonomi
pedesaan.Stratifikasi masyarakat dibagi menjadi 2 kelas yaitu petani dan tuan tanah.Petani bertugas untuk menggarap tanah sedangkan tuan
tanah bertugas memilki tanah dan mengatur tanah itu.
Selama paroh pertama Abad Pertengahan,pemerintahan
masih bersifat personal.Para penguasa itu sendiri yang mengatur segala urusan kerajaan
atau mengawasi orang-orang yang mereka angkat untuk menangani segala urusan
itu..Seorang penguasa ,selain mengawasi pengelolaaan tanahnya,juga mengawasi
pengaturan pasukannya,mengawasi pemerintahannya,menangani rumah
tangganya,menjamu para utusan dari penguasa lain,menangani urusan
peradilan.Bisa dikatakan penguasa pada saat itu sangat sibuk untuk menangani
semua urusan Negara.Pada zaman feodalisme ,seorang penguasa yang malasdan tidak
cakap tidak akan mampu mempertahankan kekuasaanya.
Metode-Metode
Baru dalam Pemerintahan
Metode baru pemerintahan yang
bekembang sesudah abad XI memilki arti yang cukup penting.Dalam masa-masa
itulah tumbuh benih yang dalam perkembangannya menjadi basis permanen
pemerintahan modern.Praktek menyerahkan segala urusan public kepada para
pejabat istana mulai ditinggalkan.Jabatan–jabatan seperti pengurus rumah
tangga,kepala pelyan,marsekal,dan
polisi istana mulai dilepaskan.Sedangkan jabatan seperti sekretaris istana
tetap dipertahankan,dan bahkan menjadi jabatan ang lebih penting.Tugas sebagai
polisi istana dan marsekal dalam perkembangannya lebih bersifat
kemiliteran.Organisasi pemerintahan model baru ini dinamakan feodal,yang merupakan adaptasi terhadap
perkembangan kondisi yang ada pada masyarakat,yang muncul sesudah disintregasi
Negara bentukan dinasti Karoling selama abad IX dsn X.
Curia
Regis
Para bangsawan tinggi kerajaan
,termasuk para uskup dan kepala biara,membentuk suatu dewan penasihat raja yang
dinamakan curia regis. Curia Regis ini
hanya berkumpul jika raja membutuhkannya.Anggota dewan ini terus berubah dan
dewan ini tidak bekerja secara terus menerus.Para adipati (dukes) dan pangeran (count)
juga memilki dewan penasihat semacam ini.Dewan paenasihat adipati disebut curia duris,dan dewan penasihat pangeran
dinamakan curia comitis.Fungsi curia
yaitu menangani masalah- masalah yang timbul diantara para vassal dan antara
raja dengan para vassalnya.
Para
Pejabat Lokal
Pada masa itu belum dikenal adanya
pemerintahan local atau daerah sebab manor
merupakan suatu pemerintahan yang swapraja,dan para vassal mengelola tanah
dalam kekuasaan mereka sesuai dengan adat yang berlaku.Oleh karena seorang raja
tidak mampu menjangkau daerah yang dikuasai oleh manor,maka raja telah memilki wakil untuk setiap
manor .Kalau di Prancis dinamakan prevot.Para
wakil itu direkrut dari kelompok bangsawan tinggi dan vassal-vassal yang dekat
dengan istana.Kelemahan utama system perwakilan raja ini adalah para prevot cenderung ingin mewariskan
penguasaanya atas tanah feudal kepada anak laki-laki mereka.
Sebagai reaksi akibat meosotnya para prevot itu ,Raja Phillip II,yang
berkuasa di Prancisdari tahun 1180 hingga 1233,menempatkan pejabat-pejabat baru
yang bertugas mengawasi dan memantau tindak tanduk para prevot itu.Pejabat baru itu disebut bailiff ( juru sita).Meraka berasal dari golongan rakyat biasa.
Organ-organ Pemerintahan Pusat
Bagi seorang raja ternyata merupakan
beban yang berat jika setiap kali melakukan peninjauan ke daerah ia harus
diiringi semua pejabat istana. Hal ini terutama sangat dirasakan oleh raja yang aktif mengawasi urusan kerajaan
secara lebih dekat dan terus-menerus menghadapi urusan pemerintahan yang
cenderung bertambah. Dari sinilah muncul suatu kebutuhan untuk menempatkan para
bendaharawan kerajaan di tempat-tempat tertentu, sehingga orang tahu kemana
mereka harus menyerahkan upeti. System semacam in terutama dipraktekkan oleh
pemerintah Inggris.
Peradilan
Feodal
Seiring waktu berjalan,seorang raja digunakan untuk
menangani masalah – masalah peradilan.Jika ada waktu,seorang raja akan
mendengarkan semua jenis kasus dari para
curia regis.Jika tidak,curia regis ditunjuk untuk menangani kasus – kasus
itu.Di Prancis,dewan komite semacam itu disebut Parlement,yang kemudian menjadi sebuah badan permanen di Paris.
Lembaga
Perwakilan
Perwakilan merupakan hal yang prinsipil
dalam pemerintahan feodal .Inilah awal munculnya Parlemen Inggris,yang kemudian
dikemabangkan dalam system representasi pemerintahan modern,terutama abad XVIII
dan XIX. Akan tetapi representasi atau lembaga perwakilan pada Abad
Pertengahan, tidak seperti pada masa kini, adalah persoalan kelas, atau
golongan. Suatu golongan merupakan suatu kelas sosial dan politik yang
disatukan oleh ikatan-ikatan tertentu dan terpisah dari rakyat kebanyakan.
Golongan pertama, adalah para pejabat gereja, yang bukan hanya menjadi pemimpin
agama tetapi sekaligus juga tuan tanah besar. Golongan kedua, adalah para
bangsawan, yang menjadi tuan tanah besar dan biasanya kaum ningrat.Setelah abad
X, dengan bangkitnya kembali perdagangan dan industri, muncullah golongan
ketiga, yang terdiri dari kelas menengah baru, yakni para pedagang dan pabrikan
(manufacturer).
Awal Pemerintahan Birokratis
Ada satu perbedaan yang mendasar
antara pemerintahan abad pertengahan dengan modern. Pada masa dinasti Karoling
dan awal feodalisme, administrasi kerajaan masih terbatas, dan raja tidak
membutuhkan pegawai dalam jumlah yang besar. Sementara negara modern, untuk menjalankan
roda pemerintahannya secara efektif, telah mengembangkan anggota biro dalam
jumlah yang besar, yang dibagi ke dalam departemen-departemen, dan
masing-masing menangani sekelompok persoalan tertentu dengan aparatnya yang
tidak sedikit. Oleh karena itu pemerintahan modern bersifat “ birokratis”,
dalam arti segala persoalan ditangani biro-biro. Pemerintahan birokratis mulai
tampak pada akhir Abad Pertengahan, terutama sesudah tahun 1200.
