KEBUDAYAAN YANG BERINSPIRASIKAN AGAMA

Posted by Triyanto.d Saputra On Senin, 23 Juli 2012 0 komentar


“Sebelum seseorang melakukan studi tentang suatu organisme, mengestimasi nilainya, atau bahkan memahaminya, ia harus tahu untuk apa segalanya itu.”
(A.D. Sertillanges)

Tidak ada institusi pada abad pertengahan yang pengaruhnya sebesar pengaruh gereja Kristen. Semua orang yang dibabtis dengan sendirinya menjadi jemaah gereja, dan hampir semua orang yang telah dibabtis terlahir karena orang tuanya yang telah memeluk agama Kristen. Gereja senantiasa mengumandangkan kepastian kehidupan absolut tetang kehidupan abadi manusia. Gereja mengajarkan suatu sistem moral yang mengikat dalam setiap relasi manusia. Aktifitas intelektual tidak dapat dilepaskan dari kehidupan gereja karena, gerejalah yang mengembangkan teologi, filsafat, etika, kesusastraan dan seni.

Apakah gereja itu?

            Gereja adalah persekutuan semua umat manusia yang mengakui Kristus, mengikuti sakramen, dan yang berada di bawah gembala para pendeta, yang secara sah menjadi wakil san pemimpin di dunia, yakni Paus.

Organisasi Gereja

            Organisasi gereja pada dasarnya bersifat monarkhis. Gereja bereda di dalam uslup Roma, yang memiliki otoritas begitu besar kerena dialah pemegang kuasa kunci-kunci. Organisasi gereja juga bersifat hierarkhis, dengan Paus sebagai pucuk pimpinan dan pendeta jemaah atau pendeta lokal sebagai pimpinan yang paling bawah.
            Kata papacy  (kepausan) biasanya diterapkan pada Paus dan pembantu-pembantunya, para kardinal dan pejabat didepartemen –departemen istana kepausan Roma. Pemerintahan, gereja yang mencangkup wilayah Eropa barat dan beberapa bagian di Asia dan Afrika serta Greenland, mengharuskan adanya aktifitas administratuf yang luas.
Berbagai persoalan yang muncul dari aktivitas gereja yang  benar-benar bersifat keagamaan diselesaikan dalam tiga tribunal (pengadilan) berikut ini:
1.      Pengadilan Suci, yang bertugas menangani persoalan-persoalan disipliner seperti pengucilan, pemegatan, dan pemberian dispensasi.
2.      Pengadilan Tinggi Roma, yang bertugas menangani pelanggaran-pelanggaran hukum agama serta kasus-kasus naik banding dipengadilan-pengadilan keuskupan.
3.      Apostolus Signatura ( Pengadilan Kerasulan), yang menangani kasus-kasus naik banding yang muncul dalam Pengadilan Tinggi Roma.

Persoalan lain yang muncul dari aktivitas praktis gereja yang begitu luas diselesaikan dibeberapa departemen.
misalnya:
1.    Dataria (Departemen Personalia), yang menangani rekruitmen calon pemimpin gereja.
2.   Apostolus Chancellaria (Kanselir Kerasulan), yang menerbitkan dokumen-dokumen resmi kepausan sehubungan dengan pengangkatan pejabat gereja dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
3. Apostolus Camera (Kubah Kerasulan), yang menagani keuangan kepausan. Pada abad XIV organisasi ini dibuat lebih sempurna lagi.

Wilayah seorang uskup disebut diocese (keuskupan). Luas wilayah keuskupan sangat beragam. Di kawasan Mediterania misalnya, luas wilayah keuskupan relatif  lebih kecil dari pada di kawasan Eropa Utara.  Masing-masing keuskupan dibagi kedalam beberapa archdeacon (diakon utama) yang menangani persolan-persolan keuskupan yang menyangkut anggota jemaah gereja diwilayahnya. Tempat tinggal uskup yakni diwilayah gereja utama di sebut catedral berasal dari bahasa Latin cathedra yang atinya kursi kata lain yang ledih halus dari mahkota keuskupan. Uskup membawahi para pendeta lokal, dan bertanggung jawab atas semua masalah yang berkaitan bengan persoalan keagamaan anggota jemaah gereja diwilayahnya. seorang uskup memakai cincin, simbol dari perkawinan spiritual dengan gereja, dan membawa tongkat yang merupakan simbol dari karyanya sebagai pastor (penggembala umat).

