Kehidupan ibadat santri di atur dalam waktu oleh
sembayang lima kali. Ada tiga lembaga tempat sembahyang dilakukan secara khas
yakni di :
1. Rumah
2. Langgar
3. Kampung dan Masjid desa.
Sembayang subuh,lohor, dan isya biasanya dilakukan di
rumah, sembayang magrib sering dilakukan oleh orang laiki-laki, orang
perempuan selalu bersembayang di rumah
dengan beberapa teman di langgar yang berdekatan, sembayang jumat
selalu dilakukan di masjid
bersama seluruh umat desa. Ia adalah titik pertemuan sembahyang yang dipolakan
secara duniawi karenake setiaan melakukan sembayanglah yang akhirnya menentukan
santri bukannya seseorang. Kaum priyayi dan abangan hampir tak pernah
melakukannya. Kelompok sosial menurut bagan berdasarkan ruang terdiri dari rumah tangga,
tetangga, dan desa yang membentuk jemaah
islam desa
SEMBAHYANG
Sebenarnya, perkataan “prayer” (inggris) bukanlah
terjemahan yang tepat untuk salat (juga disebut sembahyang), karena berbeda
dengan sembahyang kristen. Salat ditetapkan sebagai waktunya tetapi juga bentuk dan
isinya, karena perbedaan yang tajam antara ibadah wajib dan doa perorangan yang
sukarela, yang mungkin dilakukan orang untuk memohon kepentingan sendiri, yang
bisa dilakukan kapan saja, dengan bagaimana saja perumusan dan dalam bahasa
jawa kuno bukan dalam bahasa jawa ara kalau orang menghendakinya. Dengan
demikian salat lebih baik diterjemahkan dengan ritual incantation
• Bentuk salat di Indonesia sama saja dengan di negri islam
lainnya yang mana pun juga.
• Para santri mengerjakan salat secara teratur tetapi
mereka tidak berbeda dengan kecermatan mengerjakannya.
POLA SEMBAHYANG PETANI (DIDESA)
Pola sembahyang sesuai benar dengan siklus khas kehidupan
kehidupan sehari-hari petani. Sembahyang pukul 5.00 pagi menyebabkan ia bangun
pagi-pagi dan bekerja awal sekali. Tengah hari atau pukul 2.00 pekerjaan
selesai dan sembahyang yang kedua bisa di kerjakan dan dilanjutkan makan dan
tidur siang. Pada pukul 3.00 atau 4.00 sore ia bangun untuk sembahyang asar dan
kemudian bisa balik lagi ke sawah kalau pekerjaannya sangat berat. Kemudian
sembahyang magrib dilaksanakan di
langgar dan sembayang isya dilakukan setelah makan malam dan kemudian tidur
POLA SEMBAHYANG DIKOTA
Di kota, pola sembahyang tidak sebaik itu kesesuaiannya.
Pekarjaan kota biasanya menimbulkan masalah dalam pelaksanaan sembahyang dengan
benar dan tepat waktu Seorang santri mengatakan bahwa orang santri sering tidak
suka masuk tentara karena tugas rutin militer sering menyulitkannya
melaksanakan salat. Bagi kebanyakan santri, mengerjakan salat tidak demikian
terpisah dari pertimbangan yang lebih duniawi seperti mencari makan, seperti
tampaknya : seperti perbuatan orang katolik membuat tanda salib pada dirinya,
sembahyang harian merupakan semacam reflek ritual yang menjamin baik
kesejahteraan material maupun spiritual seseorang.
SALAT JUM’AT
Sembahyang jum’at berjamaah mencerminkan lambang
kebersamaan umat seluruh desa dan
perasaan memiliki masjid sendiri sedemikian kuatnya, hingga orang yang berpindah
dari desa ke kota yang berdekatan sering kembali ke masjid di desanya untuk
sembahyang jum’at.
Khotbah pada Salat jum’at menjadi persoalan apakah harus
diterjemahkan atau tidak masih menjadi masalah yang hangat. Kebanyakan masjid
yang konservatif enggan melakukannya dan selalu menggunakan khotbah berbahasa
arab yang ditulis bertahun-tahun yang lampau oleh seorang kiai jawa yang
termasyur dari semarang.
PUASA
Dengungan dari pola salat-umat yang saling berkaitan yang
mengalun dengan sangat rata sepanjang sebelas bulan dalam satu tahun dan
membagi tiap hari dalam bagian-bagian yang sudah pasti menghimpun
tetangga-tetangga santri tiap malam dan desa santri tiap jum’at, mencapai
semacam kresendo (crescendo) pada Bulan Puasa, ketika kegiatan yang benar-benar
bersifat keagamaan tiba-tibga meningkat dan kegiatan yang semata-mata sekuler
dikendorkan. Sesudah matahari terbenam setiap hari di bulan puasa
setiap orang makan sekenyang-kenyangnya dan berkumpul di langgar atau di masjid
kalau mereka tinggal di dekatnya untuk melakukan sembahyang malam dan sesudah
itu traweh dan ndarus.
Traweh terdiri dari salat-salat tambahan yakni
salat-salat, bukan do’a-do’a yang bebas, sebagian kewajiban-kewajiban tambahan
pada puasa walaupun sebenarnya salat itu bersifat sukarela saja selama bulan
puasa.
Ndarus adalah pembacaan Al Qur’an ayat demi ayat yang
bersifat sukarela juga dan dirasakan agak kurang resmi dibandingkan dengan
traweh.
Mengenai puasa, para santri melaksanakannya dengan baik
walaupun beberapa orang abangan dan sejumlah priyayi juga melakukannya.
Berpuasa sepanjang hari saban hari selama sebulan bagi
banyak orang sangat berat.