Imperium Romawi Suci
Imperium Romawi Suci, sejarah negara
yang cukup sulit dipahami. Sepanjang Abad Pertengahan berkembang suatu
pandangan yang dominan bahwa semua pemerintahan diselenggarakan oleh Tuhan.
Para penggagas masalah-masalah politik abad pertengahan ini umumnya mengajarkan
bahwa kekaisaran diadakan oleh Tuhan untuk mengatasi segala bentuk kekerasan
dan menegakkan kedamaian. Selain mendirikan Kekaisaran, Tuhan juga telah
membangun gereja untuk menyelamatkan umat manusia.
Keanggotaan identik : fungsi agama dan politik
terpisah tetapi dalam banyak hal tumpang-tindih sehingga sering timbulkan
konflik. Lebih jauh, paus dan raja terlibat pertikaian tentang hal-hal yang
menyangkut kontrol atas kependetaan, perpajakan gereja, masalah perceraian,
perampasan kekayaan gereja.
Masalah-masalah yang menjadi sebab
timbulnya pertikaian antara paus dan raja tampak sepele. Zaman Feodal dengan
kekuasaan-kekuasaan yang bertumpang tindih secara ruwet telah berlalu. Dengan
berlalunya hal itu maka lenyap juga kemungkinan timbulnya pertentangan antara
gereja dan Negara.
Hukum
Dalam pandangan para filsuf skolastik,
tugas negara adalah untuk menjaga tatanan moral dengan menegakkan ‘keadilan’.
Hal ini (diharapkan) akan membawa ‘kesamaan’ bagi warganya. Jadi, keadilan dan
kesamaan merupakan tujuan semua hukum, entah itu hukum yang berakar pada adat
manorial, adat feodal, hukum rakyat Inggris, atau ketentuan-ketentuan dalam
komunitas-komunitas. Konsepsi lainnya yang lazim diterima pada Abad
Pertengahan, yakni hukum kodrat. Hukum kodrat adalah bagian dari hukum moral
yang mengatur relasi sosial manusia. Relasi ini didasarkan atas konsep-konsep
dasar moralitas Kristen, yang melarang setiap perbuatan jahat kepada sesama
manusia. Hukum tidak boleh melanggar hak-hak manusia. Jika ada hubungan yang
melanggar hak-hak manusia, berarti hukum itu tidak legal, bahkan merupakan
suatu tirani. Maka seorang raja harus melaksanakan pemerintahannya sesuai
dengan prinsip moralitas. Pemerintahannya tidak boleh bertentangan dengan
hak-hak kodrati rakyatnya.
Masa abad pertengahan tak pernah
sepenuhnya mewujudkan gagasan-gagasan ideal yang serba bagus. Pengaruh hukum
Romawi atas teori politik abad pertengahan menarik untuk kita kaji. Hukum
Romawi telah berkembang dalam suatu masyarakat di mana raja atau kaisar
memonopoli kontrol atas segala aktivitas politik. Pada Abad Pertengahan,
kekuasaan raja atas Negara dan rakyat tidaklah sebesar kekuasaan para kaisar
Romawi. Hukum Romawi kuno memberikan contoh-contoh praktis yang bisa
mengantarkan mereka untuk menjadi penguasa absolut.
Legitimasi Keagamaan Para Raja
Ajaran bahwa raja memperoleh
kekuasaan langsung dari Tuhan muncul dan berkembang dalam abad-abad terakhir
Abad Pertengahan. Teori tentang pemerintahan absolut ini mempunyai pengaruh
besar terhadap lahirnya para aristokrat modern seperti Louis XIV. Menurut teori
abad pertengahan yang lebih awal, kaisar mendapatkan kekuasaan dari Tuhan.
Namun, raja-raja seperti di Inggris dan Prancis tidak mau mengakui kepemimpinan
sang kaisar. Sebab, mereka mengklaim, mereka juga menerima kekuasaan dari
Tuhan, dan tidak ada raja yang lebih tinggi di bumi ini. Yang ternyata efektif
dalam masa-masa akhir Abad Pertengahan. Dengan klaim ini kekuasaan raja semakin
kuat. Sebab, kekuasaan itu didasarkan atas legitimasi keagamaan. Di pihak lain,
kekuasaan para vassal kian melemah. Dan inilah awal tersapunya dasar-dasar
feodalisme lama.
Pada Abad Pertengahan ketika wacana
politik penuh dengan konsepsi-konsepsi ideal sebagaimana disebutkan di atas,
realitas politik praktis sangat diwarnai berbagai macam peperangan yang brutal
serta ketidakadilan politis yang merajalela.
Arsitekturdari
313 sampai dengan 1000
READ MORE
Sejarah
arsitektur gereja abad pertengahan dimulai pada tahun 313 saat ketika agama Kristen dinyatakan sebagai agama yang
legal.
Setelah
Terbebas dari penyiksaan, umat Kristen mulai membangun basilika. Basilika
paling bagus dan besar adalah Gereja St. Sophia di Konstantinopel, yang
memiliki gaya khas Byzantium. Gaya Byzantium tersebut dalam perkembangan
selanjutnya berpengaruh ke daerah-daerah dunia Muslim. Arsitektur Masjid sangat
dipengaruhi oleh gaya Byzantium itu. Salah satunya adalah masjid Umar di
Yarusalem. Para arsitek di luar Konstantinopel juga mencoba memodifikasikan
gaya Byzantium. Salah satu contoh adalah Gereja San Vitale, di Ravena, Italia
Utara. Kapel ini semula dimaksudkan untuk mausoleum Karel Agung
Periode Abad Gelap
Selama
abad gelap, di Eropa Barat tidak ada gaya khas yang berkembang. Mundurnya
peradaban Romawi berakibat pada melemahnya upaya pengembangan gaya arsitektur
orisinal. Kaum barbar, baik Jerman, Slav, maupun Finno-Ugria, paling banter
hanya bisa membuat imitasi gaya arsitektur Romawi Barat yang tengah merosot
itu.
Periode Romanesque
Istilah
ini mengacu pada seni yang berkembang di Eropa barat dari sekitar tahun 1000
hingga 1200. Gereja-gereja yang dibangun dengan gaya baru di segala penjuru
Eropa barat mengingatkan kembali pada basilika-basilika yang dibangun di Roma
pada abad IV, V, dan VI. Itulah sebabnya maka gaya baru ini disebut Romansque. Salah satu gereja gaya Romanesque yang
terkenal adalah katedral Pisa, yang selesai dibangun pada 1093. Contoh lain
dari bangunan gaya Romanesque yang perlu dicatat adalah gereja biara Cluny.