Parish ( Kongregasi atau jemaah gereja) adalah unit terkecil dalam administrasi gereja. Wilayah Kongregasi ini pun sangat bervariasi. Para pendeta memperolah penghasilan dari tanah gereja  serta potongan sepuluh persen dari setiap penduduk manorial. Tugas keagamaan mereka adalah mengatus sakramen, memberikan khotbah-khotbah keagamaan, dan merawat gereja serta rumah mereka sendiri.
Sakramen



            Kebesaran kekuasaan gereja itu antara lain ditunjukkan dalam sakramen, yang adalah media pedagosis dimana khotbah-khotnah dan perintah-perintah keagamaan disampaikan, sakramen bukan sekedar media penyampai perintah keagamaan, tetapi lebih jauh adalah perwujudan dari persekutuan orang-orang yang beriman.

            Kemujaraban sakramen sudah dianggap pasti, agar mendapatkan kemujaraban sakramen seseorang agar memiliki sikap metal yang benar.

Ada tujuh sekramen yakni:
1.      Pembaptisan
2.      Pengesahan
3.      Penebusan dosa
4.      Ekaristi Suci
5.      Matrimoni (ikatan perkawinan)
6.      Pemberian minyak suci
7.      Orde-orde suci

Pengertian - Pengertian Sakramen:

·         Pembaptisan adalah sakramen pertama dalam kehidupan setiap umat Kristen. Dilakukan beberapa hari sesudah kelahiran, dan lebih awal jika terancam kematian.

·         Sakramen konfirmasi (pengesahan) di ikuti ketika seorang anak telah cukup dewasa untuk memahami ajaran gereja. Untuk menanamkan Roh Kudus, memberikan kekuatan agar si penerima Roh Kudus itu menjadi umat Kristen yang saleh.

·         Sakramen penebusan dosa atau lazim disebut  konfensi, merupakan pengujian terhadap suara hati seseorang. Di uji apakah ia benar-benar merasa menyesal atas dosa yang telah ia perbuat. Sakramen penebusan dosa ini merupakan momentum yang strategis dalam pengaturan kehidupan moral dan keagamaan seseorang
.
·         Ekaristi suci adalah sakramen yang menghadirkan tubuh dan darah kristus, yang disimbolisasikan dengan roti dan anggur. Tujuannya adalah untuk membangun persekutuan spiritual dengan kristus.

·         Matrimoni adalah juga sebuah sakramen. Perkawinan sepasang umat Kristen dianggap tidak sah jika tidak dilaksanakan di dalam gereja.

·         Pemberian minyak suci adalah sakramen terakhir dalam kehidupan setiap umat Kristen. Sudah termasuk konfesi atau penebusan dosa jika yang bersangkutan tidak terlalu sakit.

·         Orde-orde suci adalah sakramen pentahbisan seorang pendeta atau pastor, yang dengan demikian ia memiliki wewenang untuk menyelanggarakan sakramen-sakramen.


Disiplin Gereja

            Gereja sangat menyentuh semua aspek kehidupan di abad pertengahan. Apa yang terjadi pada orang yang menolak disiplin gereja? Ia dikucilkan, dikeluarkan dari persekutuan kaum beriman. Ini merupakan hal yang serius, sebab jika ia meninggal dengan membawa dosa-dosa yang berat sekali, jiwanya akan lenyap. Ini dianggap sebagai hukuman berat, karena anggota keluarganya tidak dapat membantu berbuat apa-apa.


Kependetaan: Sekuler dan Reguler
           
            Kependetaan dibagi kedalam dua kelompok, yakni sekuler dan reguler. Yang pertama, berasal dari bahasa Latin seculum, yang artinya bertugas memberikan kebaktian-kebaktian di dunia, bukan di biara. Mereka inilah yang mengatur penyelenggaraan sakramen, mengelola organisasi gereja, dan mendisiplinkan umat. Pendeta jemaat, uskup uskup agung, kardinal dan Paus adalah termasuk kelompok yang pertama. Sedangkan yang termasuk kelompok yang kedua, yang reguler – bersal dari bahasa Latin regula, yang artinya rule – adalah para biarawan, seperti biarawan ordo St. Benedictus. Mereka inilah para poendeta yang menarik diri dari dunia ramai, yang menjalani suatu kehidupan damai, dan mencurahkan diri hampir sepenuhnya untuk menghayati kehidupan.

