MONARKHI SENTRALISTIS : AKHIR FEODALISME

Posted by Triyanto.d Saputra On Selasa, 28 Agustus 2012 4 komentar

Raja-Raja Awal Abad Pertengahan

         Ketika sektor agraria didominasi oleh masyarakat Eropa barat dan utara,bentuk pemerintahannya secara khas ditandai dengan hadirnya ekonomi pedesaan.Stratifikasi masyarakat dibagi menjadi 2 kelas yaitu petani dan tuan tanah.Petani bertugas untuk menggarap tanah sedangkan tuan tanah bertugas memilki tanah dan mengatur tanah itu.

          Selama paroh pertama Abad Pertengahan,pemerintahan masih bersifat personal.Para penguasa itu sendiri yang mengatur segala urusan kerajaan atau mengawasi orang-orang yang mereka angkat untuk menangani segala urusan itu..Seorang penguasa ,selain mengawasi pengelolaaan tanahnya,juga mengawasi pengaturan pasukannya,mengawasi pemerintahannya,menangani rumah tangganya,menjamu para utusan dari penguasa lain,menangani urusan peradilan.Bisa dikatakan penguasa pada saat itu sangat sibuk untuk menangani semua urusan Negara.Pada zaman feodalisme ,seorang penguasa yang malasdan tidak cakap tidak akan mampu mempertahankan kekuasaanya.
Metode-Metode Baru dalam Pemerintahan

         Metode baru pemerintahan yang bekembang sesudah abad XI memilki arti yang cukup penting.Dalam masa-masa itulah tumbuh benih yang dalam perkembangannya menjadi basis permanen pemerintahan modern.Praktek menyerahkan segala urusan public kepada para pejabat istana mulai ditinggalkan.Jabatan–jabatan seperti pengurus rumah tangga,kepala pelyan,marsekal,dan polisi istana mulai dilepaskan.Sedangkan jabatan seperti sekretaris istana tetap dipertahankan,dan bahkan menjadi jabatan ang lebih penting.Tugas sebagai polisi istana dan marsekal dalam perkembangannya lebih bersifat kemiliteran.Organisasi pemerintahan model baru ini dinamakan feodal,yang merupakan adaptasi terhadap perkembangan kondisi yang ada pada masyarakat,yang muncul sesudah disintregasi Negara bentukan dinasti Karoling selama abad IX dsn X.

Curia Regis

         Para bangsawan tinggi kerajaan ,termasuk para uskup dan kepala biara,membentuk suatu dewan penasihat raja yang dinamakan curia regis. Curia Regis ini hanya berkumpul jika raja membutuhkannya.Anggota dewan ini terus berubah dan dewan ini tidak bekerja secara terus menerus.Para adipati (dukes) dan pangeran (count) juga memilki dewan penasihat semacam ini.Dewan paenasihat adipati disebut curia duris,dan dewan penasihat pangeran dinamakan curia comitis.Fungsi curia yaitu menangani masalah- masalah yang timbul diantara para vassal dan antara raja dengan para vassalnya.
Para Pejabat Lokal

          Pada masa itu belum dikenal adanya pemerintahan local atau daerah  sebab manor merupakan suatu pemerintahan yang swapraja,dan para vassal mengelola tanah dalam kekuasaan mereka sesuai dengan adat yang berlaku.Oleh karena seorang raja tidak mampu menjangkau daerah yang dikuasai oleh  manor,maka raja telah memilki wakil untuk setiap manor .Kalau di Prancis dinamakan prevot.Para wakil itu direkrut dari kelompok bangsawan tinggi dan vassal-vassal yang dekat dengan istana.Kelemahan utama system perwakilan raja ini adalah para prevot cenderung ingin mewariskan penguasaanya atas tanah feudal kepada anak laki-laki mereka.

          Sebagai reaksi akibat meosotnya para prevot itu ,Raja Phillip II,yang berkuasa di Prancisdari tahun 1180 hingga 1233,menempatkan pejabat-pejabat baru yang bertugas mengawasi dan memantau tindak tanduk para prevot itu.Pejabat baru itu disebut bailiff ( juru sita).Meraka berasal dari golongan rakyat biasa.


Organ-organ Pemerintahan Pusat
        
          Bagi seorang raja ternyata merupakan beban yang berat jika setiap kali melakukan peninjauan ke daerah ia harus diiringi semua pejabat istana. Hal ini terutama sangat dirasakan oleh  raja yang aktif mengawasi urusan kerajaan secara lebih dekat dan terus-menerus menghadapi urusan pemerintahan yang cenderung bertambah. Dari sinilah muncul suatu kebutuhan untuk menempatkan para bendaharawan kerajaan di tempat-tempat tertentu, sehingga orang tahu kemana mereka harus menyerahkan upeti. System semacam in terutama dipraktekkan oleh pemerintah Inggris.
Peradilan Feodal

           Seiring  waktu berjalan,seorang raja digunakan untuk menangani masalah – masalah peradilan.Jika ada waktu,seorang raja akan mendengarkan  semua jenis kasus dari para curia regis.Jika tidak,curia regis ditunjuk untuk menangani kasus – kasus itu.Di Prancis,dewan komite semacam itu disebut Parlement,yang kemudian menjadi sebuah badan permanen di Paris.
Lembaga Perwakilan

            Perwakilan merupakan hal yang prinsipil dalam pemerintahan feodal .Inilah awal munculnya Parlemen Inggris,yang kemudian dikemabangkan dalam system representasi pemerintahan modern,terutama abad XVIII dan XIX. Akan tetapi representasi atau lembaga perwakilan pada Abad Pertengahan, tidak seperti pada masa kini, adalah persoalan kelas, atau golongan. Suatu golongan merupakan suatu kelas sosial dan politik yang disatukan oleh ikatan-ikatan tertentu dan terpisah dari rakyat kebanyakan. Golongan pertama, adalah para pejabat gereja, yang bukan hanya menjadi pemimpin agama tetapi sekaligus juga tuan tanah besar. Golongan kedua, adalah para bangsawan, yang menjadi tuan tanah besar dan biasanya kaum ningrat.Setelah abad X, dengan bangkitnya kembali perdagangan dan industri, muncullah golongan ketiga, yang terdiri dari kelas menengah baru, yakni para pedagang dan pabrikan (manufacturer).
Awal Pemerintahan Birokratis


           Ada satu perbedaan yang mendasar antara pemerintahan abad pertengahan dengan modern. Pada masa dinasti Karoling dan awal feodalisme, administrasi kerajaan masih terbatas, dan raja tidak membutuhkan pegawai dalam jumlah yang besar. Sementara negara modern, untuk menjalankan roda pemerintahannya secara efektif, telah mengembangkan anggota biro dalam jumlah yang besar, yang dibagi ke dalam departemen-departemen, dan masing-masing menangani sekelompok persoalan tertentu dengan aparatnya yang tidak sedikit. Oleh karena itu pemerintahan modern bersifat “ birokratis”, dalam arti segala persoalan ditangani biro-biro. Pemerintahan birokratis mulai tampak pada akhir Abad Pertengahan, terutama sesudah tahun 1200.

Imperium Romawi Suci

          Imperium Romawi Suci, sejarah negara yang cukup sulit dipahami. Sepanjang Abad Pertengahan berkembang suatu pandangan yang dominan bahwa semua pemerintahan diselenggarakan oleh Tuhan. Para penggagas masalah-masalah politik abad pertengahan ini umumnya mengajarkan bahwa kekaisaran diadakan oleh Tuhan untuk mengatasi segala bentuk kekerasan dan menegakkan kedamaian. Selain mendirikan Kekaisaran, Tuhan juga telah membangun gereja untuk menyelamatkan umat manusia.


          Keanggotaan identik : fungsi agama dan politik terpisah tetapi dalam banyak hal tumpang-tindih sehingga sering timbulkan konflik. Lebih jauh, paus dan raja terlibat pertikaian tentang hal-hal yang menyangkut kontrol atas kependetaan, perpajakan gereja, masalah perceraian, perampasan kekayaan gereja.
          Masalah-masalah yang menjadi sebab timbulnya pertikaian antara paus dan raja tampak sepele. Zaman Feodal dengan kekuasaan-kekuasaan yang bertumpang tindih secara ruwet telah berlalu. Dengan berlalunya hal itu maka lenyap juga kemungkinan timbulnya pertentangan antara gereja dan Negara.