Gereja ini diresmikan pada 1131. Gereja Cluny merupakan gereja yanh sangat
besar dan megah.
Arsitektur Gothik
Istilah
gothik mengacu pada seni –arsitektur, lukis, dan pahat – tiga abad terakhir
zaman pertengahan. Istilah ini berasal dari para penulis akhir Abad Pertengahan
yang lebih menaruh perhatian pada kebudayaan Yunani-Romawi daripada kebudayaan
abad pertengahan sendiri. Arsitektur gothik adalah kreasi para genius abad
pertengahan. Sebagai gaya dalam seni, gaya Gothik ini adalah lebih baik jika
diperbandingkan dengan gaya-gaya lainnya. Pengaruh arsitektur Gothik lebih luas
daripada gaya Romanesque. Perbedaan utama antara gaya ini adalah bahwa gaya
Gothik serba lancip, sedangkan Romanesque serba bundar. Arsitektur Gothik pertama-tama berkembang di
Prancis tengah, terutama di daerah sekitar Paris. Abad XIII merupakan puncak
perkembangan arsitektur Gothik . selama masa pemerintahan Raja Louis IX
(1226-1270) bermunculanlah karya-karya besar seperti katedral-katedral di
Reims, Amiens, Paris, Beauvais, dan yang terbagus adalah katedral Sainte
Chapelle, yang berhadapan dengan Notre Dame di Paris. Meskipun arsitektur
Gothik pada mulanya muncul di sekitar Paris, ini tidak berarti bahwa gaya ini
semata-mata milik Prancis. Arsitektur ini tetap dianggap sebagai hasil dari
semangat Kristianitas, karena kristen merupakan agama yang merambah seluruh
kawasan Eropa barat.
Dekorasi Gothik
Ide-ide
Gothik bukan hanya tampak pada gaya arsitektur, tetapi juga pada dekorasi seni
patung, lukis, hiasan, serta pada setiap bentuk seni kerajinan, termasuk
kerajinan yang terbuat dari besi. Motif atau corak dekorasi yang mengandung
pesan ajaran kristen. Telah lama gereja menampakkan imaji-imaji tentang Allah
Bapa, Kristus, Perawan Maria, para tokoh suci serta malaikat. Penampakan
imaji-imaji itu dimaksudkan untuk mendorong semangat keagamaan umat Kristen.
Seni Pahat: Romanesque dan Gothik
Pahatan
menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Kristus serta para santo banyak
dijumpai di gereja-gereja. Selama masa Romanesque penggambaran
peristiwa-peristiwa tersebut kurang tampak hidup. Hasilnya, seni pahat
Romanesque tidak tampak naturalistik. Lain halnya dengan para pemahat Gothik.
Sebelum memahat, mereka pahat secara cermat dan naturalistik. Mereka amati
kedetilan lekuk-lekuk anatominya. Barulah mereka mulai memahat. Satu hal yang
khas dalam seni pahat Gothik adalah penampilannya yang kaku.
Seni Lukis
Tembok
yang rata biasnya dihiasi dengan fresco – gambar yang dilukis dengan air kapur
berwarna yang dipakai pada gips yang basah, sesuai dengan sketsa karbon yang
telah dirancang. Bentuk lukisan terbaik
sebelum tahun 1300 adalah karya para miniaturis. Para miniaturis Irlandia
terkenal sebagai ilustator yang piawai, yang membuat hiasan-hiasan yang begitu
indah dan kompleks pada buku-buku para biarawan. Karya-karya mereka mencapai
puncak perkembangannya selama periode Gothik.
Seni Lukis Italia
Karena
gaya Gothik merupakan produk Eropa utara, pengaruhnya tidak begitu kuat di
Italia. Para seniman Italia cenderung tetap mempertahankan metode-metode dan
konsepsi-konsepsi lama, yang disebut Greek (Yunani) atau Byzantine (Byzantium).
Sama seperti para penganut naturalisme Gothik, para seniman Italia pada mulanya
juga lebih senang menciptakan lukisan-lukisan tentang alam, seperti binatang,
tumbuhan, bunga, dan sebagainya. Oleh karena itu ketika mereka harus membuat
lukisan tentang manusia, hasilnya tampak kaku, dan tidak riil. Dengan kata
lain, mereka bersikap tradisional. Para seniman Italia yang pertama-tama
menunjukkan perubahan sikap terhadap komposisi warna, anatomo, pencahayaan,
bayangan, dan animasi adalah Cimabue (1302) dan muridnya, Giotto (1336) mereka
adalah seniman Florence (Firenze). Karya terbesar Giotto dapat kita lihat di
Arena Chapel katedral Padua dan Bardi Chapel Gereja Santa Croce di Florence.
Para pelukis sesudah Giotto cenderung sebagai epigon-epigonnya. Mereka hanya
bisa mengikuti model-model yang telah dirintis Giotto, tetapi tak mampu
menandinginya.
Seni
pahat, seperti halnya seni lukis, mengalami serangkaian perubahanyang sangat
berarti dalam abad XIV. Sebelum tahun 1300, pahatan-pahatan yang menggambarkan
manusi tampak kaku. Karya-karya itu sebagian besar adalah hasil kerja para
seniman penganut model Yunani. Ayah dan
anaknya yang bernama Niccola dan Giovanni Pisano menghasilkan pahatan-pahatan
pada mimbar besar di katedral-katedral di Pisa, Siena, dan Pistoia. Karya-karya
ini sudah menunjukkan semangat Gothik. Giotto, selaim pelukis, adalah juga
pemahat. Pengaruhnya dalam dunia seni pahat tidak kalah besarnya dengan
pengaruhnya dalam dunia seni rupa. Ketenaranya antara lain karena karya-karya
pahatannya pada panel-panel rendah, yang ia rancang untuk menghiasi menara
lonceng Gereja Santa Maria dan Katedral Florence. Panel-panel karya Giotto
tersebut tampak sederhana. Tetapi justru karena itu, karya-karya tersebut
mengundang banyak perhatian. Dan sejak saat itulah para pemahat meninggalkan
metode penggambaran yang serba semarak.
Seni Lukis Flanders
Di
Eropa Utara, perintis inovasi dalam dynia seni Lukis adalah para seniman
Flanders. Hubert dan Jan van Eyck
bersaudara menunjukkan inovasi itu pada karya-karya miniatur mereka yang
menjadi ilustrasi pada buku-buku agama. Inovasi lainnya yang dipelopori Van
Eyck bersaudara ini adalah penggunaan cat minyak dalam melukis. Kapan tepatnya
perintisan inovasi ini dimulai sebenarnya masih kabur. Setelah Van Eyck
bersaudara, pelukis lainnya yang perlu dicatat adlah Rogier van der Weyden
(1464). Ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menggambarkan
insiden-insiden dramatis, dan mampu membangkitkan emosi yang pedih. Seniman
lukis Flanders lainnya lagi yang perlu dicatat adalah Hans Memling (1494. Ia
berasal dari Bruges. Ciri khas dari karyanya adlah sentuhan yang halus dan
sentimentil.