Tiga Alasan mengapa orang
harus berpuasa menurut santri :
1. Untuk
merasakan bagaimana rasanya lapar
2. Untuk
menunjukkan ketaatan pada perintah Tuhan
3.Untuk
memperkuat diri agar orang sanggup menanggung
penderiataan
apapun yang menimpanya.
Puasa merubah jam-jam makan dan
menggeser jam tidur mereka yang menjalankannya. Puasa diakhiri pada waktu
matahari terbenam dengan sekedar makanan kecil, biasanya kurma atau sepotong
buah yang disebut buka atau pembukaan. Dengan tibanya Riyana, bulan yang
terbaik ini berakhir dalam hari raya hampir serupa dengan hari Paskah, ketika
setiap orang membeli pakaian baru, mengunkungi teman dan menyiapkan pesta.
Tetapi Riyaya bukan hanya hari besar santri ia adalah hari yang dirayakan oleh
orang jawa, tak peduli apa pun agama dan kepercayaan
“Sebelum seseorang melakukan studi tentang suatu
organisme, mengestimasi nilainya, atau bahkan memahaminya, ia harus tahu untuk
apa segalanya itu.”
(A.D. Sertillanges)
(A.D. Sertillanges)
Tidak ada institusi pada abad pertengahan yang
pengaruhnya sebesar pengaruh gereja Kristen. Semua orang yang dibabtis dengan sendirinya
menjadi jemaah gereja, dan hampir semua orang yang telah dibabtis terlahir
karena orang tuanya yang telah memeluk agama Kristen. Gereja senantiasa
mengumandangkan kepastian kehidupan absolut tetang kehidupan abadi manusia.
Gereja mengajarkan suatu sistem moral yang mengikat dalam setiap relasi
manusia. Aktifitas intelektual tidak dapat dilepaskan dari kehidupan gereja
karena, gerejalah yang mengembangkan teologi, filsafat, etika, kesusastraan dan
seni.
Apakah gereja itu?
Gereja adalah persekutuan
semua umat manusia yang mengakui Kristus, mengikuti sakramen, dan yang berada
di bawah gembala para pendeta, yang secara sah menjadi wakil san pemimpin di
dunia, yakni Paus.
Organisasi Gereja
Organisasi gereja pada
dasarnya bersifat monarkhis. Gereja bereda di dalam uslup Roma, yang memiliki
otoritas begitu besar kerena dialah pemegang kuasa kunci-kunci. Organisasi
gereja juga bersifat hierarkhis, dengan Paus sebagai pucuk pimpinan dan pendeta
jemaah atau pendeta lokal sebagai pimpinan yang paling bawah.
Kata papacy (kepausan) biasanya
diterapkan pada Paus dan pembantu-pembantunya, para kardinal dan pejabat didepartemen
–departemen istana kepausan Roma. Pemerintahan, gereja yang mencangkup wilayah
Eropa barat dan beberapa bagian di Asia dan Afrika serta Greenland,
mengharuskan adanya aktifitas administratuf yang luas.
Berbagai persoalan yang muncul dari aktivitas gereja yang benar-benar bersifat keagamaan diselesaikan dalam tiga tribunal (pengadilan) berikut ini:
Berbagai persoalan yang muncul dari aktivitas gereja yang benar-benar bersifat keagamaan diselesaikan dalam tiga tribunal (pengadilan) berikut ini:
1. Pengadilan Suci, yang bertugas menangani
persoalan-persoalan disipliner seperti pengucilan, pemegatan, dan pemberian
dispensasi.
2. Pengadilan Tinggi Roma, yang bertugas menangani
pelanggaran-pelanggaran hukum agama serta kasus-kasus naik banding
dipengadilan-pengadilan keuskupan.
3. Apostolus Signatura ( Pengadilan Kerasulan), yang
menangani kasus-kasus naik banding yang muncul dalam Pengadilan Tinggi Roma.
Persoalan lain yang muncul dari aktivitas praktis gereja yang begitu luas
diselesaikan dibeberapa departemen.
misalnya:
1. Dataria
(Departemen Personalia), yang menangani rekruitmen calon pemimpin gereja.
2. Apostolus
Chancellaria (Kanselir Kerasulan), yang menerbitkan dokumen-dokumen resmi
kepausan sehubungan dengan pengangkatan pejabat gereja dan hal-hal yang
berkaitan dengannya.
3. Apostolus
Camera (Kubah Kerasulan), yang menagani keuangan kepausan. Pada abad XIV
organisasi ini dibuat lebih sempurna lagi.
Wilayah seorang uskup disebut diocese (keuskupan). Luas wilayah
keuskupan sangat beragam. Di kawasan Mediterania misalnya, luas wilayah
keuskupan relatif lebih kecil dari pada
di kawasan Eropa Utara. Masing-masing
keuskupan dibagi kedalam beberapa archdeacon
(diakon utama) yang menangani persolan-persolan keuskupan yang menyangkut
anggota jemaah gereja diwilayahnya. Tempat tinggal uskup yakni diwilayah gereja
utama di sebut catedral berasal dari
bahasa Latin cathedra yang atinya kursi kata lain yang ledih halus dari mahkota
keuskupan. Uskup membawahi para pendeta lokal, dan bertanggung jawab atas semua
masalah yang berkaitan bengan persoalan keagamaan anggota jemaah gereja
diwilayahnya. seorang uskup memakai cincin, simbol dari perkawinan spiritual
dengan gereja, dan membawa tongkat yang merupakan simbol dari karyanya sebagai
pastor (penggembala umat).
Parish ( Kongregasi atau jemaah gereja) adalah unit terkecil dalam
administrasi gereja. Wilayah Kongregasi ini pun sangat bervariasi. Para pendeta
memperolah penghasilan dari tanah gereja serta potongan sepuluh persen dari setiap
penduduk manorial. Tugas keagamaan mereka adalah mengatus sakramen, memberikan
khotbah-khotbah keagamaan, dan merawat gereja serta rumah mereka sendiri.