Hukum

         Dalam pandangan para filsuf skolastik, tugas negara adalah untuk menjaga tatanan moral dengan menegakkan ‘keadilan’. Hal ini (diharapkan) akan membawa ‘kesamaan’ bagi warganya. Jadi, keadilan dan kesamaan merupakan tujuan semua hukum, entah itu hukum yang berakar pada adat manorial, adat feodal, hukum rakyat Inggris, atau ketentuan-ketentuan dalam komunitas-komunitas. Konsepsi lainnya yang lazim diterima pada Abad Pertengahan, yakni hukum kodrat. Hukum kodrat adalah bagian dari hukum moral yang mengatur relasi sosial manusia. Relasi ini didasarkan atas konsep-konsep dasar moralitas Kristen, yang melarang setiap perbuatan jahat kepada sesama manusia. Hukum tidak boleh melanggar hak-hak manusia. Jika ada hubungan yang melanggar hak-hak manusia, berarti hukum itu tidak legal, bahkan merupakan suatu tirani. Maka seorang raja harus melaksanakan pemerintahannya sesuai dengan prinsip moralitas. Pemerintahannya tidak boleh bertentangan dengan hak-hak kodrati rakyatnya.

         Masa abad pertengahan tak pernah sepenuhnya mewujudkan gagasan-gagasan ideal yang serba bagus. Pengaruh hukum Romawi atas teori politik abad pertengahan menarik untuk kita kaji. Hukum Romawi telah berkembang dalam suatu masyarakat di mana raja atau kaisar memonopoli kontrol atas segala aktivitas politik. Pada Abad Pertengahan, kekuasaan raja atas Negara dan rakyat tidaklah sebesar kekuasaan para kaisar Romawi. Hukum Romawi kuno memberikan contoh-contoh praktis yang bisa mengantarkan mereka untuk menjadi penguasa absolut.

Legitimasi Keagamaan Para Raja

            Ajaran bahwa raja memperoleh kekuasaan langsung dari Tuhan muncul dan berkembang dalam abad-abad terakhir Abad Pertengahan. Teori tentang pemerintahan absolut ini mempunyai pengaruh besar terhadap lahirnya para aristokrat modern seperti Louis XIV. Menurut teori abad pertengahan yang lebih awal, kaisar mendapatkan kekuasaan dari Tuhan. Namun, raja-raja seperti di Inggris dan Prancis tidak mau mengakui kepemimpinan sang kaisar. Sebab, mereka mengklaim, mereka juga menerima kekuasaan dari Tuhan, dan tidak ada raja yang lebih tinggi di bumi ini. Yang ternyata efektif dalam masa-masa akhir Abad Pertengahan. Dengan klaim ini kekuasaan raja semakin kuat. Sebab, kekuasaan itu didasarkan atas legitimasi keagamaan. Di pihak lain, kekuasaan para vassal kian melemah. Dan inilah awal tersapunya dasar-dasar feodalisme lama.

            Pada Abad Pertengahan ketika wacana politik penuh dengan konsepsi-konsepsi ideal sebagaimana disebutkan di atas, realitas politik praktis sangat diwarnai berbagai macam peperangan yang brutal serta ketidakadilan politis yang merajalela.

READ MORE

CIRI-CIRI UMUM PESANTREN

Posted by Triyanto.d Saputra On Rabu, 15 Agustus 2012 1 komentar

Tradisi pesantren merupakan kerangka sistem pendidikan Islam tradisional di Jawa dan Madura, yang dalam perjalanan sejarahnya telah menjadi obyek penelitian para sarjana yang mempelajari Islam di Indonesia, yaitu sejak Brumund menulis sebuah buku tentang sistem pendidikan di Jawa pada tahun 1857. Dalam karya-karya lain karya Prof. Sartono Kartodirdjo hanya menekankan aspek-aspek politik kehidupan pesantren. Peranan kunci pesantren dalam penyebaran Islam dalam pemantapan ketaatan masyarakat kepada Islam di Jawa telah dibahas oleh Dr. Soebardi dan Prof. Johns,  lembaga-lembaga pesantren itulah yang paling menentukan watak ke-Islaman dari kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling penting bagi penyebaran Islam sampai ke plosok-plosok. Dari lembaga-lembaga pesantren itulah asal-usul manuskrip tentang pengajaran Islam di Asia Tenggara, yang tersedia secara terbatas. Untuk dapat betul-betul dapat memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mulai mempelajari lembaga-lembaga pesantren tersebut, karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di Indonesia.

  1. Pola Umum Pendidikan Islam Tradisional
Sebelum tahun 60-an, pusat-pusat pendidikan pesantren di Jawa dan Madura lebih dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok sendiri berasal dari kata Arab fundung, yang berarti hotel atau asrama. Prof. Johns berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Sedangkan C.C. Berg berpendapat bahwa istilah santri berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India yang berarti orang yang tahu kitab-kitab agama Hindhu. Ciri-ciri pendidikan Islam Tradisional di Jawa dan Madura yaitu:
  • Seorang Jawa yang mengaku Islam biasanya diajar mengucapkan 2 kalimat syahadah, sebagai dasar keyakinan Islam.
  • Selain 2 kalimat syahadat Islam menghendaki akan loyalitas bagi para pemeluknya lebih dari mengucapkan 2 kalimat syahadah, sebab selain itu mereka harus melakukan sembahyang lima waktu (Sholat Fardhu), berpuasa selama bulan Ramadhan, membayar zakat dan ibadah haji bagi yang mampu melaksanakannya.
  • Di dalam praktek, loyalitas kepada Islam itu dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang benar dan penerimaan norma-norma dan pola hidup secara Islam, dan loyalitas masyarakat Islam.
  • Di Jawa, secara umum, tingkah laku yang benar secara Islam tersebut dinyatakan dalam contoh-contoh seperti yang dikerjakan oleh kyai (melalui lembaga-lembaga pesantren dan amalan-amalam beragama yang lain, seperti khutbah Jum’at) mengajarkan kepada anggota masyarakat tingkah laku ideal, pola pikiran dan perasaan yang ideal, simbol-simbol dan amalan Islam.
  • Bagi orang-orang Jawa untuk dapat mengucapkan 2 kalimat syahadah, mengerjakan kewajiban sembahyang lima waktu dan membaca Qur’an diperlukan latihan dan pendidikan elementer yang secara tradisional diberikan dalam pengajian-pengajian yang diselenggarakan di rumah guru-guru ngaji di langgar, atau di masjid.
Dalam periode sekarang sistem pengajian tersebut telah dilengkapi dengan bentuk sekolah formal, yaitu madrasah. Madrasah di zaman kolonial di bayar oleh masyarakat sendiri, sedangkan sekarang lembaga tersebut kebanyakan dibantu oleh pemerintah.  Perlu ditekankan di sini bahwa semua lembaga-lembaga pengajian tidak sama jenisnya; dalam kenyataannya lembaga tersebut sangat bertingkat-tingkat. Bentuk yang paling rendah adalah bermula pada waktu anak-anak berumur kira-kira 5 tahun, menerima pelajaran dari orang tuanya menghafal beberapa surat pendek dari juz Qur’an yang terakhir. Setelah mereka berumur 7 atau 8 tahun mulai diajarkan membaca alfabet Arab dan bertahap diajar untuk dapat membaca Qur’an.
Dalam pembahasan setiap persoalan dalm buku-buku fiqih, biasanya digunakan model sebagai berikut:
  • Uraian-uraian pendapat para cerdik pandai, yang kebanyakan saling berbeda satu sama lain.
  • Petunjuk kearah pandangan dari kebanyakan ulama (ijma’ atau qaul ‘ulama’).
  • Pandangan-pandangan yang memungkinkan kita untuk memilih mana yang kita anggap paling baik (qaul tsani)
Menurut tradisi pesantren, pengetahuan seseorang diukur oleh jumlah buku-buku yang pernah dipelajarinya dan kepada ulama mana ia telah berguru. Jumlah buku-buku standar dalam tulisan Arab yang dikarang oleh ulama terkenal yang harus dibaca yang telah ditentukan oleh lembaga pesantren selain itu dikenal juga sistem pemberian ijazah.

  1. Musafir Pencari Ilmu
Dalam Islam, seorang pencari ilmu dianggap sebagai musafir yang berhak menerima zakat (beasiswa) dari orang-orang kaya. Jiga ia meninggal seketika ia dianggap mati syahid. Orang yang memberikan beasiswa kepada musafir atau guru agama, dianggap menyerahkan amal jariyah.Mereka yang memiliki pengetahuan, hanya akan memperoleh manfaat dari pengetahuannya itu di akhirat nanti, bila ia mampu mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Kalau tidak mau mengajarkan ilmunya ilmunya itu tidak bermanfaat. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan sangat ditekankan Islam , dan sarjana islam menganggap dan menerimanya sebagai kewajiban mereka tanpa mengharapkan imbalan.
Menurut Dr. Soebardi, tradisi yang berkembang di lingkungan pesantren Jawa ini barangkali merupakan hasil akulturasi kebudayaan antara dorongan orang Jawa untuk mencari hakikat kehidupan dan kebijaksanaan, dan tradisi islam di mana berkelana mencari ilmu merupakan ciri utama sistem pendidikan tradisional.