Seni Pahat Flanders
Seni
pahat Flanders, seperti halnya seni lukisnya, mencapai puncak perkembangannya
pada awal abad XV. Ciri khas yang menonjol yang dapat kita amati dalam
karya-karya besar yang ada adalah mencuatnya gagasan-gagasan naturalisme,
idealisme religius, dan corak penderitaan yang pedih. Seniman pahat Flanders
yang terkemuka adalah Claus Sluter, yang berkerja pada istana Duke Philipe di
Burgundia. Sluter ditugasi untuk mendekorasi biara Carthuisan di Champmol,
dekat Dijon, yang dipersembahkan sebagai mausoleum para pangeran Burgandia.
Seni Musik Abad Pertengahan
Seperti
halnya dengan seni lukis, pahat, dan arsitektur, seni musik abad pertengahan
diabadikan untuk gereja. Lagu-lagu dan tari-tarian rakyat sudah barang tentu
tetap ada. Namun, karena sebagian besar bukti karya-karya populer itu sudah
lenyap, maka kita tidak dapat merekontruksikannya dengan baik. Bahkan musik
Yunani dam Romawi telah dilupakan orang. Kreasi seni seorang seniman musik
cenderung dilupakan begitu sang seniman tiada. Apalagi seni musik kuno, entah
Yahudi, dan Romawi, yidak tertulis, sehingga cepat hilang. Demikian jugalah
seni musik populer atau seni musik rakyat abad pertengahan. Meskipun begitu
kita tidak boleh berasumsi bahwa abad pertengahan tidak mengenal musik rakyat
semacam itu, hanya kaarenaa bukti-bukti historis yang kita dapatkan semata-mata
berkaitan dengan musik gereja. Liturgi
atau kebangkitan gereja banyak menggunakan musik. Pada mulanya para pemimpin
gereja tidak suka menggunakan musik dalam kebangkitan keagamaan. Alasan
utamanya adalah karena musik telah menjadi bagian dalam ritus-ritus kaum kafir,
pertunjukan-pertunjukan gladiator, maupun hiburan-hiburan tak bermorak dalam
masyarakat kafir. Namun, meski betapa
kerasnya sikap para pemimpin gereja, secara perlahan-lahan musik menyelinap
masuk ke dalam gereja. Inovasi dalam seni musik banyak bermunculan saat puncak
abad pertengahan tiba. Guido d’Arezzo (1050) melengkapi sistem notasi yang
telah dikembangkan pada masa itu. Ia menggunakan lima garis paralel yang di
atasnya terdapat not-not balok untuk menandai pola titinada. Organ adalah alat
musik yang paling penting dalam abad pertengahan. Alat musik ini telah
diketemukan jauh sebelumnya. Selain alat musik tiup, alat musik bersenar juga
digunakan. Oarang Yunani kuno telah mengenal alat musik bersenar yang disebut
cithara. Alat ini dimainkan dengan jari.
Begitu
banyak aspek kehidupan akhir abad pertengahan yang menjadi sumber inspirasinya
para seniman Gothik. Dan begitu eratnya kaitan antara kreasi-kreasi kesenimanan
mereka dengan apa yang menjadi puncak-puncak peradaban Abad pertengahan, sehingga
periode ini kemudian lazim disebut Zaman
Gothik
“Sebelum seseorang melakukan studi tentang suatu
organisme, mengestimasi nilainya, atau bahkan memahaminya, ia harus tahu untuk
apa segalanya itu.”
(A.D. Sertillanges)
(A.D. Sertillanges)
Tidak ada institusi pada abad pertengahan yang
pengaruhnya sebesar pengaruh gereja Kristen. Semua orang yang dibabtis dengan sendirinya
menjadi jemaah gereja, dan hampir semua orang yang telah dibabtis terlahir
karena orang tuanya yang telah memeluk agama Kristen. Gereja senantiasa
mengumandangkan kepastian kehidupan absolut tetang kehidupan abadi manusia.
Gereja mengajarkan suatu sistem moral yang mengikat dalam setiap relasi
manusia. Aktifitas intelektual tidak dapat dilepaskan dari kehidupan gereja
karena, gerejalah yang mengembangkan teologi, filsafat, etika, kesusastraan dan
seni.
Apakah gereja itu?
Gereja adalah persekutuan
semua umat manusia yang mengakui Kristus, mengikuti sakramen, dan yang berada
di bawah gembala para pendeta, yang secara sah menjadi wakil san pemimpin di
dunia, yakni Paus.
Organisasi Gereja
Organisasi gereja pada
dasarnya bersifat monarkhis. Gereja bereda di dalam uslup Roma, yang memiliki
otoritas begitu besar kerena dialah pemegang kuasa kunci-kunci. Organisasi
gereja juga bersifat hierarkhis, dengan Paus sebagai pucuk pimpinan dan pendeta
jemaah atau pendeta lokal sebagai pimpinan yang paling bawah.
Kata papacy (kepausan) biasanya
diterapkan pada Paus dan pembantu-pembantunya, para kardinal dan pejabat didepartemen
–departemen istana kepausan Roma. Pemerintahan, gereja yang mencangkup wilayah
Eropa barat dan beberapa bagian di Asia dan Afrika serta Greenland,
mengharuskan adanya aktifitas administratuf yang luas.
Berbagai persoalan yang muncul dari aktivitas gereja yang benar-benar bersifat keagamaan diselesaikan dalam tiga tribunal (pengadilan) berikut ini:
Berbagai persoalan yang muncul dari aktivitas gereja yang benar-benar bersifat keagamaan diselesaikan dalam tiga tribunal (pengadilan) berikut ini:
1. Pengadilan Suci, yang bertugas menangani
persoalan-persoalan disipliner seperti pengucilan, pemegatan, dan pemberian
dispensasi.
2. Pengadilan Tinggi Roma, yang bertugas menangani
pelanggaran-pelanggaran hukum agama serta kasus-kasus naik banding
dipengadilan-pengadilan keuskupan.
3. Apostolus Signatura ( Pengadilan Kerasulan), yang
menangani kasus-kasus naik banding yang muncul dalam Pengadilan Tinggi Roma.
Persoalan lain yang muncul dari aktivitas praktis gereja yang begitu luas
diselesaikan dibeberapa departemen.
misalnya:
1. Dataria
(Departemen Personalia), yang menangani rekruitmen calon pemimpin gereja.
2. Apostolus
Chancellaria (Kanselir Kerasulan), yang menerbitkan dokumen-dokumen resmi
kepausan sehubungan dengan pengangkatan pejabat gereja dan hal-hal yang
berkaitan dengannya.