Sakramen
Kebesaran kekuasaan gereja
itu antara lain ditunjukkan dalam sakramen, yang adalah media pedagosis dimana
khotbah-khotnah dan perintah-perintah keagamaan disampaikan, sakramen bukan
sekedar media penyampai perintah keagamaan, tetapi lebih jauh adalah perwujudan
dari persekutuan orang-orang yang beriman.
Kemujaraban sakramen sudah
dianggap pasti, agar mendapatkan kemujaraban sakramen seseorang agar memiliki
sikap metal yang benar.
Ada tujuh sekramen yakni:
1. Pembaptisan
2. Pengesahan
3. Penebusan dosa
4. Ekaristi Suci
5. Matrimoni (ikatan perkawinan)
6. Pemberian minyak suci
7. Orde-orde suci
Pengertian - Pengertian Sakramen:
·
Pembaptisan adalah sakramen pertama dalam kehidupan setiap umat Kristen. Dilakukan beberapa
hari sesudah kelahiran, dan lebih awal jika terancam kematian.
·
Sakramen konfirmasi (pengesahan) di ikuti ketika seorang anak telah cukup dewasa untuk
memahami ajaran gereja. Untuk menanamkan Roh Kudus, memberikan kekuatan agar si
penerima Roh Kudus itu menjadi umat Kristen yang saleh.
·
Sakramen penebusan dosa atau lazim disebut
konfensi, merupakan pengujian
terhadap suara hati seseorang. Di uji apakah ia benar-benar merasa menyesal
atas dosa yang telah ia perbuat. Sakramen penebusan dosa ini merupakan momentum
yang strategis dalam pengaturan kehidupan moral dan keagamaan seseorang
.
·
Ekaristi suci adalah sakramen yang menghadirkan tubuh dan darah kristus, yang disimbolisasikan
dengan roti dan anggur. Tujuannya adalah untuk membangun persekutuan spiritual
dengan kristus.
·
Matrimoni adalah
juga sebuah sakramen. Perkawinan sepasang umat Kristen dianggap tidak sah jika
tidak dilaksanakan di dalam gereja.
·
Pemberian minyak suci adalah sakramen terakhir dalam kehidupan setiap umat
Kristen. Sudah termasuk konfesi atau penebusan dosa jika yang bersangkutan
tidak terlalu sakit.
·
Orde-orde suci adalah sakramen pentahbisan seorang pendeta atau pastor, yang dengan
demikian ia memiliki wewenang untuk menyelanggarakan sakramen-sakramen.
Disiplin Gereja
Gereja sangat menyentuh semua aspek
kehidupan di abad pertengahan. Apa yang terjadi pada orang yang menolak disiplin
gereja? Ia dikucilkan, dikeluarkan dari persekutuan kaum beriman. Ini merupakan
hal yang serius, sebab jika ia meninggal dengan membawa dosa-dosa yang berat
sekali, jiwanya akan lenyap. Ini dianggap sebagai hukuman berat, karena anggota
keluarganya tidak dapat membantu berbuat apa-apa.
Kependetaan: Sekuler dan Reguler
Kependetaan dibagi kedalam dua
kelompok, yakni sekuler dan reguler. Yang pertama, berasal dari bahasa Latin seculum, yang artinya bertugas
memberikan kebaktian-kebaktian di dunia, bukan di biara. Mereka inilah yang
mengatur penyelenggaraan sakramen, mengelola organisasi gereja, dan
mendisiplinkan umat. Pendeta jemaat, uskup uskup agung, kardinal dan Paus
adalah termasuk kelompok yang pertama. Sedangkan yang termasuk kelompok yang
kedua, yang reguler – bersal dari bahasa Latin regula, yang artinya rule – adalah para biarawan, seperti biarawan
ordo St. Benedictus. Mereka inilah para poendeta yang menarik diri dari dunia
ramai, yang menjalani suatu kehidupan damai, dan mencurahkan diri hampir
sepenuhnya untuk menghayati kehidupan.
Gereja dan Feodalisme
Organisasi gereja yang begitu rumit, yang memiliki otoritas
khusus dalam keimanan, moralitas dan disiplin, dalam abad X dan XI dihadapkan pada suatu krisis yang gawat ketika masyarakat
masih terfeodalisasikan. Hubungan feodal merupakan hubungan yang rumit dan membingungkan hal ini
berakibat pada menggejalanya korupsi, yang merendahkan moralitas para pendeta
dan kaum awam, dan mengancam misi keagamaan gereja. Para tuan manor sering
melakukan simony, yakni menjual atau
membeli jabatan kegerejaan sekedar sebagai kesempatan untuk mencari uang.
Penyalahgunaan hal lainnya terjadi
dalam hal pentahbisan, para bangsawan feodal atau raja selalu berusaha
mempengaruhi jalannya pemilihan uskup dan kepala biara. Setelah, pemilihan usai, para bangsawan
feodal atau raja “menobatkan” uskup itu dengan memakaikan cincin dan tongkat
sebagai simbol jabatan keuskupan. Dengan munculnya penyimpangan ini, kehidupan
keagamaan dan disiplin gereja lalu berada dibawah kontrol raja atau para
bangsawan feodal. Hal ini mendapat tantangan keras dari orang yang masih
menaruh kepedulian terhadap kemurnian gereja.
Perkawinan pendeta juga merupakan
ancaman yang serius bagi gereja, sejak awal pendeta memang sudah kawin, tetapi
sebenarnya gereja menganjurkan kehidupan selibat,
agar mereka mencapai kehidupan yang lebih sempurna.
Kongregasi Cluny
Biara induk cluny di Burgundia didirikan pada tahun 910.