  1. Sistem Pengajaran
Pengajian dasar di rumah-rumah, di langgar dan di masjid-masjid diberikan secara individual. Seorang murid mendatangi seorang guru yang akan membacakan beberapa baris Al-qur’an atau kitab-kitab bahasa Arab dan menerjemahkannya dalam bahasa Jawa.
Macam-macam Sistem Pengajaran yang mungkin sering kita temui dalam tradisi pesantren; 1) Sistem individual, sistem ini dalam pendidikan Islam tradisional disebut sistem sorongan yang diberikan dalam pengajian kepada murid-murid yang telah menguasai pembacaan Al-qur’an, 2) Sitem bandongan/ weton, sistem ini sekelompok murid yang mendengarkan guru, 3) Sistem halaqah, kelompok kelas dari sistem bandongan. Dalam kelas musyawarah, sistem pengajarannya sangat berbeda dari sistem sorongan dan bandongan. Para siswa harus mempelajari sendiri kitab-kitab yang ditunjuk. Kyai memimpin kelas musyawarah seperti dalam suatu seminar dan lebih banyak dalam bentuk tanya jawab.

  1. Latar Belakang Sejarah
  • Sistem madrasah yang berkembang pada negara islam abad 12 tidak muncul di jawa sampai awal abad 20.
  • Menurut karya sastra klasik seperti Serat Cabolek, Serat Centini, dan lain-lain, abad 16 banyak pesantren di Jawa.
  • Laporang pemerintahan Belanda tahun 1831, lembaga pendidikan Islam berjumlah 1.853 dan murid bejumlah 16.556 orang.
  • Van den Berg pada tahun 1885 mencatat jumlah lembaga Islam tradisional sebanyak 14.929 di seluruh Jawa dan Madura (kecuali kesultanan Yogyakarta) dengan Jumlah murid ± 222.663 orang.
Table Lembaga-lembaga Pendidikan Islam Tradisional dan Jumlah Murid di Beberapa Kabupaten  di Jawa Tahun 1831:

Kabupaten
Jumlah Lembaga
Murid
Cirebon
190
2.763
Semarang
95
1.140
Kendal
60
928
Demak
7
519
Grobogan
18
365
Kedu
5
-
Surabaya dan Mojokerto
410
4.762
Gresik
238
2.603
Bawean
109
-
Sumenep
34
-
Pamekasan
97
-
Besuki
500
-
Jepara
90
3.476
Jumlah
1.835
16.556



Elemen – elemen Sebuah Pesantren

            Pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab islam dan kyai merupakan elemen dasar dari tradisi pesantren. Di jawa, orang biasanya membedakan pesantren menjadi 3 kelompok, yaitu Pesantren kecil, menengah, dan pesantren besar. Pesantren kecil mempunyai santri dibawah seribu dan pengaruhnya sebatas kabupaten saja. Pesantren menengah mempunyai santri antara 1000-2000 orang dan pengaruhnya terdiri dari beberapa kabupaten. Dan yang terakir adalah Pesantren Besar yang biasanya memiliki santri lebih dari 2000 orang dan pengaruhnya dari berbagai kabupaten dan provinsi.

Lima elemen dasar dari tradisi pesantren

Pondok
Dalam dunia pesantren Pondok yaitu sebuah asrama pendidikan islam dimana para siswa tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang atau lebih gurunya yang dikenal dengan sebutan “ Kyai “. Komplek pesantren biasanya dikelilingi oleh tembok agar dapat mengawasi keluar masuknya para santri.
            Ada  2 alasan utama dalam perubahan kepemilikan pesantren  yang dahulunya dimiliki oleh kyai itu sendiri : Pertama, dulu pesantren tak perlu biaya besar dalam semuanya karena sedikitnya santri dan alat bangunan. Kedua, baik kyai maupun  tenaga pendidiknya  yang membantu merupaka bagian dari kelompok pedesaan maka mereka membiayai sendiri kehidupanya dalam pesantren.
            Pondok bagi  santri merupakan ciri khas tradisional pesantren yang membedakan  sistem pendidikan tradisional di masjid dengan wilayah islam lain. Dan biasanya disetiap pesantren ada Asramanya. Ada 3 alasan mengapa pesantren harus menyediakan asrama bagi santrinya. Pertama, keasyuran seorang kyai dan kedalaman pengetahuan tentang islam yang menarik santri jauh, Kedua, hampir semua pesantren di desa tak ada perumahan yang cukup menampung santri. Ketiga, ada sikap timbal balik antara kyai dan santri dan para santri menganggap kyai itu bapaknya.
            Pentingnya asrama bagi santri tergantung jumlah santri tersebut. Untuk pesantren kecil santrinya tinggal di rumah penduduk dan pesantren besar santri tinggal bersama dalam satu kamar ( 8 m persegi ) yang berisi 10-15 santri.
            Dalam pesantren besar  pondok terdiri dari beberapa blok yang terbagi ke dalam kelompok seksi, dan tiap seksi memiliki santri antara 50-120 orang. Tiap seksi memiliki nama-nama yang diambil dari alfabet.
Masjid
Masjid merupakan elemen yang paling penting dalam pesantren untuk mendidik  santri dalam praktek sembahyang, khutbah  sembahyang  jum’at dan pengajaran kitab islam klasik.
            Kedudukan  masjid sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan cara sistem pendidikan islam tradisional yang berkesinambungan dengan masjid Al Qubba pada masa Nabi Muhammad. Dan cara itu sampai sekarang masih dilakukan.
            Seorang Kyai yang ingin mengembangkan pesantren biasanya mendirikan masjid didekat rumahnya. Langkah ini biasanya diambil atas perintah gurunya yang telah menilai bahwa ia mampu memerintah pesantren.


Pengajaran Kitab-Kitab Islam Klasik
Pada masa lalu pengajaran  kitab-kitab islam klasik terutama penganut paham Syafi’iyah yang merupakan pelajaran formal yang diberikan di pesantren. Hal ini mempunyai tujuan yaitu untuk mendidik calon ulama. Para santri yang tinggal di pesantren dalam jangka pendek mempunyai tujuan mencari pengalaman dalam perasaan keagamaan sedang yang tinggal bertahun-tahun bertujuan untuk menguasai cabang-cabang pengetahuan islam.
            Para santri yang bercita-cita menjadi ulama mengembangkan keahlianya dalam bahasa arab melalui sistem sorogan dalam pengajian sebelum mereka pergi ke pesantren untuk mengikuti sistem bandongan.
Keseluruha Kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren ada 8 golongan kelompok. Diantaranya :nahwu (syntax) dan saraf (morfologi), fiqh, usul fight, hadis, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, cabang lain (tarikh dan balaghah).
            Kitab-kitab diatas meliputi teks yang sangat pendek dan teks yang terdiri dari berjilid-jilid mengenai hadis, tafsir, fiqh, usul fiqh dan tasawuf. Kesemua kitab itu digolongkan ke dalam 3 kelompok : kitab-kitab dasar, kitab-kitab menengah dan kitab-kitab besar.
            Sistem pendidikan pesantren yang tradisional biasanya dianggap sangat statis dalam menikuti sistem sorogan dan bandongan dalam menerjemahkan kitab-kitab klasik ke bahasa jawa. Oleh karena itu peran kyai sangat diperlukan karena kyai harus menguasai bahasa arab dalam melakukan hal ini.

Santri
Dalam dunia pesantren terdapat 2 kelompok santri, yaitu:
            1. Santri mukim : murid-murid yang berasal dari daerah jauh dan menetap sebagai santri dalam kelompok pesantren.
            2.  Santri kalong : murid-murid yang berasal dari desa lingkungan pesantren dan tidak menetap dalam pesantren.
            Ada beberapa alasan santri menetap di pesantren :
            1. Ingin mempelajari kitab lain dan membahas islam lebih dalam
            2.  Ingin memperoleh hidup di pesantren dalam beberapa hal
            3.Ingin memusatkan studinya di pesantren tanpa kesibukannya  dirumah
            Pesantren yang kecil biasanya  menyediakan tempat pendidian yang bebas biaya kaena pesantren kecil tak perlu biaya banyakseangkan yang besar sangat perlu.