3. Apostolus
Camera (Kubah Kerasulan), yang menagani keuangan kepausan. Pada abad XIV
organisasi ini dibuat lebih sempurna lagi.
Wilayah seorang uskup disebut diocese (keuskupan). Luas wilayah
keuskupan sangat beragam. Di kawasan Mediterania misalnya, luas wilayah
keuskupan relatif lebih kecil dari pada
di kawasan Eropa Utara. Masing-masing
keuskupan dibagi kedalam beberapa archdeacon
(diakon utama) yang menangani persolan-persolan keuskupan yang menyangkut
anggota jemaah gereja diwilayahnya. Tempat tinggal uskup yakni diwilayah gereja
utama di sebut catedral berasal dari
bahasa Latin cathedra yang atinya kursi kata lain yang ledih halus dari mahkota
keuskupan. Uskup membawahi para pendeta lokal, dan bertanggung jawab atas semua
masalah yang berkaitan bengan persoalan keagamaan anggota jemaah gereja
diwilayahnya. seorang uskup memakai cincin, simbol dari perkawinan spiritual
dengan gereja, dan membawa tongkat yang merupakan simbol dari karyanya sebagai
pastor (penggembala umat).
Parish ( Kongregasi atau jemaah gereja) adalah unit terkecil dalam
administrasi gereja. Wilayah Kongregasi ini pun sangat bervariasi. Para pendeta
memperolah penghasilan dari tanah gereja serta potongan sepuluh persen dari setiap
penduduk manorial. Tugas keagamaan mereka adalah mengatus sakramen, memberikan
khotbah-khotbah keagamaan, dan merawat gereja serta rumah mereka sendiri.
Sakramen
Kebesaran kekuasaan gereja
itu antara lain ditunjukkan dalam sakramen, yang adalah media pedagosis dimana
khotbah-khotnah dan perintah-perintah keagamaan disampaikan, sakramen bukan
sekedar media penyampai perintah keagamaan, tetapi lebih jauh adalah perwujudan
dari persekutuan orang-orang yang beriman.
Kemujaraban sakramen sudah
dianggap pasti, agar mendapatkan kemujaraban sakramen seseorang agar memiliki
sikap metal yang benar.
Ada tujuh sekramen yakni:
1. Pembaptisan
2. Pengesahan
3. Penebusan dosa
4. Ekaristi Suci
5. Matrimoni (ikatan perkawinan)
6. Pemberian minyak suci
7. Orde-orde suci
Pengertian - Pengertian Sakramen:
·
Pembaptisan adalah sakramen pertama dalam kehidupan setiap umat Kristen. Dilakukan beberapa
hari sesudah kelahiran, dan lebih awal jika terancam kematian.
·
Sakramen konfirmasi (pengesahan) di ikuti ketika seorang anak telah cukup dewasa untuk
memahami ajaran gereja. Untuk menanamkan Roh Kudus, memberikan kekuatan agar si
penerima Roh Kudus itu menjadi umat Kristen yang saleh.
·
Sakramen penebusan dosa atau lazim disebut
konfensi, merupakan pengujian
terhadap suara hati seseorang. Di uji apakah ia benar-benar merasa menyesal
atas dosa yang telah ia perbuat. Sakramen penebusan dosa ini merupakan momentum
yang strategis dalam pengaturan kehidupan moral dan keagamaan seseorang
.
·
Ekaristi suci adalah sakramen yang menghadirkan tubuh dan darah kristus, yang disimbolisasikan
dengan roti dan anggur. Tujuannya adalah untuk membangun persekutuan spiritual
dengan kristus.
·
Matrimoni adalah
juga sebuah sakramen. Perkawinan sepasang umat Kristen dianggap tidak sah jika
tidak dilaksanakan di dalam gereja.
·
Pemberian minyak suci adalah sakramen terakhir dalam kehidupan setiap umat
Kristen. Sudah termasuk konfesi atau penebusan dosa jika yang bersangkutan
tidak terlalu sakit.
·
Orde-orde suci adalah sakramen pentahbisan seorang pendeta atau pastor, yang dengan
demikian ia memiliki wewenang untuk menyelanggarakan sakramen-sakramen.
Disiplin Gereja
Gereja sangat menyentuh semua aspek
kehidupan di abad pertengahan. Apa yang terjadi pada orang yang menolak disiplin
gereja? Ia dikucilkan, dikeluarkan dari persekutuan kaum beriman. Ini merupakan
hal yang serius, sebab jika ia meninggal dengan membawa dosa-dosa yang berat
sekali, jiwanya akan lenyap. Ini dianggap sebagai hukuman berat, karena anggota
keluarganya tidak dapat membantu berbuat apa-apa.
Kependetaan: Sekuler dan Reguler
Kependetaan dibagi kedalam dua
kelompok, yakni sekuler dan reguler. Yang pertama, berasal dari bahasa Latin seculum, yang artinya bertugas
memberikan kebaktian-kebaktian di dunia, bukan di biara. Mereka inilah yang
mengatur penyelenggaraan sakramen, mengelola organisasi gereja, dan
mendisiplinkan umat. Pendeta jemaat, uskup uskup agung, kardinal dan Paus
adalah termasuk kelompok yang pertama. Sedangkan yang termasuk kelompok yang
kedua, yang reguler – bersal dari bahasa Latin regula, yang artinya rule – adalah para biarawan, seperti biarawan
ordo St. Benedictus. Mereka inilah para poendeta yang menarik diri dari dunia
ramai, yang menjalani suatu kehidupan damai, dan mencurahkan diri hampir
sepenuhnya untuk menghayati kehidupan.
Gereja dan Feodalisme
Organisasi gereja yang begitu rumit, yang memiliki otoritas
khusus dalam keimanan, moralitas dan disiplin, dalam abad X dan XI dihadapkan pada suatu krisis yang gawat ketika masyarakat
masih terfeodalisasikan. Hubungan feodal merupakan hubungan yang rumit dan membingungkan hal ini
berakibat pada menggejalanya korupsi, yang merendahkan moralitas para pendeta
dan kaum awam, dan mengancam misi keagamaan gereja. Para tuan manor sering
melakukan simony, yakni menjual atau
membeli jabatan kegerejaan sekedar sebagai kesempatan untuk mencari uang.
Penyalahgunaan hal lainnya terjadi
dalam hal pentahbisan, para bangsawan feodal atau raja selalu berusaha
mempengaruhi jalannya pemilihan uskup dan kepala biara. Setelah, pemilihan usai, para bangsawan
feodal atau raja “menobatkan” uskup itu dengan memakaikan cincin dan tongkat
sebagai simbol jabatan keuskupan. Dengan munculnya penyimpangan ini, kehidupan
keagamaan dan disiplin gereja lalu berada dibawah kontrol raja atau para
bangsawan feodal. Hal ini mendapat tantangan keras dari orang yang masih
menaruh kepedulian terhadap kemurnian gereja.