Duke William dari Aquitane dan istrinya menyisihkan beberapa bidang tanah untuk
membangun biara dan menetapkan bahwa biara itu sepenuhnya dan selamanya berada
di bawah perlindungan Kepausan Suci, dan kepala biaranya dipilih secara bebas.
Biara baru ini tidak untuk diperjual belikan, dan kepala biaranya tidak
ditasbihkan oleh raja. Dari sinilah Cluny menjadi pusat perlawanan yang keras
terhadap kebobrokan-kebobrokan masyarakat feodal.
Pendiri kongregasi ini senantiasa
berpesan agar para biarawan itu selalu menjalankan kebajikan lama yang penuh
dengan keramah tamahan. Hal ini rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi
sejumlah orang besar untuk mengunjungi Cluny. Tujuan Cluny adalah memuliakan
ajaran gereja dalam setiap langkah kehidupan.
Abad XI menyaksikan kembali awal
kehidupan keagamaan, hal ini jelas tidak dapat dipisahkan dari suntikan energi
spiritual baru gereja.
Para biarawan Cluny memang gigih
dalam mendorong Truce of God (genjatan
Senjata atas Nama Allah) yang melengkapi perdamaian Al-lah. Dengan ketentuan ini dileluarkan larangan berperang mulai
dari kamis sore hingga senin pagi. Bagi siapa yang melanggarnya akan mendapat
hukuman dikucilkan dan interdiksi.
Pengaruh biarawan Cluny mulai terasa
di banyak daerah, bahkan hingga kepausan Roma. Dari Cluny ini juga muncul pendirian
yang tegas bahwa harus dipilih secara bebas, lepas dari para pengaruh penguasa
politik. Para kaisar Jermanlah yang sering mencampurtangani pemilihan Paus, dan
mendiktekan pilihan mereka. Akhirnya, pada 1059, dikeluarkan dekrit yang
mengatur pemilihan paus. Dekrit ini dikeluarkan oleh dewan gereja Roma tanpa
berkonsultasi pada dengan kaisar.
Mencegah adanya korupsi dan kekerasan. Dokumen ini ditandatangani oleh delapan
uskup dan diaken, menetapkan kolese
kardinal, yakni sebuah badan kependetaan yang sejak saat itu hingga kini
berperan dalam pemilihan paus.
Perjuangan Pentahbisan
Kebrobokan-kebrokan yang dapat
menghancurkan gereja, misalnya seperti praktek-praktek jual beli jabatan
kegerejaan, pentahbisan awam, dan perkawinan para pendeta. Menjadi sasaran
kritik serangan Gregorius VII, Paus dari 1073 hingga 1085 berselisih sengit
tentang pentahbisan ini dengan kaisar Jerma Henry IV, yang memrintah dari 1056
hingga 1106. Diduga bahwa Gregorius pernah hidup membiara di Cluny. Ia banyak
terpengaruh oleh gagasan para biarawan Cluny. Gregorius mendesak agar Henry
meninggalkan praktek jual beli jabatan, dan berhenti mencampurtangani pemilihan
uskup. Dilain pihak, Henry bersikeras mempertahankan pendapatnya bahwa adalah
haknya untuk menjual jabatan, mempengaruhi pemilihan uskup dan mentasbihkan
uskup dengan memakaikan cincin serta tongkat yang berfungsi sebagai lambang
kekuasaan.
Gregorius mengungkapkan ide-idenya
tentang hubungan antara gereja dan negara, serta asal-usul dari kedua kekuasaan
tersebut. Teorinya ini banyak di anut oleh para pemikir abad pertengahan. Di
katakan bahwa ada dua kekuasaan di bumi yakni negara dan gereja. Keduanya sama-sama
diciptakan oleh Tuhan. Gereja yang dibangun oleh kristus didirikan untuk mengajarkan
tentang keselamatan, karena didrikan untuk melindungi kesejahteraan abadi umat
manusia, gereja lebih penting dari pada negara.
Negara,
menurut Gregorius diciptakan karena manusia telah terjatuh dari
kesepurnaannya. Negara memang juga diciptakan Tuhan tapi hanya untuk urusan
duniawi, yakni mengawasi manusia yang telah bejat akhlaknya. Negara
mengandalikan kejahatan manusia, sementara gereja mengembangkan kehidupan akal
manusia. Oleh karena itu kehidupan gereja lebih penting dari pada negara, dan
kaisar salah besar jika memperjualbelikan jabatan kegerejaan dan melakukan pentahbisan
awam.
Pertikaian merupakan krisis serius
dalam bidang politik dan agama. Pertikaian tetap berlanjut setelah kematian
Henry IV. Anaknya Henry V (1125) membuat perjanjian dengan Paus Calixtus II,
perjanjian ini kemudian dikenal dengan nama “Concordat of Worms of 1122”. Henry
menghentikan praktek simoni dan pentahbisan awam. Dilain pihak paus tidak
keberatan akan kehadiran kaisar dalam pemilihan uskup dan kepala biara.
Pemilihan tiidak boleh siwarnai dengan simoni dan kekerasan. Selanjutnya, setelah
pemilihan uskup dan kepala biara menerima tongkat lambang kekuasaan politis dan
kekaisaran.
Skisma Yunani
Gereja dalam perkembangan
selanjutnya pecah dalam kedua bagian; di Barat: Latin, Kelt, dan Jerman. Di
Timur: Yunani dan Slav. Perpecahan ini dikenal dengan istilah Skisma Yunani.
Terjadi pada tahun 1054.
Telah lama terdapat kesalingpahaman dan
perbedaan pendapat antara Roma dan Konstatinopel. Yang disebutkan pertama mewarisi
kebudayaan yang bercorak Latin, sedangkan yang kedua bercorak Yunani. Patriarkh
Konstatinopel, yang iri kepada Paus di Roma, menyangkal klaim-klaim St. Petrus.