Kyai
Kyai merupakan elemen paling esensial dalam pesantren karena berkat dialah sebuah pesantren itu di bangun. Sudahsewajarnya jika pertumbuhan sebuah pesantren bergantung kepadanya.
            Di sini ahli pengetahuan islam di kalangan umat islam disebut Ulama. Di jawa barat disebut ajengan dan di jawa tengah dan jawa timur disebut kyai. Namun pada perkembanganya banyak ulama yag berpengaruh di masyarakat disebut kyai walaupin mereka tak mempimpi peantren.
            Para kyai di Jawa beranggapan bahwa suatu pesantren merupakan kerajaaan kecil dimana kyai merupakan sumber yang mutlak dar kekuadaan dan kewenangan kehidupan pesantren.


READ MORE

Indonesia Sebelum Tahun 1500

Posted by Triyanto.d Saputra On Senin, 06 Agustus 2012 2 komentar
1. Perdagangan Asia di Zaman Kuno

Pada permulaan tarich Masehi bojongan-bangsa tadi sudah berakhir. Indonesia didiami suku bangsa yang terkenal hingga masa sekarang, seperti : Batak, Dayak, dan Toraja mendiami pedalaman sementara Melayu, Jawa, Sunda, Madura, bali tinggal di pesisir. Indonesia sudah memiliki hubungan dagang dengan India dan Tiongkok.

Zaman purbakala Asia memiliki dua jalan perniagaan besar, yaitu yang melalui darat dan melalui laut. Jalan darat disebut “Jalan Sutera” mulai dari Tiongkok, Asia Tengah dan Turkestan samapai Laut Tengah. Perhubungan darat antara Tiongkok dengan India di Eropa sudah terkenal sejak tahun 500 SM. Jalan darat adalah jalan paling tua.

Yang melalui laut adalah dari Tiongkok dan Indonesia, melalui Selat Malaka ke India, lalu ke Teluk Persia melalui Syira ke Laut Tengah, ada yang ke Laut Merah, ke Mesir dan ke Laut Tengah. Perhungungan Laut Merah, India, dan Tiongkok mulai lazim pada abad pertama Masehi.

Pada zaman Kekaisaran Romawi terdapat jaring perhubungan perniagaan yang menghubungkan Asia Selatan dengan Laut Tengah. Eropa juga termasuk tetapi perhubungannya dengan Eropa Barat terputus yang menyebabkan runtuhnya Kekaisaran Romawi yang dilakukan oleh tentara-tentara Islam.
Sistem peminjaman tanah pun timbul. Masyarakat Eropa hanya terdiri dari kaum Raja, Bangsawan dan Tani. Sebaliknya, di Kekaisaran Romawi Timur dan negara-negara kalifat Islam serta India dan Tiongkok lebih tinggi derajatnya daripada Eropa Barat. Lalu pada abad ke 12, lalu lintas Eropa Barat kembali berhubungan dengan Asia.

Sifat paling utama adalah adanya dua golongan pedagang yaitu : pertama adalah golongan orang kaya, hartawan yang memasukkan uangnya sebagai modal di suatu usaha perdagangan. Kedua adalah golongan saudagar klontong. Golongan ini sangat besar, mereka ikut berkeliling dengan barang dagangan mereka.
Golongan pertama memberi uang kepada golongan yang kedua. Banyak badan pemerintahan yang memanfaatkan kekuasaan untuk mencari keuntungan.

Golongan kedua berdagang membawa dagangannya yang sedikit yang terdiri dari beberapa puluh kain tenun. Biasanya barang dagangan adalah barang yang tinggi kualitasnya terutama yang lux. Banyak sekali daftar yang panjang dari berbagai logam, perhiasan, alat senjata, tenunan halus dan sebagainnya.

Agama Islam tak menyebabkan perubahan perniagaan di zaman Kuno. Perdagangan meluas sebab perlindungan negara Islam namu organisasnya tak berubah.

Keadaan Mokka abad ke 17 yaitu suatu kota pelabuhan di negeri Arab yang disinggahi oleh kapal-kapal dagang. Perdagangan dikuasai wali negeri di Mokka. Pasar kota Mokka kecil dan labil keadaannya. Mokka abad ke 17 menyerupai kota Makala tahun 1931, yaitu kota pelabuhan penting di Hadhramaut di Arabia Selatan.

Terdapat dua golongan juga yaitu golongan kaya yang memberi uang serta pemegang kekuasaan dan golongan pedagang kelontong yang besar, menjalankan pekerjaan kotor dengan pengalaman pahit manis. Kedua golongan tersebut terdapat perbedaan martabat masyarakat yang besar.

Perdagangan di zaman kuno adalah suatu perdagangan internasional yang melalui pantai dan pelabuhan sedang daerah pedalaman terabaikan. Perdagangan zaman kuno merupakan suatu sejarah yang tak berubah. Perubahan terjadi ta bersifat kualitatif melainkan kuantiatif. Pasar itu adalah senantiasa sesuatu yang konkrit.
Perdagangan Asia di zaman Kuno sama halnya dengan perdagangan lain, yaitu didorong keinginan mencari keuntungan yang disebut kapitalistis. Kapitalisme dapat ditinjau dari berbagai sudut. Pertama dapat kita lihat dari pengertian yang mengandung dua arti, yaitu : Pertama, kapital dalam hubungan sekonomi perseorangan dan berarti uang atau modal untuk memperoleh alat-alat produksi. Kedua, kapita bisa berarti barangbarang kapital atau alat produksi yang yang diprodusir.

Revolusi Industri yang dimulai tahun 1800 ialah kedudukan industri pabrik yang penting, cara produksi dan daya penggerak mekanis. Sebelum revolusi industri, barang kapital tak memegang peranan penting. Sebelum tahun 1800 tak banyak macam kecuali alat perkakas, misalnya : pacul. Yang sulit adalah perkakas tenun, kincir air, angin dan perahu.


Ketiga, mengemukakan hal kapitalisme bisa kita kemukakan adanya pemisahan antara kapital dan kerja antara pemilik alat produksi dan kaum buruh. Oleh karena itu, pemisahan anatara kaital dan kerja adalah sifat yang utama dari kapitalisme modern atau kapitalisme perindustrian.
Kapitalisme politik adalah kapitalisme hak-hak kekuasaan pemerintah yang digunakan oleh para pembesar pemerintahan untuk mencapai atau memperoleh keuntungan bagi diri sendiri. Bentuk pokok kapitalisme ada dua, yaitu kapitalisme modern dan kapitalisme perdagangan.

2. Perdagangan Laut Kuno Indonesia

Dalam abak ke 7 terdapat perhubungan laut yang tetap antara India dengan Tiongkok melalui Indonesia. Yang diperdagangkan ialah : lada dari Sumatera, Cengkeh dan pala dari Indonesia Timur, kayu berharga dari Sunda.

Perdagangan Indonesia sudah terkenal dari Sumatera Utara abad ke 5-6, dari kerajaan Melayu-Hindu di Palembang abad ke 7-14. Kerajaan Sriwijaya adalah suatu kerajaan pantai, negara perniagaan dan negara yang berkuasa di laut. Disebabkan perdagangan internasional melalui selat Malaka, jadi berhubungan dengan jalan raya perdagangan internasional dari Asia Timur ke Asia Barat paling sedikit 15 abad lamanya.
Sriwijaya adalah pust perdagangan penting pertama pada jalan raya, diganti oleh tempat lain dan terakhir oleh Batavia, Djakarta, dan Singapura.

Beberapa pelabuhan di pantai selat Malaka penting sebagai pelabuhan-pembekalan, karena itu Sriwijaya berusaha memonopoli serta menguasai daerah pesisir. Daerah Jambi, Lampung, Semenanjung Malaka, dan genting-tanah Kra dikuasi. Tahun 767, Sriwijaya merampas Tonkin. Pelayaran Sriwijaya meliputi lautan di India sampai Hindia belakang.

Sebelum kerajaan Jawa mengembangkan kekuasaannya, Sriwijaya adalah negara yang utama di Indonesia. Di smaping Sriwijaya, muncul negara-negara Jawa terutama Jawa Tengah dan Timur, tetapi struktur kerajaan lain dengan Sriwijaya. Penduduk di Sumatera sedikit dibandingkan dengan pulau Jawa.
Kerajaan Jawa Timur mempunyai perdagangan laut banyak, tetapi kekuasannya tidak berdasar pada perniagaan, melainkan pada pertanian. Kerajaan Jawa berdasarkan pertanian, mempunyai dasar agraris. Baik di Sumatera dan Jawa, golongan yang berkuasa terdiri dari kaum raja dan bangsawan. Di Sumatera berdasar perniagaan sedangkan di Jawa berdasar pertanian dan perniagaan.

Dalam masyarakat Barat, golongan penduduk mempunyai kedudukan yang penting. Di Indonesia, sejak dulu kala, kekuasaan kenegaraan selalu di tangan raja dan bangsawan. India dan Tiongkok tidak sama dengan Eropa Barat. Dari abad ke abad terdapat berita perdagangan laut Internasional dari Sumatera dan jawa. Tahun 900 M terdapat perniagaan cengkeh, kayu cendana dan buah pala. Banyak utusan yang dikirim ke Sumatera dan Jawa dalam abad ke 7 Sriwijaya dan abad ke 8 Jawa. Utusan membawa barang yang berharga.