Gereja dan Feodalisme

            Organisasi gereja yang begitu rumit, yang memiliki otoritas khusus dalam keimanan, moralitas dan disiplin, dalam abad X dan XI dihadapkan  pada suatu krisis yang gawat ketika masyarakat masih terfeodalisasikan. Hubungan feodal merupakan  hubungan yang rumit dan membingungkan hal ini berakibat pada menggejalanya korupsi, yang merendahkan moralitas para pendeta dan kaum awam, dan mengancam misi keagamaan gereja. Para tuan manor sering melakukan simony, yakni menjual atau membeli jabatan kegerejaan sekedar sebagai kesempatan untuk mencari uang.

            Penyalahgunaan hal lainnya terjadi dalam hal pentahbisan, para bangsawan feodal atau raja selalu berusaha mempengaruhi jalannya pemilihan uskup dan kepala biara.  Setelah, pemilihan usai, para bangsawan feodal atau raja “menobatkan” uskup itu dengan memakaikan cincin dan tongkat sebagai simbol jabatan keuskupan. Dengan munculnya penyimpangan ini, kehidupan keagamaan dan disiplin gereja lalu berada dibawah kontrol raja atau para bangsawan feodal. Hal ini mendapat tantangan keras dari orang yang masih menaruh kepedulian terhadap kemurnian gereja.

            Perkawinan pendeta juga merupakan ancaman yang serius bagi gereja, sejak awal pendeta memang sudah kawin, tetapi sebenarnya gereja menganjurkan kehidupan selibat, agar mereka mencapai kehidupan yang lebih sempurna.




Kongregasi Cluny

            Biara induk cluny di Burgundia didirikan pada tahun 910. Duke William dari Aquitane dan istrinya menyisihkan beberapa bidang tanah untuk membangun biara dan menetapkan bahwa biara itu sepenuhnya dan selamanya berada di bawah perlindungan Kepausan Suci, dan kepala biaranya dipilih secara bebas. Biara baru ini tidak untuk diperjual belikan, dan kepala biaranya tidak ditasbihkan oleh raja. Dari sinilah Cluny menjadi pusat perlawanan yang keras terhadap kebobrokan-kebobrokan masyarakat feodal.

            Pendiri kongregasi ini senantiasa berpesan agar para biarawan itu selalu menjalankan kebajikan lama yang penuh dengan keramah tamahan. Hal ini rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah orang besar untuk mengunjungi Cluny. Tujuan Cluny adalah memuliakan ajaran gereja dalam setiap langkah kehidupan.

            Abad XI menyaksikan kembali awal kehidupan keagamaan, hal ini jelas tidak dapat dipisahkan dari suntikan energi spiritual baru gereja.

            Para biarawan Cluny memang gigih dalam mendorong Truce of God (genjatan Senjata atas Nama Allah) yang melengkapi perdamaian Al-lah. Dengan ketentuan ini dileluarkan larangan berperang mulai dari kamis sore hingga senin pagi. Bagi siapa yang melanggarnya akan mendapat hukuman dikucilkan dan interdiksi.

            Pengaruh biarawan Cluny mulai terasa di banyak daerah, bahkan hingga kepausan Roma. Dari Cluny ini juga muncul pendirian yang tegas bahwa harus dipilih secara bebas, lepas dari para pengaruh penguasa politik. Para kaisar Jermanlah yang sering mencampurtangani pemilihan Paus, dan mendiktekan pilihan mereka. Akhirnya, pada 1059, dikeluarkan dekrit yang mengatur pemilihan paus. Dekrit ini dikeluarkan oleh dewan gereja Roma tanpa berkonsultasi pada dengan  kaisar. Mencegah adanya korupsi dan kekerasan. Dokumen ini ditandatangani oleh delapan uskup dan diaken, menetapkan kolese kardinal, yakni sebuah badan kependetaan yang sejak saat itu hingga kini berperan dalam pemilihan paus.