Selain itu, antara kedua gereja itu juga terdapat perbedaan-perbedaan dogma.
Kesalingpahaman terus menerus terus meningkat, sampai akhirnya datang utusan
paus di Konstatinopel dan meletakkan dekrit pengucilan diatas altar gereja
Khatolik Roma di Barat, dan gereja Yunani (atau Khatolik Ortodoks) di Timur.
Ordo Carthusian
Monarkisme tetap populer sepanjang
Abad Pertengahan. Banyak ordo baru bermunculan, yang satu dengan yang lainnya
ada perbedaan yang besar. Ordo baru yang pertama adalah ordo Carthusian yang
didirikan pada 1084. Gagasan dasarnya adalah adalah penyangkalan diri secara
aksetis, yang tampaknya berbeda dari ide dasar ordo Benedictus dan kongregasi
Cluny. Pendirinya adalah St. Bruno dari Cologne, yang dengan sekelompok kecil
pengikutnya membangun biara di daerah yang sulit dijangkau orang disuatu tempat
di Burgundia yang disebut Chartreuse.
Para biarawan Ordo Cathusian ini
bermata pencarian antara lain dengan menggembalakan ternak dihutan. Dengan uang
yang mereka peroleh dari penjualan kulit ternak itulah mereka membeli makanan
dan barang-barang keperluan lainnya. Berbeda dari kongregasi Cluny mereka
sangat tidak suka pada kemegahan dan kemewahan misa-misa keagamaan. Secara
persisten mereka mampu mempertahankan jalan hidup yang sangat asketis ini
selama abad enam.
Ordo Cistercian
Ordo ini didirikan pada 1098. Sekelompok kecil orang,
yang muak dengan kemewahan para biarawan Cluny. Membuka calon komplek
persemedian di hutan Citeaux dekat Dijon, Burgundia. Mereka melatih diri mereka
untuk hidup miskin dan sederhana.
Meskipun pada awalnya menentang
kemewahan hidup Cluny tapi pada perkembangannya Ordo Cistercian mengalami
kemakmuran. Tokoh terbesar ordo ini adalah St. Bernard dari Clairvaux (1153).
Nama ordo ini terkenal luas pada 1152, ordo ini memiliki 330 biara yang
terdsebar di Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Inggris, dan Belanda.
Ordo Premonstratensian
Ordo ini didirikan pada 1120. Ordo
ini berbeda dari ordo-ordo Benecditus, Carthusian, dan Cistercian. Ordo ini
beranggotakan para pendeta yang sekaligus biarawan. Sedangkan kebanyakan
ordo-ordo lainya beranggotakan para biarawan yang tidak pernah menjadi pendeta.
St. Norbert mendirikan biara
premonstratensian yang pertama didekat Leon, Prancis. Karena para pendeta
anggota ordo ini mempunyai tugas untuk berkhotbah, mengajar, mendengarkan
pengakua-pengakuan dosa dan tugas-tugas kependetaan lainya, biara-biara ordo
ini dibangun didekat kota-kota, dimana mereka bisa melakukan layanan kepada
setiap umat. Ordo ini menarik, karena inilah institusi kebiaraan pertama dalam
Abad Pertengahan yang mengadabtasikan model kehidupan keagamaannya sesuai
dengan kebutuhan warga kota. Model ini kemudian banyak ditiru ordo-ordo
lainnya, seperti Franciscan dan Dominican.
Ordo Kariatif
Di pusat-pusat industri dan perdagangan baru tumbuhlah
ordo-ordo yang melayani kaum miskin. Karitas merupakan kebijakan nilai
kristiani yang terus menerus ditanamkan sejak semula. Pada Abad pertengahan
penyakit kusta memeng merupan gejala yang endemis, terutama sebelum kebiasaan
mandi secara teratur di praktekan para warga kota-kota yang baru bermunculan.
Satu hal yang khas dalam ordo-ordo kariatif ini adalah
bahwa sebagian besar anggotanya bukan para biarawan atau pendeta, tetapi justru
kaum awam. Namun, beberapa ciri kebiaraannya tetap bertahan. Artinya, beberapa
aturan yang lazim berlaku dalam kehidupan di biara-biara wajib dipatuhi
anggota-anggotanya, termasuk yang awam. Misalnya seperti hidup secara sederhana
dan saleh tetapi tidak harus selibat.
Sekte
Albigenses
Sekte Albigenses ini boleh dikatakan merupakan semacam
penjelmaan dari kelompok bid’ad manikhea kuno- yang dulu secara tak
henti-hentinya diburu-buru oleh St, agustinus. Ajarannya merupakan campur aduk
tak karuan antara pandangan-pandangan paganisme dan kristen. Sekte ini
mengajarkan bahwa di dunia ini terdapa pertarungan abadi antara kekuatan baik
dan kekuatan jahat. Kekuatan baik berkaitan dengan roh, sedangkan kekuatan
jahat berkaitan dengan materi. Kreasi material adalah hasil dari pertarungan
antara kedua kekuatan tersebut. Oleh karena itu Sang Pencipta alam semesta ini
tak mungkin Tuhan Yang Maha pemurah. Tuhan dalam perjanjian lama adalah jahat.
Kristus tidak mungkin menampakkan diri secara fisik dalam tubuh manusia.
Perkawinan adalah suatu kejahatan, karena perkawinan mengekelkan wadaq fisik
manusia. Pokoknya, agama khatolik itu jahat, sakramen-sakramennya itu palsu,
dan ajaran-ajaranya tak perlu dipatuhi. Sekte albigenses ini kmengenal satu
sakramen inisiasi, yakni consolamentum. Di dalam sakramen ini mereka
mengucapkan kata-kata yang menolak segala ajaran khatolik. Sebagian besar
ajaran sekte ini berkaitan dengan seks, satu hal yang sungguh mereka benci.