Di Jawa sejak abad 9, titik berat terdapat di Jawa Timur. Dalam abad ke 11, di bawah Raja Erlangga, diadakan persiapan keperluan dagang laut. Terdapat tanda-tanda menyatakan bahwa Tuban pada abad ke 11 mempunyai perdagangan laut. Kota ini menjadi pelabuhan Jawa yang penting. Abad ke 12 kapal dagang Jawa dan Sumatera sampai di Annam. Di Jawa terdapat peredaran uang yaitu emas dan perak.

Kerajaan Kediri mengembangkan angkatan lautnya dan menaklukan kepulauan Indonesia bagian Timur. Asia Tenggara lalu kembali lagi ke kebudayaan aslinya. Kemunduran pengaruh Hindu menyebabkan sifat kejawaan bertambah kuat. Sebelum tahun 1200, titik berat pada “kehinduan” namun sesudah itu bertitik berat pada “kejawaan”. Kerajaan sesudah Kediri yaitu Singosari (1222-1291) dan Majapahit (1293-1500) yang pokok adalah anasir Kejawaan.

Ketiga negara terletak di Jawa Timur. Sebelum tahun 900, kekuasaan Hindu-Jawa berpusat di Jawa Tengah lalu pindah ke Jawa Timur. Tahun 1600, Jawa Tengah mulai menjalankan peranan utama lagi. Ada suatu berita bahasa Arab dari tahun 1154 tantang perdagangan Sriwijaya dengan daerah pantai timur Afrika. Pelayaran bangsa Indonesia hanya terbatas pada pelayaran antar pulau di Indonesia.
Akhir abad ke 13, pergulatan Sriwijaya dengan Jawa Timur mengenai kekuasaan di Indonesia mulai berkobar. Sebelumnya Sriwijaya hanya bergerak dan berkuasa di bagian Barat sementara Jawa Timur hanya mementingkan bagian Timur. Tahun 1257, Pamalayu dimulai yakni ekspedidi perang dari Jawa Timur ke Sumatera dengan pembawa panji merah-putih.

Tahun 1286 sebuah negara Melayu, yaitu negara Ta’luk Kerajaaan Jawa yang lambat laun mnegalahkan kerajaan Sriwijaya. Tahun 1300, Sriwijaya kehilangan gentimg tanah Kra yang direbut oleh Raja Siam.
Di Jawa Timur tahun 1300 muncul kerajaan Majapahit yang melebarkan sayap kekuasaan dan mecapai puncak kemegahan pada tahun 1365. Kerajaan Majapahit tak melioutu kerajaan Pajajajaran dan daerah Jawa Tengah bagian selatan tetapi pada umumnya besar wilayahnya sama dengan Nederlands-Indie.

Kerajaan Majapahit berdasar pada kekuasaan laut. Kerajaan ini menguasai laut dan pantai terpenting di Indonesia. Pemerintah Jawa mencampuri keadaan dalam negeri tersebut. Negeri yan takluk cukup mengirimkan utusan pada waktu tertentu. Segala pengaruh asing dalam kerajaan ditolak. Pegawai Jawa dikirim ke daerah taklukan untuk memungut sumbangan dari daerah jajahan itu.

Berabad-abad lamanya, Tuban adalah pelabuhan yang terbesar di Jawa. Abad 15 muncullah kota Gresik yang terdapat banyak orang Tionghoa yang kaya. Kota ini gudang besar rempah-rempah. Jepara juga menjadi penting bagi ekspor beras. Rempah diperdagangkan terus ke Barat melalui Selat Malaka ke Tiongkok. Jawa mengeluarkan beras ke Maluku. Abad 15 adalah perniagaan transito rempah dari Maluku ke Barat dan Utara lalu ekspor beras dari Jawa ke pusat.

Sesudah Hayam Wuruk wafat tahun 1389, Majapahit merosot. Kerajaan ini kehilangan bagian daerahnya yang turut meleaskan diri bertepatan dengan datangnya agama Islam. Tahun 1300-1400 di Mlaka lambat laun agama baru tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Hanya Iran yang beleum terjamah. Tahun 1419 ada saudagar Islam di Gresik. Tahun 1450-1500 agama Islam menguasai daerah pesisir utara Jawa Timur dan Tengah. Tahun 1440, Islam sudah sampai Ternate. Tahun 1500, di maluku sudah ada negara Islam.
Jatuhnya kerajaan Majapahit tahun 1478 tak disebabkan negara Islam di daerah pesisir melainkan kerajaan Hindu yaitu Daha-Kediri melepaskan diri dari Majapahit. Kerajaan Kediri tahun 1526 ditaklukan Sultan Demak. Sebelum kedatangan Portugis, Majapahit sudah runtuh.

Pengganti Majapahit adalah kesultanan Demak tahun 1515 meliputi pesisir utara Jawa dari Demak hingga Cirebon. Cirebon direbut Demak tahun 1475. Demak berkuasa juga di daerah Palembang dan Jambi. Jepara pun menguasai Bangka dan beberapa daerah Kalimantan.

Tahun 1546 terdapat kerajaan Demak yang meliputi Jepara. Kerajaan ini merebut Banten dan Sunda Kelapa sementara di daerah Timur ditaklukan dengan peperangan tahun 1525-1546. Pada pertempuran melawan Balambangan tahun 1546, Sultan Demak tewas lalu keadaan jadi kacau. Kesultanan Demak diganti Kesultanan Pajang meliputi daerah kesultanan Jawa Tengah.

Abad ke 12 di Maluku mulai terbentuk organisasi. Tahun 1250 di Ternate timbul suatu kerajaan Jailolo yang kecil di Halmahera. Waktu itu perkebunan rempah Maluku. Mula cengkih hanya di Ternate namun diperluas karena permintaan cengkih bertambah, maka abad 15 masyarakat Maluku tidak hanya mengumpulkan cengkeh dari hutan melainkan menananm di perkebunan. Kepala pemerintahan kota pelabuhan lambat laun menjadi raja pelabuhan. Majapahit di peisir merosot menyebabkan runtuhnya kerajaan itu.

Kedatangan agama Islam di Indonesia tidak disertai dengan serbuan tentara asing. Agama inin sampai di Indonesia melalui India dan mudah diterima masyarakat Indonesia. Pengaruh Barat dengan Hindu dan Tionghoa itu berbeda. Oleh karena itu, semua bangsa Eropa yang datang ke Indonesia, seperti : Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris berusaha memperoleh kekuasaan di laut. Lain halnya dengan kebudayaan Hindu yang azasnya sama dengan kebudayaan Indonesia.
READ MORE

Hubungan Intelektual & Kekerabatan Sesama Kyai

Posted by Triyanto.d Saputra On Minggu, 05 Agustus 2012 0 komentar


Kyai adalah salah satu elemen yang penting dalam sebuah pesantren.Kyai juga merupakan cikal bakal dalam berdirinya sebuah pesantren Banyak orang yang menyimpulkan bahwa Lembaga-lembaga di pesantren di Jawa mempunyai suatu kelemahan yaitu pesantren itu jarang sekali dapat mendidik pemimpin / penerus dari pesantren itu sendiri.Akibatnya pesantren yang semula besar,lama kelamaan menjadi pudar

Sejarah membuktikan bahwa jarang sekali pesantren yang bertahan lebih dari satu abad.
Untuk mempertahankan pesantren,cara yang ditempuh oleh kyai adalah :
1. Mengembangkan tradisi bahwa keluarga terdekat harus menjadi calon kuat pengganti kepemimpinan pesantren
2. Mengembangkan sutu jaringan aliansi perkawinan endogamous antara keluarga kyai
3. Mengembangkan tradisi transmisi pengetahuan dan rantai transmisi intelektual antara sesama kyai & keluarganya

Hubungan Kekerabatan antara sesama Kyai :
Geneologi social Pemimpin Pesantren :
Dari satu generasi ke generasi selanjutnya,seorang kyai selalu menaruh perhatian istimewa kepada putera-puterinya di dalam pendiidkannya supaya putera – putrinya dapat menggantikannya kelak Seorang Kyai juga selalu mengharapkan anak tertuanya untuk menjadi pengganti kedudukannya sebagai pemimpin pesantren .Jika Kyai tersebut memiliki banyak anak,biasanya anak- anaknya nya yang lain dilatih untuk dapat mendirikan suatu pesantren yang atau dapat menngantikan pesantren yang dipimpin oleh mertuanya kelak ( kebanyakan putra dari kyai mengawini putri dari pemimpin pesantren ). Kebanyakan para kyai mengawinkan putra- putrinya dengan murid- muridnya yang pandai,terutama bila murid itu adalah anak dari pemimpin pesantren Cara ini digunakan para kyai untuk menjalin ikatan kekerabatan