Perjuangan Pentahbisan

            Kebrobokan-kebrokan yang dapat menghancurkan gereja, misalnya seperti praktek-praktek jual beli jabatan kegerejaan, pentahbisan awam, dan perkawinan para pendeta. Menjadi sasaran kritik serangan Gregorius VII, Paus dari 1073 hingga 1085 berselisih sengit tentang pentahbisan ini dengan kaisar Jerma Henry IV, yang memrintah dari 1056 hingga 1106. Diduga bahwa Gregorius pernah hidup membiara di Cluny. Ia banyak terpengaruh oleh gagasan para biarawan Cluny. Gregorius mendesak agar Henry meninggalkan praktek jual beli jabatan, dan berhenti mencampurtangani pemilihan uskup. Dilain pihak, Henry bersikeras mempertahankan pendapatnya bahwa adalah haknya untuk menjual jabatan, mempengaruhi pemilihan uskup dan mentasbihkan uskup dengan memakaikan cincin serta tongkat yang berfungsi sebagai lambang kekuasaan.

            Gregorius mengungkapkan ide-idenya tentang hubungan antara gereja dan negara, serta asal-usul dari kedua kekuasaan tersebut. Teorinya ini banyak di anut oleh para pemikir abad pertengahan. Di katakan bahwa ada dua kekuasaan di bumi yakni negara dan gereja. Keduanya sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Gereja yang dibangun oleh kristus didirikan untuk mengajarkan tentang keselamatan, karena didrikan untuk melindungi kesejahteraan abadi umat manusia, gereja lebih penting dari pada negara.

            Negara, menurut Gregorius diciptakan karena manusia telah terjatuh dari kesepurnaannya. Negara memang juga diciptakan Tuhan tapi hanya untuk urusan duniawi, yakni mengawasi manusia yang telah bejat akhlaknya. Negara mengandalikan kejahatan manusia, sementara gereja mengembangkan kehidupan akal manusia. Oleh karena itu kehidupan gereja lebih penting dari pada negara, dan kaisar salah besar jika memperjualbelikan jabatan kegerejaan dan melakukan pentahbisan awam.

            Pertikaian merupakan krisis serius dalam bidang politik dan agama. Pertikaian tetap berlanjut setelah kematian Henry IV. Anaknya Henry V (1125) membuat perjanjian dengan Paus Calixtus II, perjanjian ini kemudian dikenal dengan nama “Concordat of Worms of 1122”. Henry menghentikan praktek simoni dan pentahbisan awam. Dilain pihak paus tidak keberatan akan kehadiran kaisar dalam pemilihan uskup dan kepala biara. Pemilihan tiidak boleh siwarnai dengan simoni dan kekerasan. Selanjutnya, setelah pemilihan uskup dan kepala biara menerima tongkat lambang kekuasaan politis dan kekaisaran.


Skisma Yunani

            Gereja dalam perkembangan selanjutnya pecah dalam kedua bagian; di Barat: Latin, Kelt, dan Jerman. Di Timur: Yunani dan Slav. Perpecahan ini dikenal dengan istilah Skisma Yunani. Terjadi pada tahun 1054.
            Telah lama terdapat kesalingpahaman dan perbedaan pendapat antara Roma dan Konstatinopel. Yang disebutkan pertama mewarisi kebudayaan yang bercorak Latin, sedangkan yang kedua bercorak Yunani. Patriarkh Konstatinopel, yang iri kepada Paus di Roma, menyangkal klaim-klaim St. Petrus. Selain itu, antara kedua gereja itu juga terdapat perbedaan-perbedaan dogma. Kesalingpahaman terus menerus terus meningkat, sampai akhirnya datang utusan paus di Konstatinopel dan meletakkan dekrit pengucilan diatas altar gereja Khatolik Roma di Barat, dan gereja Yunani (atau Khatolik Ortodoks) di Timur.

Ordo Carthusian  
            Monarkisme tetap populer sepanjang Abad Pertengahan. Banyak ordo baru bermunculan, yang satu dengan yang lainnya ada perbedaan yang besar. Ordo baru yang pertama adalah ordo Carthusian yang didirikan pada 1084. Gagasan dasarnya adalah adalah penyangkalan diri secara aksetis, yang tampaknya berbeda dari ide dasar ordo Benedictus dan kongregasi Cluny. Pendirinya adalah St. Bruno dari Cologne, yang dengan sekelompok kecil pengikutnya membangun biara di daerah yang sulit dijangkau orang disuatu tempat di Burgundia yang disebut Chartreuse.