Adalah dosa besar bagi seorang leleki menyentuh seorang wanita, bahkan dengan
cara yang tidak ofensif sekalipun. Jalan keluar dari kesulitan ini, bagi yang
mempercayai ajaran sekte ini, adalah endura atau bunuh diri. Hal ini mereka
percayai sebagai suatu yang terpuji, karena dengan bunuh diri ini jiwa mereka akan
terbebaskan dari segala hal yang bersifat material.
Mereka merupakan ancaman yang serius bagi gereja. Mereka
menentang praktek pengambilan sumpah didepan pengadilan atau dalam
seremoni-seremoni di depan publik. Para pengikut sekte albigenses itu menolak
pengambilan sumpah dengan mendasarkan diri pada injil Matius 5:36 kuadrat.
Ajaran-ajaran semacam itu tidak munkin diterima dalam masyarakat abad
pertengahan yang mendasarkan diri pada kepatuhan, dan dimana kesatriaan merupakan suatu yang diidealisasikan. Maka,
pada abad XIII masyrakat Eropa Kristen bersatu dipihak gereja dan negara untuk
membasmi sekte atau kelompok bid’ah albigenses ini. Dari sinilah lalu muncul
inkuisisi yakni suatu pengadilan yang mencabut semua ajaran sekte albigenses.
Inkuisisi
Hukuman utamanya berupa penyitaan harta benda mereka atau pembuangan. Hukuman ini masih lebih manusiawi dari pada hukuman yang di jatuhkan oleh masa fanatik, yakni membakar mereka hidup-hidup.
Dibawah kaisar Frederick II, yang
berkuasa dari 1212 sampai dengan 1250, sifat inkuisisi ini banyak berubah. Pada tahun 1224 ia mengeluarkan suatu
undang-undang yang menyatakan bahwa pengikat gerakan bid’ah dijatuhi hukuman
bakar atau potong lidah. Inkuisisi dipindahkan dari tangan para uskup ke tangan
dua ordo yang baru saja muncul, yakni Dominican dan Fransiscan. Akhirnya,
Innocentius IV, Paus dari 1243 hingga 1254, mengesahkan penggunaan penyiksaan
atas para bid’ah, seperti yang sering diterapkan dalam pengadilan negara.
St. Franciscus dari Assisi
Ordo
Biarawan Minor didirikan oleh St. Fransiscus (sekitar 1181-1226), seorang
biarawan yang benar-benar tulus hati. Ia berasal dari keluarga pedagang kaya di
Assisi, sebuah kota kecil di Italia tengah tempat ia menjalani hidup dengan
penuh kegembiraan, tidak memikirkan masalah-masalah kehidupan. Akhirnya, ia
benar-benar tampak tergugah oleh kata-kata Yesus sebagaimana ditulis dalam
injil Matius dan kemudian mencurahkan dirinya untuk berkhotbah terhadap kaum
miskin dan papa di daerah Umbria.
Kejeniusan
St. Franciscus terungkap dalam Little
Flowers of St. Francis yang
merupakan kumpulan cerita tentang kesalehan sang santo ini kumpulan cerita ini,
yang di susun setelah kematiannya. Dengan dua belas muridnya ia pergi ke Roma,
memohon kepada Paus Innocentius III untuk mendirikan sebuah ordo.
Tujuan
ordo Francisus yang pertama ini, yang terdiri dari para Biarawan Kecil, adalah
untuk menirukan teladan Yesus. Para anggotanya disebut bruder atau frater secara
berpasang-pasangan menjelajahi seluruh negeri, berkhotbah dan membantu kaum
miskin. Mereka itu sebenarnya adalah kaum awam yang hidup dalam aturan,
kebiaraan, tetapi tetap bukan atau belum betul-betul menjadi biarawan atau
pendeta tetapi tetap bukan atau belum betul-betul menjadi biarawan atau pendeta.
Jadi ordo yang pertama ini merupakan perpaduan antara idealisasi hidup
kebiaraan dan kehidupan kaum awam.
Prinsip utama mereka tampak paradoksal dengan manusia modern, yang selalu
berpikir bahwa tanpa benda-benda material hidup adalah hampa. “Kemiskinan” kata
para murid Franciscus itu, “tercapai dalam ketidakpunyaan dan ketidakinginan ,
kecuali dalam keinginan akan semangat pembebasan. “dalam” “kebebasan” inilah
manusia mereguk kemerdekaan spiritual yang merupakan jalan ajaran-ajaran Yesus.
Ordo
kedua dibentuk pada tahun 1212. Ordo ini terdiri dari kaum wanita, yang
merupakan pasangan kerja para murid St. Franciscus. Ordo ini didirikan oleh St.
Klara- putri dari sebuah keluarga kaya di Assisi yang sejak muda terpesona pada
kesalehan St. Franciscus.
Ordo
ketiga: para Bruder dan suster penubusan dosa. Ordo-ordo fransiscan ini, yang
menaruh kepedulian yang dalam terhadap tatanan masyarakat kota, cukup mendorong
gereja untuk menyesuaikan dirinya untuk dengan kondisi-kondisi sosial yang
tengah berubah.
Ordo Dominican
Ordo ini didirikan oleh seorang
Spanyol yang bernama St. Dominica (1170-1121) pada 1216. Ia adalah seorang anggota
yang berhasrat kuat untuk mengendalikan para pengikut kelompok bid’ah Albigenses
kedalam gereja. Seperti para anggota ordo Francicscus, anggota ordo juga
menjalani hidup dalam kemiskinan. Mereka hidup dari sedekah orang lain. Itulah
sebabnya mereka disebut biarawan peminta-minta.