Keluarga Kyai Di Jawa

Kekerabatan para kyai memainkan peranan dalam membentuk tingkah laku ekonomi,politik, dan keagamaan.Secara sosiologis,kelompok kyai tidak dapat dianggap sebagai kelompolk terbuka karena kuatnya perasaan dan keterikatan mereka pada prinsip perkawinan endogomous antar sesama keluarga kyai .Para Kyai biasanya dibantu oleh seorang Badal.Badal sendiri biasanya berasal dari anggota keluaraga Kyai.Badal bertugas untuk mengurusi psantren dan mengajar para santri .Di Jawa ,anggota keluarga kyai dihormati dan mereka memiliki pretise yang tinggi .Isteri dan puteri puteri para kyai yng telah menikah mendapat julukan “Nyai”.Di Jawa Timur,putera,cucu laki laki dan menantu laki laki diberi julukan “gus” yang berasal dari kata si bagus.Kepercayaan para Kyai kepada putera puteranya mereka yang memiliki ilmu laduni ini,dalam prakteknya mereka tidak perlu mendidik putera puteranya dengan sungguh sungguh melainkan para kyai ini memberikan perhatian yang istimewa kepada putera puteranya Ilmu Laduni ini tidak dipertentangkan dalam ajaran Islam yang mewajibkan seluruh umatnya untuk terus menimba ilmu .Gelar Gus memiliki arti yang sangat penting di dalam pendidikan pesantren karena hasil belajar dari gus ini melebihi hasil yang dilakukan oleh santri santri lainnya yang ada di pesantren


Beberapa orang Kyai biasanya memiliki kelebihan kelebihan spiritual seperti Karamah ( orang yang memiliki keutaman Budi & Karisma ) dan dapat jadi penyalur Barakah ( kemurahan atau hadiah kebagusan ) dari Allah untuk para pengikutnya .Kepercayaan para kyai ini berlaku selama kyai tersebut adalaj\h orang orang wira’I ,yang selalu menghindarkan diri dari perbuatan perbuatan yang dilarang,makruh,dsbnya .Jika seorang Kyai mermiliki atribut berupa barakah dan karamah maka ia akan dapat menjadi pemimpin yang kharismatik .

Penyebab seorang kyai berhasil mengembangkan pesantren adalah pengetahuannya yang luar biasa dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan khususnya Islam,kemampuan berorganisasi dan kepemimpinannya dalam mengembangkan pesantren

Geneologi Intelektual

Sejak Islam masuk di Jawa,para kyai selalu menjalin rantai intelektual yang tidak terputus.Ini berarti bahwa antara satu pesantren ke pesantren lainnya terjalin hubungan intelektual yang mapan.Dalam tradisi pesantren ,seorang kyai tidak akan memiliki status dan kemasyuran hanya karena kepribadian yang dimilikinya.Ia menjadi kyai karena ada yang mengajarnya.Ia pada dasarnya memiliki watak pesantren dan gurunya dimana ia belajar.Dalam tradisi pesantren,rantai transmisi ini disebut dengan “ sanad”.Sanad tersebut memiliki standar.Setiap individu yang berada di dalam sanad disebut dengan isnad Dalam tradisi tarekat,istilah ini sering digunakan


Dalam tradisi pesantren,sekali seorang guru melakukan perbutan maksiat,maka guru tersebut tidak dapat lagi dianggap sebagai penyalur barakah dan kemurahan Tuhan/Allah.Hormat &dankepatuhan absolute seorang guru didasari adanya kepercayaan bahwa guru tersebut memiliki kesucian krn memegang penyalur pengetahuan dari Tuhan/Allah.Menurut ajaran Islam,kewajiban seorang murid untuk patuh secara mutlak kepada gurunya Kepercayaan seorang murid kepada gurunya di dasari oleh adanya keyakinan

Sejarah Intelektual Kyai Kyai yang Ternama Di Jawa
Menurut studi yg dilakukan oleh Prof.John,para ulama di Indonesia pada abad ke 16 & 17 banyak yg mengadakan hubungan surat menyurat dengan para ulama yg berada di Saudi Arabia.Para kyai di India ini juga sering mengundang para ulama di India dan negeri Arab dengan membawa buku buku tafsir,figh,dan lain lain


Geneologi Intelektual Para Kyai :

1. Syekh Ahmad Khatib Sambas

Syekh Sambas ini sangat terkenal di Jawa karena dianggap berhasil mengkoordinasikan ajaran ajaran dari 2 organisasi tarekat yaitu Tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah.Di Jawa,Tarekat itu dikenal dengan nama Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah.Tarekat tersebut adalah sarana yang sangat pentiing bagi penyebaran agama Islam di Indonesia dan Malaysia dari pusatnya di Mekkah antara pertengahan abad ke 19 sampai perempat pertama abad ke 20.Syekh Sambas menulis buku yang berjudul “Fath Al ‘Arifin yang cukup terkenal dan menjadi bacaan yang penting bagi pengamal Tarekat di Asia Tenggara. Fath Al ‘Arifin adalah suatu pedoman yang menguraikan dasar – dasar ajaran praktek dhikir bagi para pengikutnya.

2. Syekh Nawawi Banten

Syekh Nawawi dilahirkan pada tahun 1230 Hijriyah ( 1815 M ) di desa Tanara ,Banten.Beliau belajar pengetahuan dasar Bahasa Arab,figh,dan tafsur dari ayahnya kemudiania mewlanjutkan pelajarannya di Purwakarta di bawah bimbingan Kyai Yusuf,seorang kyai yang terkenal menarik santri – santri dari luar Jawa,terutama di daerah Jawa Barat. Syekh Nawawi ini melakukan perjalanan ibadah haji pada usia muda.Beliau berada di Mekah selama 3 tahun untuk belajaer lebih banyak lagi.Pada tahun 1830 – 1860, Syekh Nawawi belajar di bawah bimbingan ulama terkenal,diantaranya Khatib Sambas,Abdulgani Bima,Yusuf Sumbulaweni,Nahrawi dan Abdulhamid Danghestani.Pada tahun 1860-1870 Syekh Nawawi mwengajar di Mesjid Haram dan beliau mulai aktif untuk menulis.Karya – karya dari Syekh Nawawi diantaranya adalah :
 Syarah Al-Jurumiyyah,yang berisi tata bahasa Arab
 Fathul Mujib
 Tafsir Murah Labib
 Syarah tentang Asmaul Husna
 Dsbnya
Nama Syekh Nawawi ini mendapatkan julukan “Sayyid ulama al Hijaz “ yang berarti pemimpin para ulama Hijas

3. Syekh Abdul Karim

Syekh Abdul Karim ini adalah salah seorang ulama yang memegang peranan penting di dalam pemberontakan rakyat Banten di Cilegon pada tahun 1888. Syekh Abdul Karim ini pengikut setia dari Syekh Ahmad Khatib Sambas. Syekh Abdul Kari mini adalah pengganti Syekh Ahmad Khatib Sambas untuk menjadi pemimpin Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah dari pusatnya di Mekah.Beliau juga mendirikan pesantren di Banten .Sebagai pemimpin Tarekat dan pesantren,nama Syekh Abdul Karim ini terkenal di seluruh Jawa.Ia juga mnendapat gelar “ Kyai Agung”.
Lima buah Tarekat di Jawa yang mnenjadi tarekat paling berpengaruh adalah yang berdasarkan silsilah dari Syekh Abdul Karim yaitu Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah dengan pusatnya sebagai berikut :
a. Pesantren Pegentongan di Bogor
b. Suralaya di Tasikmalaya
c. Pesantren Mraggen di Semarang
d. Pesantren Bejosa di Jombang
e. Tebuireng di Jombang

4. Syekh Mahfudh at-Tarmisi

Syekh Mahfudh lahir di Tremas,Jawa Timur.Ayahnya adalah Kyai Abdullah adalah seorang pemimpin Pesantren Tremas yang sangat terkenal pada pertengahan ke dua abad 19. Syekh Mahfudh menjadi salah satu pengajar di Masjid Haram. Syekh Mahfudh ini menjadi kebanggaan bangsa Melayu sebagai seorang alim yang berkaliber internasional .Ia menulis 5 kitab yang terdiri dari berbagai jilid tetapi yang hanya berhasil hanya satu kitab yaitu Muhibah dhill Fadhal yang terdiri dari 4 jilid besar.Di kalangan para kyai di Jawa, Syekh Mahfudh ini juga dikenal sebagai seorang ahli dalam hadis Bukhari.Beliau juga juga seorang isnad yang berhak memberikan ijasah kepada mereka yang berhasil menguasai hadis Bukhari itu.Ijasah itu berasal dari Syekh Mahfudh sendiri yang ditulis sekitar 1000 tahun yang lalu.Murid yang berhasil menguasai hadis Bukhari ini adlah murid kesayangan dari Syekh Mahfudh yaitu Hadratus Syekh

