Raja dan Rakyat: Hubungan Kawula-Gusti

Posted by Triyanto.d Saputra On Kamis, 02 Agustus 2012 0 komentar

Dalam kehidupan tradisional orang Jawa hubungan antara hamba dan tuan bukan bersifat tak pribadi, sebaliknya, hubungan ini lebih merupakan ikatan pribadi dan akrab, saling hirmat dan bertanggung jawab.
Secara ideal hubungan ini menuruti contoh kasih sayang dalam ikatan keluarga. Hal ini juga berlaku dalam hubungan sosial pada umumnya. Sikap demikian terlihat dari kenyataan bahwa orang Jawa pada umumnya sering menyapa orang asing dengan panggilan ki-sanak atau saderek yang berarti kerabat.

Konsep kawula-gusti dalam pakaian mistiknya, jelas dapat kita lihat betapa sudah benar-benar berakarnya arti hubungan tuan-hamba yang akrab ini dalam pikiran orang-orang Jawa. Dalam mistik Jawa, kata-kata jumbuhing kawula gusti (menyatunya hamba dan tuan) melukiskan tujuan tertinggi dalam hidup manusia, yaitu tercapainya “kesatuan” yang sesungguhnya (manunggal) dengan Tuhan.  Konsep kawula-gusti sangat diwarnai oleh ciri lain pemikiran Jawa: kepercayaan yang tak tergoyahkan akan nasib, akan hal-hal yang sudah ditakdirkan, yang dinyatakan dalam kata pinesti (ditentukan), tinitah (ditakdirkan), atau kata pinjaman dari bahasa Arab, takdir. 


Ada 2 lapisan utama pada masyarakat Jawa: wong cilik (orang biasa) dan penggede (golongan penguasa), tidak terutama dari segi kekayaan ekonomis atau keunggulan kelahiran tetapi dari segi pertuanan dan perhambaan, dari segi kawula (hamba) terhadap bendara (tuan), dan tempat seseorang dalam tatanan masyarakat, jadi hak serta kewajibannya, dianggap sebagai telah ditakdirkan.
Contoh dari ketegaran takdir terdapat dalam pertunjukkan wayang, yaitu dalam lakon Bratayuda, perang antara Pandawa dan Kurawa. Utusan Pandawa, sri Betara Kresna, begitu marahnya oleh sikap Korawa yang menghina  sehingga dia menjelmakan diri (menggunakan bentuk tiwi-krama nya) menjadi raksasa dahsyat yang mempunyai 1000 kepala, tangan dan kaki. Dia mampu menghancurkan korawa dan bahkan seluruh penduduk Ngastina pada saat itu juga, sekiranya Dewa surya, utusan Suralaya, tidak memperingatkannya bahwa kehendak takdir yang harus berlaku, bahwa perang Baratayuda yang mengerikan dan menghancurkan harus terjadi dan bahwa kaum Korawa akan musnah dalam perang itu. Bahkan dalam hal ini seorang dewa (Kresna adalah penjelmaan Dewa Wisnu) pun tidak diperkenankan mengubah kehendak takdir.


Kedudukan Raja dalam Kehidupan Bernegara

Kedudukan Raja dan Islam
Dalam konsep orang Jawa tentang organisme negara, raja atau ratulah yang menjadi eksponen mikrokosmos, negara. Bahwa pandangan tentang alam yang terbagi dalam mikrokosmos –dunia manusia-dan makrokosmos-dunia supra-manusia-adalah sesuatu yang pokok bagi pandangan hidup orang Jawa.
Ada 2 faktor yang terpenting bagi pemahaman orang Jawa mengenai kehidupan negara :

1. adanya kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos

2. adanya pengaruh timbal balik antara makrokosmos dengan mikrokosmos.
Kedua faktor ini menentukan bahwa ketertiban sosial seyogyanya dianggap sebagai peraturan yang teliti dan ketat yang mengikuti perubahan-perubahan musim yang sinambung tiada hentinya
Suatu perbandingan antara masa Jawa-Hindu dan masa Mataram II dapat menerangkan konsep raja sebagai pusat mikrokosmos negara dan puncak hierarki-status dalam negara. Karena mikrokosmos sejajar dengan makrokosmos, raja Jawa-Hindu disamasesuaikan dengan dewa, biasanya Dewa Wisnu, dan permaisurinya disamasesuaikan dengan cakti dewa.
Sesungguhnya ajaran Islam menolak penyamasesuaian yang demikian terang-terangan antara manusia dengan Tuhan. Teologi Islam menempatkan raja dalam kedudukan yang tidak semulia dan seagung sebelumnya, yaitu kedudukan khalifatullah, wali Tuhan di dunia.
Kedudukan raja dianggap sebagai pencerminan kedudukan Tuhan. Tuhan disebut Sang Murbawisesa, Penguasa tertinggi. Raja ditempatkan pada tampuk tata masyarakat, jauh diatas jangkauan orang biasa.



Tugas raja :

Dalam bidang politik, menjaga supaya jangan sampai terjadi gangguan-gangguan dan memulihkan ketertiban kalau seandainya sudah terjadi.
Raja yang Ideal : raja seyogyanya memiliki 8 nilai kebajikan :

1. Dana yang tidak terbatas, “kedermawanan”, sifat Batara Endra, kepala semua dewa bawahan

2. Kemampuan untuk menekan semua kejahatan, sifat dewa maut, Yama.

3. Berusaha membujuk dengan ramah dan tindakan yang bijaksana, sifat dewa matahari, Surya.

4. Kasih sayang, sifat Batara Candra

5. Pandangan yang teliti dan pikiran yang dalam, sifat dewa angin : Bayu

6. Kedermawanan dalam memberikan harta benda dan hiburan, sifat dewa harta duniawi, Kuwera;

7. Kecerdasan yang tajam dan cemerlang dalam menghadapi kesulitan macam apapun, sifat dewa lautan, Baruna

8. Keberanian yang berkobar-kobar dan tekad yang bulat dalam melwan setiap musuh, sifat dewa api, Brama.
Sifat-sifat ini sesungguhnya merupakan pengertian yang sangat realistis tentang masalah-masalah kebijaksanaan negara, yang meliputi kasih hati yang pemurah maupun kekerasan yang tiada kenal ampun dan tidak melupakan arti penting harta benda maupun daya kecerdasan, tetapi sifat-sifat ini juga menekankan tuntutan luar biasa dan yang benar-benar melebihi kemampuan manusia untuk menjadi tadan sebagai raja – hal yang sepenuhnya disadari orang Jawa sebagai hal yang tidak mungkin. Syarat lain yang pokok bagi seorang raja ideal ialah kemampuannya untuk memilih pegawai-pegawainya; peraturan-peraturan untuk itu dikemukakan dalam banyak karangan. Keseimbangan badaniah dan perangai fisik merupakan unsur penting dalam menentukan pilihan. Ini merupakan salah satu sebab mengapa ngelmu firasat senantiasa penting bagi orang Jawa, walaupun semata-mata di gunakan untuk memperoleh pengetahuan watak manusia saja

0 komentar:

Posting Komentar

Kalau udah dibaca mohon sisipkan komentar ea :D
untuk kemajuan blog saya
terimakasih :D