Perkawinan pendeta juga merupakan
ancaman yang serius bagi gereja, sejak awal pendeta memang sudah kawin, tetapi
sebenarnya gereja menganjurkan kehidupan selibat,
agar mereka mencapai kehidupan yang lebih sempurna.
Kongregasi Cluny
Biara induk cluny di Burgundia didirikan pada tahun 910.
Duke William dari Aquitane dan istrinya menyisihkan beberapa bidang tanah untuk
membangun biara dan menetapkan bahwa biara itu sepenuhnya dan selamanya berada
di bawah perlindungan Kepausan Suci, dan kepala biaranya dipilih secara bebas.
Biara baru ini tidak untuk diperjual belikan, dan kepala biaranya tidak
ditasbihkan oleh raja. Dari sinilah Cluny menjadi pusat perlawanan yang keras
terhadap kebobrokan-kebobrokan masyarakat feodal.
Pendiri kongregasi ini senantiasa
berpesan agar para biarawan itu selalu menjalankan kebajikan lama yang penuh
dengan keramah tamahan. Hal ini rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi
sejumlah orang besar untuk mengunjungi Cluny. Tujuan Cluny adalah memuliakan
ajaran gereja dalam setiap langkah kehidupan.
Abad XI menyaksikan kembali awal
kehidupan keagamaan, hal ini jelas tidak dapat dipisahkan dari suntikan energi
spiritual baru gereja.
Para biarawan Cluny memang gigih
dalam mendorong Truce of God (genjatan
Senjata atas Nama Allah) yang melengkapi perdamaian Al-lah. Dengan ketentuan ini dileluarkan larangan berperang mulai
dari kamis sore hingga senin pagi. Bagi siapa yang melanggarnya akan mendapat
hukuman dikucilkan dan interdiksi.
Pengaruh biarawan Cluny mulai terasa
di banyak daerah, bahkan hingga kepausan Roma. Dari Cluny ini juga muncul pendirian
yang tegas bahwa harus dipilih secara bebas, lepas dari para pengaruh penguasa
politik. Para kaisar Jermanlah yang sering mencampurtangani pemilihan Paus, dan
mendiktekan pilihan mereka. Akhirnya, pada 1059, dikeluarkan dekrit yang
mengatur pemilihan paus. Dekrit ini dikeluarkan oleh dewan gereja Roma tanpa
berkonsultasi pada dengan kaisar.
Mencegah adanya korupsi dan kekerasan. Dokumen ini ditandatangani oleh delapan
uskup dan diaken, menetapkan kolese
kardinal, yakni sebuah badan kependetaan yang sejak saat itu hingga kini
berperan dalam pemilihan paus.
Perjuangan Pentahbisan
Kebrobokan-kebrokan yang dapat
menghancurkan gereja, misalnya seperti praktek-praktek jual beli jabatan
kegerejaan, pentahbisan awam, dan perkawinan para pendeta. Menjadi sasaran
kritik serangan Gregorius VII, Paus dari 1073 hingga 1085 berselisih sengit
tentang pentahbisan ini dengan kaisar Jerma Henry IV, yang memrintah dari 1056
hingga 1106. Diduga bahwa Gregorius pernah hidup membiara di Cluny. Ia banyak
terpengaruh oleh gagasan para biarawan Cluny. Gregorius mendesak agar Henry
meninggalkan praktek jual beli jabatan, dan berhenti mencampurtangani pemilihan
uskup. Dilain pihak, Henry bersikeras mempertahankan pendapatnya bahwa adalah
haknya untuk menjual jabatan, mempengaruhi pemilihan uskup dan mentasbihkan
uskup dengan memakaikan cincin serta tongkat yang berfungsi sebagai lambang
kekuasaan.
Gregorius mengungkapkan ide-idenya
tentang hubungan antara gereja dan negara, serta asal-usul dari kedua kekuasaan
tersebut. Teorinya ini banyak di anut oleh para pemikir abad pertengahan. Di
katakan bahwa ada dua kekuasaan di bumi yakni negara dan gereja. Keduanya sama-sama
diciptakan oleh Tuhan. Gereja yang dibangun oleh kristus didirikan untuk mengajarkan
tentang keselamatan, karena didrikan untuk melindungi kesejahteraan abadi umat
manusia, gereja lebih penting dari pada negara.
Negara,
menurut Gregorius diciptakan karena manusia telah terjatuh dari
kesepurnaannya. Negara memang juga diciptakan Tuhan tapi hanya untuk urusan
duniawi, yakni mengawasi manusia yang telah bejat akhlaknya. Negara
mengandalikan kejahatan manusia, sementara gereja mengembangkan kehidupan akal
manusia. Oleh karena itu kehidupan gereja lebih penting dari pada negara, dan
kaisar salah besar jika memperjualbelikan jabatan kegerejaan dan melakukan pentahbisan
awam.
Pertikaian merupakan krisis serius
dalam bidang politik dan agama. Pertikaian tetap berlanjut setelah kematian
Henry IV. Anaknya Henry V (1125) membuat perjanjian dengan Paus Calixtus II,
perjanjian ini kemudian dikenal dengan nama “Concordat of Worms of 1122”. Henry
menghentikan praktek simoni dan pentahbisan awam. Dilain pihak paus tidak
keberatan akan kehadiran kaisar dalam pemilihan uskup dan kepala biara.
Pemilihan tiidak boleh siwarnai dengan simoni dan kekerasan. Selanjutnya, setelah
pemilihan uskup dan kepala biara menerima tongkat lambang kekuasaan politis dan
kekaisaran.
Skisma Yunani
Gereja dalam perkembangan
selanjutnya pecah dalam kedua bagian; di Barat: Latin, Kelt, dan Jerman. Di
Timur: Yunani dan Slav. Perpecahan ini dikenal dengan istilah Skisma Yunani.
Terjadi pada tahun 1054.
Telah lama terdapat kesalingpahaman dan
perbedaan pendapat antara Roma dan Konstatinopel. Yang disebutkan pertama mewarisi
kebudayaan yang bercorak Latin, sedangkan yang kedua bercorak Yunani. Patriarkh
Konstatinopel, yang iri kepada Paus di Roma, menyangkal klaim-klaim St. Petrus.
Selain itu, antara kedua gereja itu juga terdapat perbedaan-perbedaan dogma.
Kesalingpahaman terus menerus terus meningkat, sampai akhirnya datang utusan
paus di Konstatinopel dan meletakkan dekrit pengucilan diatas altar gereja
Khatolik Roma di Barat, dan gereja Yunani (atau Khatolik Ortodoks) di Timur.