5. Kyai Khalil Bangkalan

Kyai Khalil ini dikenal sebagai seorang wali,walaupun ia tidak memimpin Tarekat.Hal ini sangat menarik karena dalam tradisi pesantren,orang yang dianggap memilimki tingkat kesucian yang tinggi,bukanlah semata mata keberhasilannya memimpin Tarekat namaun ketinggian spiritual seorang kyai dapat dicapai dari ketinggian ilmu dan kesalehannya di mata Tuhan. Kyai Khalil ini juga dikenal sebagai ahli tatabahasa dan Sastra Arab.Ulama terkenal yang pernah dibimbing oleh Kyai Khalil adalah :
 Hadratus Syekh
 Kyai Muhammad Siddiq,Jember
 Kyai Manaf Abdul Karim,Lirboyo,Kediri
 Kyai Munawir,Krapyak,Yogyakarta
 Kyai Abdullah Mubarak,Suralaya,Tasikmalaya
 Kyai Wahab Hasbullah,Jombang

6. Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari

Kyai Muhamad Hasyim Asy’ari adalah pendiri pesantren Tebuireng.Para Kyai memberikan gelar Hadratus Syekh yang berarti Tuan Guru Besar.Pada mulanya ia belajar ilmu-ilmu tauhid,hokum Islam,bahasa Arab,tafsir dan hadis. Hadratus Syekh ini mengawini anak dari pemimpin pesantren Siwalan.Pada tahun 1899, Hadratus Syekh ini kembali ke Jawa dan mnengajar di pesantren Gedang yang didirikan oleh Kyai Usman.Kemudian ia mendirikan sendiri pesantren Tebuireng.Dari Gedang ia membawa beberapa orang santri.Dalam tradisi pesantren,hal ini lumrah bahwa seorang yang telah menyelesaikan pelajarannya yang terakhir dan ingin mendirikan pesantren baru,membawa serta beberapa santri atas seizin kyai.

Peranan Hadratus Syekh dalam perkembangan Islam di Jawa

Peranan Hadratus Syekh sangat penting karena pengaruhnya yang penting di dalam lingkungan Islam tradisional .Pada tahun 1944, Hadratus Syekh ini ditunjuk sebagai kepala urusan agama oleh pemerintah Jepang untuk wilayah Madura dan Jawa.Pada waktu pemimpin Islam modern dan tradisional mendirikan partai Masyumi pada tahun 1946, Hadratus Syekh terpilih sebagai Rois’Aam. Hadratus Syekh meninggal pada tahun 1947,dan dengan Keputusan Presiden No.294/1964,beliau diakui sbagai seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional.Pemberian gelar didasarkan atas jasa-jasnya kepada pemerintah.Antara tahun 1946-1947, Hadratus Syekh ini mengeluarkan 2 fatwa yaitu,ia menfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad dan beliau melarang Hadratus Syekh kaum muslimin Indonesia untuk melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda.Pengaruh Hadratus Syekh yang luar biasa ini disebabkan karena beliau sukses mengembangkan pesantren Tebuireng pada abad 20.Pesantren Tebuireng ini adalah sumber ulama dan sumber pemimpin lembaga –lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura.
READ MORE

Permulaan Gereja pada zaman portugis

Posted by Triyanto.d Saputra On Sabtu, 04 Agustus 2012 0 komentar
zaman portugis

Keadaan umum pada awal abad ke-16

Ciri khas keadaan di Indonesia pada abad ke-15 dan ke-16 adalah perubahan-perubahan yang besar di bidang politik kerajaan majapahit yang dalam puncak kebesarannya telah menanam pengaruhnya hingga melewati batas-batas wilayah Indonesia sekarang, tetapi pada waktu itu di Sumatera Utara beberapa kerajaan pantai memproklamirkan diri sebagai kerajaan yang berdiri sendiri, Minangkabau tak mau mengakui lagi kekuasaan Majapahit lalu melepaskan diri pula, pelabuhan Tumasik (singapura) yang penting juga telah menghilang. Malaka pada abad ke-15 itu merebut daerah diantara kerajaan-kerajaanlain dibawah pimpinan sultan yang berkuasa.

 Tetapi keretakan kesatuan politik juga terjadi di Jawa yaitu pelabuhan-pelabuhan dipantai utara pulau Jawa yang sebelumnya takluk kepada Majapahit, kini membebaskan diri dari kekuasaan Majapahit lalu berdiri sendiri. Pada tahun 1478 kerajaan Majapahit pun lenyap akibat perpecahan yang telah terjadi. Sisa-sisa terakhir dari kerajaan yang jaya ini melarikan diri ke Balidan kesebelah timur pulau Jawa yaitu kerajaan Blambangan (Panarukan). Disana mereka masih bisa mempertahankan agama Hindunya selang seabad lamanya, dan pada tahun 1599 tamatlah riwayat mereka. Di Jawa Barat kerajaan Padjajaran (Bogor) runtuh tetapi dengan bantuan kerajaan Demak yang kuat itu, maka Banten sebagai pelabuhan yang penting di Jawa Barat, menyatakan berdiri sendiri lalu melebarkan pengaruhnya di Sunda Kelapa. 

Sunda Kelapa adalah pelabuhan lama dari padjajaran yang dalam tahun 1527 akan mendapat arti yang baru dengan nama Djakarta (Djayakarta). Akhirnya kita melihat di Indonesia bagian timur beberapa raja,terutama sultan Ternate dan sultan Tidore, mulai memperluas kekuasaannya. Hal ini pertam-tama dari Maluku melewati Gresik sampai ke Malaka, dimana rempah-rempah dari Maluku itu dibawa ke pasar dunia.
Sebab utama dari perubahan-perubahan politik ini ialah kedatangan agama islam di Indonesia. Sudah sejak akhir abad ke-13 kita melihat agama Islam itu mulai masuk. Pedagang-pedagang beragama islam dari Persia dan terutama dari India Barat ialah Gujarat, merekalah yang menyiarkan agama ini, ketika mereka dapat memasuki istana-istana para raja di Sumatera Utara dan seterusnya dimana saja mereka berdagang disepanjang pantai utara pulau Jawa. 

Pengaruh mereka dipertebal lagi hubungan-hubungan nikah yang diadakan dengan keluarga raja-raja ini. Dalam abad ke-15 dan ke-16 itu berlangsung perlahan-lahan pengislaman terhadap kaum bangsawan tertinggi yang tinggal di tempat pelabuhan terpenting. 

Sejak islam masuk ke Indonesia maka terjadi penyebaran agama secara meluas ke seluruh daerah. Tetapi pada pihak lain yang harus dicatat kontak pertama, yang didapati secara langsung dengan Negara-negara barat adalah munculnya orang-orang portugis diperairan Asia. Memang benar bahwa injil sejak abad pertama memasuki Asia. Gereja Mar-Thoma di india selatan mengatakan bahwa terjadinya gereja itu ialah karena pemberitaan injil oleh rasul Thomas.

Dan batu Sian-Fu yang terkenal itu menceritakan bahwa sudah sejak abad ke 8 beribu-ribu orang bertobat dan menjadi Kristen oleh pekerjaan para rahib di tiongkok. Tetapi Indonesia tidak kita dapati sedikitpun bekas pengkabaran injil dan ketika orang portugis dating ke Indonesia pada abad ke-16, mereka yang pertama menjadi pengkabar injil / agama Kristen. 

Latar belakang portugis datang ke Indonesia adalah karena keinginan yang tak tertahankan untuk menemukan negeri di belahan dunia lain, suatu keinginan yang timbul pada zaman dianatara bangsa eropa barat. Bangsa porugis dan spanyolah yang pertama melaksanakannya karena pada waktu itu mereka sedang berada pada puncak kejayaan. Selain faktor ekonomi dan politik yaitu ingin menaklukkan negeri-negeri itu serta mencari kekayaan di sana. Yang paling utama mereka cari ialah rempah-rempah dari india timur. Lada, pala, dan cengkeh sangat laku di pasaran eropa. Tidak saja untuk kebutuhan dapur tetapi juga untuk obat-obatan.