Para anggota ordo ini sangat
berminat pada ilmu pengetahuan. Hal ini didorong oleh hasrat untuk membantah
pandangan-pandangan yang berbau bid’ah. Banyak anggota ordo Dominican yang
terpelajar yang kemudian menjadi guru besar teologi di universitas-universitas
yang mulai bermunculan dimasa itu.
Makna Sosial Remisi Hukuman
Remisi ini diberikan untuk menghapus
hukuman dosa, bukan untuk menghapus kesalahan dosa itu yang adalah wewenang
adalah Tuhan untuk menganpuninya, dan hanya efektif jika yang bersangkutan telah
benar-benar mengakui dosa-dosanya. Penerima remisi hukuman itu biasanya lalu
diwajibkan memberikan jaminan yang berupa uang atau tenaga kerja. Satu hal yang
harus digaris bawahi adalah bahwa yang terpenting dalam pemberian remisi ini
bukan jaminanya, tetapi kedisiplinan moral dan religius orang yang menerima
penebusan tersebut. Uang jaminan atau tenaga kerja yang diberikan oleh penerima
hukuman remisi itu biasanya diberikan untuk membangun atau merawat gereja. Uang
jaminan itu juga digunakan untuk memberikan semacam pensiunan bagi para veteran
perang salib. Selain itu juga digunakan untuk mebiayai proyek-proyek sosial
yang berguna, seperti pembangunan jalan, parit, bendungan, tanggul, pelabuhan,
bendungan, benteng, serta pendayaagunaan tanah-tanah kosong.
Kalender
Pengaruh agama sedemikian kuatnya sehingga
orang menyusun penanggalan didasarkan atas orang hari-hari suci. Mereka tidak
menulis “24 Juni 1330”, tetapi “Hari Raya St.Yohannes Pembabtis, 1330”. Bahkan
mereka sering menyusun penanggalan peristiwa-peristiwa berdasarkan hari-hari
besar gereja, yang tidak jarang berubah-ubah, sehingga memperumit perhitungan.
Jelaslah kini agama merupakan sumber inspirasi bagi basis-basis peradaban abad
pertengahan. Sejak semula gereja kristen telah mengajarkan pandangan hidup yang
konsisten, dan mengilhami konsepsi ideal tentang perilaku etis melalui sakramen-sakramen.
Reformasi, dalam sejarah gereja adalah gerakan yang dimulai oleh Martin Luther
pada abad XVI, yang bertujuan untuk mereformasi, gereja Khatolik Roma dan
kemudian menghasilkan protestanismepent.
Pernah berkunjung ke Monumen Pers Nasional?????
Gedung monument Pers Nasional yang
berlokasi di JL.Gajah Mada itu awalnya bernama Sociteit Sasana Suka, yaitu
sebuah gedung Balai pertemuan Kerabat Mangkunegaran yang dibangun pada tahun
1918 oleh KGPAA Sri Mangkunegoro VI yang dirancang oleh seorang arsitek jawa
terkenal bernama Mas Abu Kasan Atmodirono
Monument pers didirikan untuk
memperingati Hari jadi pers saat diadakan pertemuan para Wartawan Seluruh
Indonesia (Persatuan Wantawan Indonesia) pada tanggal 9 februari 1946.Peresmian
gedung monument ini baru dilakukan oleh Presiden RI saat itu, Soeharto, pada 9
februari 1978 sebagai peringatan perjuangan pers di Indonesia. Melalui SK
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 151/M.PAN tanggal 6juni 2002,Monumen
Pers Nasuonal dijadikan sebagai UPT Lembaga Informasi Nasional.
Pada tahun 923, gedung utama monumen
itu sempat digunakan untuk rapat
mendirikan radio berwawasan kebangsaan. Tahun 999 status yang dipegang masih
berada di bawah Departemen Penerangan. Saat ini posisi Monumen Pers Naional ini
berada di bawah Departemen Komunikasi dan Infomasi.
Pada tahun 1933, digedung ini diadakan
rapat yang dipimpin oleh RM Ir. Sarsito Mangunkusumo yang melahirkan stariun
baru bernama Solosche Radio Vereeniging (SRV) sebagai radio pertama kaum
pribumi dengan semangat kebangsaan. Di gedung ini pula, tanggal 9 februari 1946
diadakan kongres wartawan Indonesia yang melahirkan organisasi profesi
Persatuan Wartawan Indonesia.
Di Monumen inilah disimpan radio
pertama masa perjuangan. Dijuluki dengan sebutan Radio Kambing karena dulu
pernah disembunyikan oleh pejuang RRI dan TNI
di kandang kambing untuk mengelabui tentara Belanda di desa Balong,
lereng gunung Lawu.
Gambar : Radio Kambing
Sumber : Monumen Pers Nasional
Pemancar
radio Kambing di ungsikan karena studio RRI Solo pada waktu itu diserang oleh
tentara belanda. Pemancar ini diduga merupakan pemancar yang sama yang pernah
di gunakan SRV untuk menyiarkan secara langsung music gamelan dari solo kle
belanda untuk mengiringi Gusti Nurul (Putri Sri Mangkunegor5o VI) membawakan
tari Bedhoyo Srimpi di Kerajaan Belanda, Deen Hag tanggal 7 Januari 1937.
Di tempat ini juga tersimpan beberapa
media cetak dari masa penjajahan hingga saat ini. Dengan berbagai alasan yang
mendasari , tak semua surat kabar atau majalah dapat terdokimentasikan di
tempat ini. Dalam perkembangannya, untuk mengefisensikan majalah atau surat
kabar yang ada kemnudian didigitalisasikan agar sistem pengarsipan lebih
terjaga.