Ordo Carthusian
Monarkisme tetap populer sepanjang
Abad Pertengahan. Banyak ordo baru bermunculan, yang satu dengan yang lainnya
ada perbedaan yang besar. Ordo baru yang pertama adalah ordo Carthusian yang
didirikan pada 1084. Gagasan dasarnya adalah adalah penyangkalan diri secara
aksetis, yang tampaknya berbeda dari ide dasar ordo Benedictus dan kongregasi
Cluny. Pendirinya adalah St. Bruno dari Cologne, yang dengan sekelompok kecil
pengikutnya membangun biara di daerah yang sulit dijangkau orang disuatu tempat
di Burgundia yang disebut Chartreuse.
Para biarawan Ordo Cathusian ini
bermata pencarian antara lain dengan menggembalakan ternak dihutan. Dengan uang
yang mereka peroleh dari penjualan kulit ternak itulah mereka membeli makanan
dan barang-barang keperluan lainnya. Berbeda dari kongregasi Cluny mereka
sangat tidak suka pada kemegahan dan kemewahan misa-misa keagamaan. Secara
persisten mereka mampu mempertahankan jalan hidup yang sangat asketis ini
selama abad enam.
Ordo Cistercian
Ordo ini didirikan pada 1098. Sekelompok kecil orang,
yang muak dengan kemewahan para biarawan Cluny. Membuka calon komplek
persemedian di hutan Citeaux dekat Dijon, Burgundia. Mereka melatih diri mereka
untuk hidup miskin dan sederhana.
Meskipun pada awalnya menentang
kemewahan hidup Cluny tapi pada perkembangannya Ordo Cistercian mengalami
kemakmuran. Tokoh terbesar ordo ini adalah St. Bernard dari Clairvaux (1153).
Nama ordo ini terkenal luas pada 1152, ordo ini memiliki 330 biara yang
terdsebar di Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Inggris, dan Belanda.
Ordo Premonstratensian
Ordo ini didirikan pada 1120. Ordo
ini berbeda dari ordo-ordo Benecditus, Carthusian, dan Cistercian. Ordo ini
beranggotakan para pendeta yang sekaligus biarawan. Sedangkan kebanyakan
ordo-ordo lainya beranggotakan para biarawan yang tidak pernah menjadi pendeta.
St. Norbert mendirikan biara
premonstratensian yang pertama didekat Leon, Prancis. Karena para pendeta
anggota ordo ini mempunyai tugas untuk berkhotbah, mengajar, mendengarkan
pengakua-pengakuan dosa dan tugas-tugas kependetaan lainya, biara-biara ordo
ini dibangun didekat kota-kota, dimana mereka bisa melakukan layanan kepada
setiap umat. Ordo ini menarik, karena inilah institusi kebiaraan pertama dalam
Abad Pertengahan yang mengadabtasikan model kehidupan keagamaannya sesuai
dengan kebutuhan warga kota. Model ini kemudian banyak ditiru ordo-ordo
lainnya, seperti Franciscan dan Dominican.
Ordo Kariatif
Di pusat-pusat industri dan perdagangan baru tumbuhlah
ordo-ordo yang melayani kaum miskin. Karitas merupakan kebijakan nilai
kristiani yang terus menerus ditanamkan sejak semula. Pada Abad pertengahan
penyakit kusta memeng merupan gejala yang endemis, terutama sebelum kebiasaan
mandi secara teratur di praktekan para warga kota-kota yang baru bermunculan.
Satu hal yang khas dalam ordo-ordo kariatif ini adalah
bahwa sebagian besar anggotanya bukan para biarawan atau pendeta, tetapi justru
kaum awam. Namun, beberapa ciri kebiaraannya tetap bertahan. Artinya, beberapa
aturan yang lazim berlaku dalam kehidupan di biara-biara wajib dipatuhi
anggota-anggotanya, termasuk yang awam. Misalnya seperti hidup secara sederhana
dan saleh tetapi tidak harus selibat.
Sekte
Albigenses
Sekte Albigenses ini boleh dikatakan merupakan semacam
penjelmaan dari kelompok bid’ad manikhea kuno- yang dulu secara tak
henti-hentinya diburu-buru oleh St, agustinus. Ajarannya merupakan campur aduk
tak karuan antara pandangan-pandangan paganisme dan kristen. Sekte ini
mengajarkan bahwa di dunia ini terdapa pertarungan abadi antara kekuatan baik
dan kekuatan jahat. Kekuatan baik berkaitan dengan roh, sedangkan kekuatan
jahat berkaitan dengan materi. Kreasi material adalah hasil dari pertarungan
antara kedua kekuatan tersebut. Oleh karena itu Sang Pencipta alam semesta ini
tak mungkin Tuhan Yang Maha pemurah. Tuhan dalam perjanjian lama adalah jahat.
Kristus tidak mungkin menampakkan diri secara fisik dalam tubuh manusia.
Perkawinan adalah suatu kejahatan, karena perkawinan mengekelkan wadaq fisik
manusia. Pokoknya, agama khatolik itu jahat, sakramen-sakramennya itu palsu,
dan ajaran-ajaranya tak perlu dipatuhi. Sekte albigenses ini kmengenal satu
sakramen inisiasi, yakni consolamentum. Di dalam sakramen ini mereka
mengucapkan kata-kata yang menolak segala ajaran khatolik. Sebagian besar
ajaran sekte ini berkaitan dengan seks, satu hal yang sungguh mereka benci.
Adalah dosa besar bagi seorang leleki menyentuh seorang wanita, bahkan dengan
cara yang tidak ofensif sekalipun. Jalan keluar dari kesulitan ini, bagi yang
mempercayai ajaran sekte ini, adalah endura atau bunuh diri. Hal ini mereka
percayai sebagai suatu yang terpuji, karena dengan bunuh diri ini jiwa mereka akan
terbebaskan dari segala hal yang bersifat material.
Mereka merupakan ancaman yang serius bagi gereja. Mereka
menentang praktek pengambilan sumpah didepan pengadilan atau dalam
seremoni-seremoni di depan publik. Para pengikut sekte albigenses itu menolak
pengambilan sumpah dengan mendasarkan diri pada injil Matius 5:36 kuadrat.
Ajaran-ajaran semacam itu tidak munkin diterima dalam masyarakat abad
pertengahan yang mendasarkan diri pada kepatuhan, dan dimana kesatriaan merupakan suatu yang diidealisasikan. Maka,
pada abad XIII masyrakat Eropa Kristen bersatu dipihak gereja dan negara untuk
membasmi sekte atau kelompok bid’ah albigenses ini. Dari sinilah lalu muncul
inkuisisi yakni suatu pengadilan yang mencabut semua ajaran sekte albigenses.