Tetapi tak disangkal bahwa yang mendorong mereka ialahhasrat untuk memasehikan daerah-daerah yang ditemukan dan ditaklukkannya itu. Tidak percuma pada layar-layar kapal mereka tertera tanda salib. Dan hendrik adalah seorang pelaut yang tadinya mengapali perkumpulan kesatria templar dan para kesatria salib tyang bersifat rohani telah mampu mengobarkan semangat untuk memimpin ekspedisi ini. Raja portugis sendiri yang menjadi kepala mereka. Kekuasaan dan uangnya merupakan tulang punggung dari segala pekerjaan pertobatan yang akan dilakukan di Asia. Penyebaran injil sudah menjadi tujuan utama, bukannya sebagai pekerjaan sambil lalu saja. 

Permulaan abad 16 merupakan waktu peralihan dalam segala segi. Banyak pertentangan terjadi karena raja-raja islam yang berada di pulau jawa menolak hadirnya bangsa portugis menginjakkan kaki di tanah jawa, kecuali di jawa timur. Di jawa timur hingga akhir abad 16 masih terdapat sebuah kerajaan hindu. Tetapi disamping itu melihat adanya ketegangan antara raja-raja islam dengan bangsa kafir sekitar mereka. Bangsa-bangsa kafir ingin mempertahankan kemerdekaannya dan tidak mau tunduk kepada raja-raja islam. Oleh karena itu bangsa-bangsa kafir meminta pertolangan kepada bangsa portugis. Demikian terdapat suatu gambaran yang sangat sulit dari kekuatan – kekuatan yang berlawanan. Hal ini mengakibatkan pemberitaan injil dan pembentukan gereja kristus terlibat ketegangan itu.ombak besar pada masa itu seolah-olah tidak memungkinkan perahu gereja berlayar dengan lancar di Indonesia.
READ MORE

Raja dan Rakyat: Hubungan Kawula-Gusti

Posted by Triyanto.d Saputra On Kamis, 02 Agustus 2012 0 komentar

Dalam kehidupan tradisional orang Jawa hubungan antara hamba dan tuan bukan bersifat tak pribadi, sebaliknya, hubungan ini lebih merupakan ikatan pribadi dan akrab, saling hirmat dan bertanggung jawab.
Secara ideal hubungan ini menuruti contoh kasih sayang dalam ikatan keluarga. Hal ini juga berlaku dalam hubungan sosial pada umumnya. Sikap demikian terlihat dari kenyataan bahwa orang Jawa pada umumnya sering menyapa orang asing dengan panggilan ki-sanak atau saderek yang berarti kerabat.

Konsep kawula-gusti dalam pakaian mistiknya, jelas dapat kita lihat betapa sudah benar-benar berakarnya arti hubungan tuan-hamba yang akrab ini dalam pikiran orang-orang Jawa. Dalam mistik Jawa, kata-kata jumbuhing kawula gusti (menyatunya hamba dan tuan) melukiskan tujuan tertinggi dalam hidup manusia, yaitu tercapainya “kesatuan” yang sesungguhnya (manunggal) dengan Tuhan.  Konsep kawula-gusti sangat diwarnai oleh ciri lain pemikiran Jawa: kepercayaan yang tak tergoyahkan akan nasib, akan hal-hal yang sudah ditakdirkan, yang dinyatakan dalam kata pinesti (ditentukan), tinitah (ditakdirkan), atau kata pinjaman dari bahasa Arab, takdir. 


Ada 2 lapisan utama pada masyarakat Jawa: wong cilik (orang biasa) dan penggede (golongan penguasa), tidak terutama dari segi kekayaan ekonomis atau keunggulan kelahiran tetapi dari segi pertuanan dan perhambaan, dari segi kawula (hamba) terhadap bendara (tuan), dan tempat seseorang dalam tatanan masyarakat, jadi hak serta kewajibannya, dianggap sebagai telah ditakdirkan.
Contoh dari ketegaran takdir terdapat dalam pertunjukkan wayang, yaitu dalam lakon Bratayuda, perang antara Pandawa dan Kurawa. Utusan Pandawa, sri Betara Kresna, begitu marahnya oleh sikap Korawa yang menghina  sehingga dia menjelmakan diri (menggunakan bentuk tiwi-krama nya) menjadi raksasa dahsyat yang mempunyai 1000 kepala, tangan dan kaki. Dia mampu menghancurkan korawa dan bahkan seluruh penduduk Ngastina pada saat itu juga, sekiranya Dewa surya, utusan Suralaya, tidak memperingatkannya bahwa kehendak takdir yang harus berlaku, bahwa perang Baratayuda yang mengerikan dan menghancurkan harus terjadi dan bahwa kaum Korawa akan musnah dalam perang itu. Bahkan dalam hal ini seorang dewa (Kresna adalah penjelmaan Dewa Wisnu) pun tidak diperkenankan mengubah kehendak takdir.


Kedudukan Raja dalam Kehidupan Bernegara

Kedudukan Raja dan Islam
Dalam konsep orang Jawa tentang organisme negara, raja atau ratulah yang menjadi eksponen mikrokosmos, negara. Bahwa pandangan tentang alam yang terbagi dalam mikrokosmos –dunia manusia-dan makrokosmos-dunia supra-manusia-adalah sesuatu yang pokok bagi pandangan hidup orang Jawa.
Ada 2 faktor yang terpenting bagi pemahaman orang Jawa mengenai kehidupan negara :

1. adanya kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos

2. adanya pengaruh timbal balik antara makrokosmos dengan mikrokosmos.
Kedua faktor ini menentukan bahwa ketertiban sosial seyogyanya dianggap sebagai peraturan yang teliti dan ketat yang mengikuti perubahan-perubahan musim yang sinambung tiada hentinya
Suatu perbandingan antara masa Jawa-Hindu dan masa Mataram II dapat menerangkan konsep raja sebagai pusat mikrokosmos negara dan puncak hierarki-status dalam negara. Karena mikrokosmos sejajar dengan makrokosmos, raja Jawa-Hindu disamasesuaikan dengan dewa, biasanya Dewa Wisnu, dan permaisurinya disamasesuaikan dengan cakti dewa.
Sesungguhnya ajaran Islam menolak penyamasesuaian yang demikian terang-terangan antara manusia dengan Tuhan. Teologi Islam menempatkan raja dalam kedudukan yang tidak semulia dan seagung sebelumnya, yaitu kedudukan khalifatullah, wali Tuhan di dunia.
Kedudukan raja dianggap sebagai pencerminan kedudukan Tuhan. Tuhan disebut Sang Murbawisesa, Penguasa tertinggi. Raja ditempatkan pada tampuk tata masyarakat, jauh diatas jangkauan orang biasa.



Tugas raja :

Dalam bidang politik, menjaga supaya jangan sampai terjadi gangguan-gangguan dan memulihkan ketertiban kalau seandainya sudah terjadi.
Raja yang Ideal : raja seyogyanya memiliki 8 nilai kebajikan :

1. Dana yang tidak terbatas, “kedermawanan”, sifat Batara Endra, kepala semua dewa bawahan

2. Kemampuan untuk menekan semua kejahatan, sifat dewa maut, Yama.

3. Berusaha membujuk dengan ramah dan tindakan yang bijaksana, sifat dewa matahari, Surya.

4. Kasih sayang, sifat Batara Candra

5. Pandangan yang teliti dan pikiran yang dalam, sifat dewa angin : Bayu

6. Kedermawanan dalam memberikan harta benda dan hiburan, sifat dewa harta duniawi, Kuwera;

7. Kecerdasan yang tajam dan cemerlang dalam menghadapi kesulitan macam apapun, sifat dewa lautan, Baruna

8. Keberanian yang berkobar-kobar dan tekad yang bulat dalam melwan setiap musuh, sifat dewa api, Brama.
Sifat-sifat ini sesungguhnya merupakan pengertian yang sangat realistis tentang masalah-masalah kebijaksanaan negara, yang meliputi kasih hati yang pemurah maupun kekerasan yang tiada kenal ampun dan tidak melupakan arti penting harta benda maupun daya kecerdasan, tetapi sifat-sifat ini juga menekankan tuntutan luar biasa dan yang benar-benar melebihi kemampuan manusia untuk menjadi tadan sebagai raja – hal yang sepenuhnya disadari orang Jawa sebagai hal yang tidak mungkin. Syarat lain yang pokok bagi seorang raja ideal ialah kemampuannya untuk memilih pegawai-pegawainya; peraturan-peraturan untuk itu dikemukakan dalam banyak karangan. Keseimbangan badaniah dan perangai fisik merupakan unsur penting dalam menentukan pilihan. Ini merupakan salah satu sebab mengapa ngelmu firasat senantiasa penting bagi orang Jawa, walaupun semata-mata di gunakan untuk memperoleh pengetahuan watak manusia saja
READ MORE