            Para biarawan Ordo Cathusian ini bermata pencarian antara lain dengan menggembalakan ternak dihutan. Dengan uang yang mereka peroleh dari penjualan kulit ternak itulah mereka membeli makanan dan barang-barang keperluan lainnya. Berbeda dari kongregasi Cluny mereka sangat tidak suka pada kemegahan dan kemewahan misa-misa keagamaan. Secara persisten mereka mampu mempertahankan jalan hidup yang sangat asketis ini selama abad enam.

Ordo Cistercian

            Ordo ini didirikan pada 1098. Sekelompok kecil orang, yang muak dengan kemewahan para biarawan Cluny. Membuka calon komplek persemedian di hutan Citeaux dekat Dijon, Burgundia. Mereka melatih diri mereka untuk hidup miskin dan sederhana.

            Meskipun pada awalnya menentang kemewahan hidup Cluny tapi pada perkembangannya Ordo Cistercian mengalami kemakmuran. Tokoh terbesar ordo ini adalah St. Bernard dari Clairvaux (1153). Nama ordo ini terkenal luas pada 1152, ordo ini memiliki 330 biara yang terdsebar di Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Inggris, dan Belanda.

Ordo Premonstratensian

            Ordo ini didirikan pada 1120. Ordo ini berbeda dari ordo-ordo Benecditus, Carthusian, dan Cistercian. Ordo ini beranggotakan para pendeta yang sekaligus biarawan. Sedangkan kebanyakan ordo-ordo lainya beranggotakan para biarawan yang tidak pernah menjadi pendeta.

            St. Norbert mendirikan biara premonstratensian yang pertama didekat Leon, Prancis. Karena para pendeta anggota ordo ini mempunyai tugas untuk berkhotbah, mengajar, mendengarkan pengakua-pengakuan dosa dan tugas-tugas kependetaan lainya, biara-biara ordo ini dibangun didekat kota-kota, dimana mereka bisa melakukan layanan kepada setiap umat. Ordo ini menarik, karena inilah institusi kebiaraan pertama dalam Abad Pertengahan yang mengadabtasikan model kehidupan keagamaannya sesuai dengan kebutuhan warga kota. Model ini kemudian banyak ditiru ordo-ordo lainnya, seperti Franciscan dan Dominican.

Ordo Kariatif       

Di pusat-pusat industri dan perdagangan baru tumbuhlah ordo-ordo yang melayani kaum miskin. Karitas merupakan kebijakan nilai kristiani yang terus menerus ditanamkan sejak semula. Pada Abad pertengahan penyakit kusta memeng merupan gejala yang endemis, terutama sebelum kebiasaan mandi secara teratur di praktekan para warga kota-kota yang baru bermunculan.

Satu hal yang khas dalam ordo-ordo kariatif ini adalah bahwa sebagian besar anggotanya bukan para biarawan atau pendeta, tetapi justru kaum awam. Namun, beberapa ciri kebiaraannya tetap bertahan. Artinya, beberapa aturan yang lazim berlaku dalam kehidupan di biara-biara wajib dipatuhi anggota-anggotanya, termasuk yang awam. Misalnya seperti hidup secara sederhana dan saleh tetapi tidak harus selibat.




  
Sekte Albigenses

Sekte Albigenses ini boleh dikatakan merupakan semacam penjelmaan dari kelompok bid’ad manikhea kuno- yang dulu secara tak henti-hentinya diburu-buru oleh St, agustinus. Ajarannya merupakan campur aduk tak karuan antara pandangan-pandangan paganisme dan kristen. Sekte ini mengajarkan bahwa di dunia ini terdapa pertarungan abadi antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Kekuatan baik berkaitan dengan roh, sedangkan kekuatan jahat berkaitan dengan materi. Kreasi material adalah hasil dari pertarungan antara kedua kekuatan tersebut. Oleh karena itu Sang Pencipta alam semesta ini tak mungkin Tuhan Yang Maha pemurah. Tuhan dalam perjanjian lama adalah jahat. Kristus tidak mungkin menampakkan diri secara fisik dalam tubuh manusia. Perkawinan adalah suatu kejahatan, karena perkawinan mengekelkan wadaq fisik manusia. Pokoknya, agama khatolik itu jahat, sakramen-sakramennya itu palsu, dan ajaran-ajaranya tak perlu dipatuhi. Sekte albigenses ini kmengenal satu sakramen inisiasi, yakni consolamentum. Di dalam sakramen ini mereka mengucapkan kata-kata yang menolak segala ajaran khatolik. Sebagian besar ajaran sekte ini berkaitan dengan seks, satu hal yang sungguh mereka benci. Adalah dosa besar bagi seorang leleki menyentuh seorang wanita, bahkan dengan cara yang tidak ofensif sekalipun. Jalan keluar dari kesulitan ini, bagi yang mempercayai ajaran sekte ini, adalah endura atau bunuh diri. Hal ini mereka percayai sebagai suatu yang terpuji, karena dengan bunuh diri ini jiwa mereka akan terbebaskan dari segala hal yang bersifat material.  