Pada zaman pendudukan jepang, tentara
jepang mempergunakan gedung tersebut sebagai kantor urusan pemberian bantuan
kepada keluarga prajurit pejuang kemerdekaan dan selanjutnya menjadi kantor
Palang Merah Indonesia.
Tanggal 9 februari 1978, Presiden
Soeharto meresmikan gedung Societit Sasana Manasuka menjadi Monumen Pers
Nasional dengan penandatanganan
prasasti. Gerbang Monumen Pers Nasional ditandai dengan hiasan empat kepala dan
badan nagatelentang dinamakan Catur
Manggala Kura menandai Suryo Sengkolo : Muluking Sedya Habangun Nagara yang
artinya tahun 1980, merupakan angka tahun selesainya pembangunan seluruh gedung
Monumen Pers Nasional yang terdiri dari
1 unit gedung induk, 2 unit gedung perkantoran berlantai 2, dan 1 unit gedung
penunjang berlantai 4.
Du belakang naga atau teras diletakkan
sebuah kenthongan besar yang melambangkan alat informasi dan komunikasi pada
zaman dahulu. Kentongan ini dinamakan
Kyai Swara Gugah
Gambar : Kyai Swara Gugah
Sumber :Monumen Pers Nasional
Status Monument Pers
Dulu pengelola Monumen Pers Nasional
ditangani oleh Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional, yaitu sebuah lembaga
yang berada di bawah Departemen Penerangan. Tahun 1999 Monumen Pers Nasional
dikelola oleh Badan Infomasi Komunikasi Nasional (BIKAN) serta Lembaga
Informasi Nasional (LIN), dan saat ini merupakan salah satu Satuan Kerja
dibawah Direktorat Sarana Komunikasi dan Peraturan Kementrian Komunikasi dan
Informatika dan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI
Nomor:21/Per/M.Kominfo/4/2007 tanggal 30 April 2007.
Tugas dan Fungsi Monumen Pers
Nasional
Monumen Pers Nasional mempunyai tugas
melaksanakan pelestarian dan pelayanan kepada masyarakat mengenai Monumen Pers Nasional dan produk pers
nasional yang bernilai sejarah. Sesuai dengan tugas yang ada, maka Monumen Pers
Nasional menyelenggarakan fungsi :
1.
Pelaksanaan penyusunan rencana, progam
dan anggaran di lingkungan Monumen Pers Nasional.
2.
Pelaksanaan pelayanan informasi dan
peningkatan sarana diseminasi informasi
3.
Pemeliharaan, penatalaksanaan koleksi,
pengawetan dan perlindungan benda-benda di bidang pers yang bernilai sejarah
serta pelaksanaan perpustakaan.
4.
Pelaksaan urusan tata usaha dan rumah
tangga
Aktifitas Monumen
Pers Nasional
Untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi
tersebut, maka berbagai kegiatan dilaksanakan di Monumen Pers Nasional berupa
pelaksanaan, penyusunan, rencana progam, anggaran, urusan tata usaha dan rumah
tangga yang sebagian besar dilaksanakan oleh bagian Tata Usaha dan berbagai
kegiatan lain yang diselenggarakan oleh Seksi Konservasi dan Preservasi serta
Seksi Pelayanan Informasi dan Kehumasan.
1. Pendokumentasian Koleksi Media
Cetak
Lebih
dari satu juta eksemplar sampel media cetak yang terbit dari seluruh Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda hingga saat
ini didokumentasikan,
dikonversikan,
dan disajikan kepada pengunjung di Monumen Pers Nasional. Beberapa jenis Koran
dan majalah kuno yang cukup menarik dan tersimpan antara lain :
•
Cahaya India (1913)
•
Panorama (1917)
•
Soeloeh Ra’jat Indonesia (1932)
Majalah yang menulis tentang semangat
kemerdekaan
•
Fikiran Ra’jat
Majalah dengan Pemimpin redaksi Ir.Soekarno.
•
Djawa Baroe (1944)
Majalah Propoganda Jepang.
Gambar :
Majalah Djawa Baroe
Sumber :
Monumen Pers Nasional
Selain dilakukan dokumentasi secara
manual, saat ini telah diupayakan pendokumentasian secara digital terhadap
sebagian koleksi tersebut dan nantinya digitalisasi akan dilakukan secara
bertahap terhadap seluruh document. Adapun dalam hal perawatan dokumentasi dan
naskah adalah dengan cara meletakkan kapur barus serta menggunakan fumigasi
secara rutin.
2. Pendokumentasian Benda Bersejarah
Berbagai benda bersejarah terkait pers
Indonesia juga disimpan ditempat ini antara lain adalah : Patung-patung
Perintis Pers Indonesia, Mesin ketik milik wartawan tiga zaman Bakrie
Suriatmaja, Pakaian Wartawan TVRI Hendro Subroto yang tertembak ketika meliput
Integrasi Timor Timur ke Indonesia, piagam dan buku milik Trisnoyuno,diorama
Sejarah Pers Indonesia, skema sebaran media, pemancar radio kambing yang
digunakan pada saat revolusi phisik (class II tahun1948)
3. Pameran Tematis
Di
gedung induk Monument Pers Nasional selalu diselenggarakan pemeran tematis,
merupakan pameran yang menampilkan tema-tema yang sesuai dengan peringatan hari
besar nasional, antara lain :Hari Kebangkitan Nasional, Kemerdekaan RI, Sumpah
Pemuda, Pahlawan dan Hari Pers Nasional.
Gambar : Pameran Tematis di
Gedung Induk
Sumber : Monumen Pers Nasional
4. Perpustakaan
Perpustakaan Monument Pers Nasional memiliki
koleksi buku sejumlah 12.000 yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu dengan
titik berat bidang pers, komunikasi dan informasi
Gambar : Koleksi Buku-Buku
Sumber : Monumen Pers Nasional