Inkuisisi
Hukuman utamanya berupa penyitaan harta benda mereka atau pembuangan. Hukuman ini masih lebih manusiawi dari pada hukuman yang di jatuhkan oleh masa fanatik, yakni membakar mereka hidup-hidup.
Dibawah kaisar Frederick II, yang
berkuasa dari 1212 sampai dengan 1250, sifat inkuisisi ini banyak berubah. Pada tahun 1224 ia mengeluarkan suatu
undang-undang yang menyatakan bahwa pengikat gerakan bid’ah dijatuhi hukuman
bakar atau potong lidah. Inkuisisi dipindahkan dari tangan para uskup ke tangan
dua ordo yang baru saja muncul, yakni Dominican dan Fransiscan. Akhirnya,
Innocentius IV, Paus dari 1243 hingga 1254, mengesahkan penggunaan penyiksaan
atas para bid’ah, seperti yang sering diterapkan dalam pengadilan negara.
St. Franciscus dari Assisi
Ordo
Biarawan Minor didirikan oleh St. Fransiscus (sekitar 1181-1226), seorang
biarawan yang benar-benar tulus hati. Ia berasal dari keluarga pedagang kaya di
Assisi, sebuah kota kecil di Italia tengah tempat ia menjalani hidup dengan
penuh kegembiraan, tidak memikirkan masalah-masalah kehidupan. Akhirnya, ia
benar-benar tampak tergugah oleh kata-kata Yesus sebagaimana ditulis dalam
injil Matius dan kemudian mencurahkan dirinya untuk berkhotbah terhadap kaum
miskin dan papa di daerah Umbria.
Kejeniusan
St. Franciscus terungkap dalam Little
Flowers of St. Francis yang
merupakan kumpulan cerita tentang kesalehan sang santo ini kumpulan cerita ini,
yang di susun setelah kematiannya. Dengan dua belas muridnya ia pergi ke Roma,
memohon kepada Paus Innocentius III untuk mendirikan sebuah ordo.
Tujuan
ordo Francisus yang pertama ini, yang terdiri dari para Biarawan Kecil, adalah
untuk menirukan teladan Yesus. Para anggotanya disebut bruder atau frater secara
berpasang-pasangan menjelajahi seluruh negeri, berkhotbah dan membantu kaum
miskin. Mereka itu sebenarnya adalah kaum awam yang hidup dalam aturan,
kebiaraan, tetapi tetap bukan atau belum betul-betul menjadi biarawan atau
pendeta tetapi tetap bukan atau belum betul-betul menjadi biarawan atau pendeta.
Jadi ordo yang pertama ini merupakan perpaduan antara idealisasi hidup
kebiaraan dan kehidupan kaum awam.
Prinsip utama mereka tampak paradoksal dengan manusia modern, yang selalu
berpikir bahwa tanpa benda-benda material hidup adalah hampa. “Kemiskinan” kata
para murid Franciscus itu, “tercapai dalam ketidakpunyaan dan ketidakinginan ,
kecuali dalam keinginan akan semangat pembebasan. “dalam” “kebebasan” inilah
manusia mereguk kemerdekaan spiritual yang merupakan jalan ajaran-ajaran Yesus.
Ordo
kedua dibentuk pada tahun 1212. Ordo ini terdiri dari kaum wanita, yang
merupakan pasangan kerja para murid St. Franciscus. Ordo ini didirikan oleh St.
Klara- putri dari sebuah keluarga kaya di Assisi yang sejak muda terpesona pada
kesalehan St. Franciscus.
Ordo
ketiga: para Bruder dan suster penubusan dosa. Ordo-ordo fransiscan ini, yang
menaruh kepedulian yang dalam terhadap tatanan masyarakat kota, cukup mendorong
gereja untuk menyesuaikan dirinya untuk dengan kondisi-kondisi sosial yang
tengah berubah.
Ordo Dominican
Ordo ini didirikan oleh seorang
Spanyol yang bernama St. Dominica (1170-1121) pada 1216. Ia adalah seorang anggota
yang berhasrat kuat untuk mengendalikan para pengikut kelompok bid’ah Albigenses
kedalam gereja. Seperti para anggota ordo Francicscus, anggota ordo juga
menjalani hidup dalam kemiskinan. Mereka hidup dari sedekah orang lain. Itulah
sebabnya mereka disebut biarawan peminta-minta.
Para anggota ordo ini sangat
berminat pada ilmu pengetahuan. Hal ini didorong oleh hasrat untuk membantah
pandangan-pandangan yang berbau bid’ah. Banyak anggota ordo Dominican yang
terpelajar yang kemudian menjadi guru besar teologi di universitas-universitas
yang mulai bermunculan dimasa itu.
Makna Sosial Remisi Hukuman
Remisi ini diberikan untuk menghapus
hukuman dosa, bukan untuk menghapus kesalahan dosa itu yang adalah wewenang
adalah Tuhan untuk menganpuninya, dan hanya efektif jika yang bersangkutan telah
benar-benar mengakui dosa-dosanya. Penerima remisi hukuman itu biasanya lalu
diwajibkan memberikan jaminan yang berupa uang atau tenaga kerja. Satu hal yang
harus digaris bawahi adalah bahwa yang terpenting dalam pemberian remisi ini
bukan jaminanya, tetapi kedisiplinan moral dan religius orang yang menerima
penebusan tersebut. Uang jaminan atau tenaga kerja yang diberikan oleh penerima
hukuman remisi itu biasanya diberikan untuk membangun atau merawat gereja. Uang
jaminan itu juga digunakan untuk memberikan semacam pensiunan bagi para veteran
perang salib. Selain itu juga digunakan untuk mebiayai proyek-proyek sosial
yang berguna, seperti pembangunan jalan, parit, bendungan, tanggul, pelabuhan,
bendungan, benteng, serta pendayaagunaan tanah-tanah kosong.
Kalender
Pengaruh agama sedemikian kuatnya sehingga
orang menyusun penanggalan didasarkan atas orang hari-hari suci. Mereka tidak
menulis “24 Juni 1330”, tetapi “Hari Raya St.Yohannes Pembabtis, 1330”. Bahkan
mereka sering menyusun penanggalan peristiwa-peristiwa berdasarkan hari-hari
besar gereja, yang tidak jarang berubah-ubah, sehingga memperumit perhitungan.
Jelaslah kini agama merupakan sumber inspirasi bagi basis-basis peradaban abad
pertengahan. Sejak semula gereja kristen telah mengajarkan pandangan hidup yang
konsisten, dan mengilhami konsepsi ideal tentang perilaku etis melalui sakramen-sakramen.
Reformasi, dalam sejarah gereja adalah gerakan yang dimulai oleh Martin Luther
pada abad XVI, yang bertujuan untuk mereformasi, gereja Khatolik Roma dan
kemudian menghasilkan protestanismepent.