Mereka merupakan ancaman yang serius bagi gereja. Mereka menentang praktek pengambilan sumpah didepan pengadilan atau dalam seremoni-seremoni di depan publik. Para pengikut sekte albigenses itu menolak pengambilan sumpah dengan mendasarkan diri pada injil Matius 5:36 kuadrat. Ajaran-ajaran semacam itu tidak munkin diterima dalam masyarakat abad pertengahan yang mendasarkan diri pada kepatuhan, dan dimana kesatriaan  merupakan suatu yang diidealisasikan. Maka, pada abad XIII masyrakat Eropa Kristen bersatu dipihak gereja dan negara untuk membasmi sekte atau kelompok bid’ah albigenses ini. Dari sinilah lalu muncul inkuisisi yakni suatu pengadilan yang mencabut semua ajaran sekte albigenses.

Inkuisisi

Hukuman utamanya berupa penyitaan harta benda mereka atau pembuangan. Hukuman ini masih lebih manusiawi dari pada hukuman yang di jatuhkan oleh masa fanatik, yakni membakar mereka hidup-hidup.
            Dibawah kaisar Frederick II, yang berkuasa dari 1212 sampai dengan 1250, sifat inkuisisi ini banyak berubah. Pada tahun 1224 ia mengeluarkan suatu undang-undang yang menyatakan bahwa pengikat gerakan bid’ah dijatuhi hukuman bakar atau potong lidah. Inkuisisi dipindahkan dari tangan para uskup ke tangan dua ordo yang baru saja muncul, yakni Dominican dan Fransiscan. Akhirnya, Innocentius IV, Paus dari 1243 hingga 1254, mengesahkan penggunaan penyiksaan atas para bid’ah, seperti yang sering diterapkan dalam pengadilan negara.


St. Franciscus dari Assisi

Ordo Biarawan Minor didirikan oleh St. Fransiscus (sekitar 1181-1226), seorang biarawan yang benar-benar tulus hati. Ia berasal dari keluarga pedagang kaya di Assisi, sebuah kota kecil di Italia tengah tempat ia menjalani hidup dengan penuh kegembiraan, tidak memikirkan masalah-masalah kehidupan. Akhirnya, ia benar-benar tampak tergugah oleh kata-kata Yesus sebagaimana ditulis dalam injil Matius dan kemudian mencurahkan dirinya untuk berkhotbah terhadap kaum miskin dan papa di daerah Umbria.

Kejeniusan St. Franciscus terungkap dalam Little Flowers of St. Francis yang merupakan kumpulan cerita tentang kesalehan sang santo ini kumpulan cerita ini, yang di susun setelah kematiannya. Dengan dua belas muridnya ia pergi ke Roma, memohon kepada Paus Innocentius III untuk mendirikan sebuah ordo.

Tujuan ordo Francisus yang pertama ini, yang terdiri dari para Biarawan Kecil, adalah untuk menirukan teladan Yesus. Para anggotanya disebut bruder atau frater secara berpasang-pasangan menjelajahi seluruh negeri, berkhotbah dan membantu kaum miskin. Mereka itu sebenarnya adalah kaum awam yang hidup dalam aturan, kebiaraan, tetapi tetap bukan atau belum betul-betul menjadi biarawan atau pendeta tetapi tetap bukan atau belum betul-betul menjadi biarawan atau pendeta. Jadi ordo yang pertama ini merupakan perpaduan antara idealisasi hidup kebiaraan  dan kehidupan kaum awam. Prinsip utama mereka tampak paradoksal dengan manusia modern, yang selalu berpikir bahwa tanpa benda-benda material hidup adalah hampa. “Kemiskinan” kata para murid Franciscus itu, “tercapai dalam ketidakpunyaan dan ketidakinginan , kecuali dalam keinginan akan semangat pembebasan. “dalam” “kebebasan” inilah manusia mereguk kemerdekaan spiritual yang merupakan jalan ajaran-ajaran Yesus.

Ordo kedua dibentuk pada tahun 1212. Ordo ini terdiri dari kaum wanita, yang merupakan pasangan kerja para murid St. Franciscus. Ordo ini didirikan oleh St. Klara- putri dari sebuah keluarga kaya di Assisi yang sejak muda terpesona pada kesalehan St. Franciscus.

Ordo ketiga: para Bruder dan suster penubusan dosa. Ordo-ordo fransiscan ini, yang menaruh kepedulian yang dalam terhadap tatanan masyarakat kota, cukup mendorong gereja untuk menyesuaikan dirinya untuk dengan kondisi-kondisi sosial yang tengah berubah.

Ordo Dominican

            Ordo ini didirikan oleh seorang Spanyol yang bernama St. Dominica (1170-1121) pada 1216. Ia adalah seorang anggota yang berhasrat kuat untuk mengendalikan para pengikut kelompok bid’ah Albigenses kedalam gereja. Seperti para anggota ordo Francicscus, anggota ordo juga menjalani hidup dalam kemiskinan. Mereka hidup dari sedekah orang lain. Itulah sebabnya mereka disebut biarawan peminta-minta.
          
  Para anggota ordo ini sangat berminat pada ilmu pengetahuan. Hal ini didorong oleh hasrat untuk membantah pandangan-pandangan yang berbau bid’ah. Banyak anggota ordo Dominican yang terpelajar yang kemudian menjadi guru besar teologi di universitas-universitas yang mulai bermunculan dimasa itu.


Makna Sosial Remisi Hukuman

            Remisi ini diberikan untuk menghapus hukuman dosa, bukan untuk menghapus kesalahan dosa itu yang adalah wewenang adalah Tuhan untuk menganpuninya, dan hanya efektif jika yang bersangkutan telah benar-benar mengakui dosa-dosanya. Penerima remisi hukuman itu biasanya lalu diwajibkan memberikan jaminan yang berupa uang atau tenaga kerja. Satu hal yang harus digaris bawahi adalah bahwa yang terpenting dalam pemberian remisi ini bukan jaminanya, tetapi kedisiplinan moral dan religius orang yang menerima penebusan tersebut. Uang jaminan atau tenaga kerja yang diberikan oleh penerima hukuman remisi itu biasanya diberikan untuk membangun atau merawat gereja. Uang jaminan itu juga digunakan untuk memberikan semacam pensiunan bagi para veteran perang salib. Selain itu juga digunakan untuk mebiayai proyek-proyek sosial yang berguna, seperti pembangunan jalan, parit, bendungan, tanggul, pelabuhan, bendungan, benteng, serta pendayaagunaan tanah-tanah kosong.

Kalender

            Pengaruh agama sedemikian kuatnya sehingga orang menyusun penanggalan didasarkan atas orang hari-hari suci. Mereka tidak menulis “24 Juni 1330”, tetapi “Hari Raya St.Yohannes Pembabtis, 1330”. Bahkan mereka sering menyusun penanggalan peristiwa-peristiwa berdasarkan hari-hari besar gereja, yang tidak jarang berubah-ubah, sehingga memperumit perhitungan. Jelaslah kini agama merupakan sumber inspirasi bagi basis-basis peradaban abad pertengahan. Sejak semula gereja kristen telah mengajarkan pandangan hidup yang konsisten, dan mengilhami konsepsi ideal tentang perilaku etis melalui sakramen-sakramen. Reformasi, dalam sejarah gereja adalah gerakan yang dimulai oleh Martin Luther pada abad XVI, yang bertujuan untuk mereformasi, gereja Khatolik Roma dan kemudian menghasilkan protestanismepent.
    
 

0 komentar:

Posting Komentar

Kalau udah dibaca mohon sisipkan komentar ea :D
untuk kemajuan blog saya
terimakasih :D