Konsep kekuasaan Raja Jawa adalah Keagungbinatharaan

Posted by Triyanto.d Saputra On Minggu, 15 Juli 2012 0 komentar


Kekuasaan raja-raja Mataram begitu besar di mata rakyat, sehingga rajyat mengakui bahwa raja sebagai pemilik segala sesuatu, baikharta benda maupun manusia. Karena itu terhadap keinginan raja, rakyat hanya dapat menjawab ’ndherek karsa dalem’ (terserah kepada kehendak raja ) kekuasaan yang demikian besar itu dikatakan ” wenang wisesa ing sanagari” (berwenang tertinggidi seluruh negeri)”
Dalam pewayangan kekuasaan yang besar itu biasanya digambarkan sebagai ”gung binathara, bau dhendha nyakrawati” (sebesar kekuasaan dewa, pemelihara hukum dan penguasa dunia).
Dalam kedudukan sebagai penguasa negara, raja berhak mengambil tindakan apa saja dengan cara bagaimana saja terhadap kerajaannya, segala isi yang ada di dalamnya, termasuk hidup manusia. Karena itu kalau raja menginginkan sesuatu, dengan mudah ia akan memerintah untuk mengambilnya. Kalau yang mempertahankan, maka diperanginya. Sebaliknya kalau ada orang yang dipandang tidak pantas berada dalam kedudukannya, dengan mudah saja raja mengambil kedudukannya, dengan membunuhnya bila perlu.
Akan tetapi dalam konsep kekuasaan Jawa , kekuasaan yang besar diimbangi dengan kewajiban yang dirumuskan dalam kalimat ”berbudi bawa leksana, ambeg adil para marta” ( meluap budi luhur mulia dan sifat adilnya terhadap semua yang hidup, atau adil dan penuh kasih)
Raja yang dikatakan baik adalah raja yang menjalankan kekuasaannya dalam keseimbangan antara kewenangannya yang besar dengan kewajibannya yang besar juga. Kekuasaan yang besar di satu pihak dan kewajiban seimbang di lain pihak merupakan isi konsep kekuasaan Jawa.
Penerapan konsep keagungbinatharaan yang lengkap dan tepat akan mendatangkan ”negeri ingkang apanjang-apunjung, pasir wukir loh jinawi, gemah ripah, karta tur raharja” ( negara yang tersohor karena kewibawaannya yang besar, luas wilayahnya ditandai oleh pegunungan sebagai latar belakangnya, sedang di depannya terdapat sawah yang sangat luas, sungai yang selalu mengalir, dan pantainya terdapat pelabuhan yang besar)
Raja yang secara konsekuen menjalankan konsep atau doktrin keagungbinataraan selalu memeperhatikan kesejahteraan rakyatnya, bersikap murah hati,  dsbnya
Figur raja demikian setidaknya mewakili figur ideal seorang pemimpin dalam suatu pemerintahan. Ungkapan itu sebagai tradisi pewarisan kepemimpinan yang dirasakan kian penting di era komunikasi global sekarang ini. 
Ini merupakan upaya agar pemimpin bangsa ini tidak kehilangan arah yang dapat menghancurkan martabat bangsa yang berdaulat sebagai ulah pemimpin yang kurang mampu mengemban amanat penderitaan rakyatnya.
Dalam sejarah  masa lau, orang Jawa memiliki tokoh pemimpin idola yang dipandang arif dan bijaksana. Oleh karena itu sesuai dengan warisan budaya dari pendahulu hingga kini, masyarakat Jawa masih memiliki budaya untuk meneladani tokoh-tokoh idolanya, baik tokoh hitoris maupun tokoh fiktif. 
Ajaran kepemimpinan Jawa yang disebut Asta Brata. Asta atau hasta artinya delapan. Brata artinya perilaku atau sifat.
Delapan sifat kepemimpinan tersebut adalah;
1. sifat matahari, matahari mengeluarkan panas, penuh energi dan memberi sarana untuk hdup. Makna seorang pemimpin bersifat matahari adalah agar setiap pemimpin harus mampu memberi motivasi, spirit, kehidupan dan memberi kekuatan kepada seluruh anak buah yang dipimpinnya.
2. sifat bulan, bentuknya bulat dan indah dan menarik hati. Siapa pun yang melihatnya senang di samping menerangi di dalam kegelapan. Seorang pemimpin harus memiliki sifat bulan maksudnya, agar setiap mepimpin harus dapat menyenangkan, menarik hati dan memberi terang dalam kegelapan kepada semua anak buah yang dipimpinnya.
3. sifat bintang, artinya seorang pemimpin harus dapat memberi petunjuk, memberi arahan dan bimbingan agar anak buahnya mampu menyelesaikan tugas dengan baik. bintang sebagai lambang bahwa kita harus selalu ingat dan mengabdi kepada Tuhan. Oleh karena itu seorang pemimpin haus bertaqwa kepada Tuhan.
4. sifat angin, angin mempunyai sifat dasar mengisi setiap ruangan yang kosong walaupun di ruangan yang kecil sekalipun. Seorang pemimpin harus dapat berfungsi seperti angin, maksudnya agar setiap pemimpin dapat bertindak dengan cermat dan teliti serta tidak segan-segan terjun langsung ke masyarakat agar mengetahui anak buah yang sebenarnya. Apalagi angin segar , diharapkan seorang pemimpin harus mampu membawa suasana yang menyenangkan.
5. sifat api, api sifatnya dapat membakar apa saja yang bersentuhan dengannya dan tegas. Jadi seorang pemimpin harus mampu bertindak seperti api artinya harus tegas dan adi tanpa pandang bulu. Di samping tugas seorang pemimpin harus mempunyai prinsip yang konsisten serta dapat menahan emosi atau mengendalikan diri.
6. sifat mendhung. Mendung mempunyai sifat menakutkan ( berwibawa) tetapi setelah berubah menjadi air dalam hal ini hujan dapat menyegarkan semua makhluk hidup. Jadai seorang pemimpin harus dapat bersifat seperti mendung yaitu harus dapat menjaga kewibawaan dengan berbuat jujur, terbuka dan semua apa yang menjadi programnya bermanfaat bagi setiap anak buahnya.
7. sifat samudera, mempunyai sifat yang luas dan dapat menampung apa saja ke dalam samudera.di samping itu sifatnya juga rata. Jadi seorang pemimpin harus berfungsi seperti samudera yaitu mempunyai pandangan yang luas, merata, sanggup dan mampu menerima berbagai macam persoalan dan tidak boleh pilih kasih dan membenci terhadap golongan apapun seorang pemimpin harus berjiwa besar yaitu mau memafkan kesalahan orang lain
8. sifat bumi, bumi mempunyai sifat teguh atau sentosa dan apa yang ditanam di bumi akan menghasilkan yang bermanfaat bersifat seperti bumi yaitu berteguh hati dan selalu mampu memberi anugerah terhadap siap saja yang berjasa terhadap nusa dan bangsa.
Peran Pemimpin Asta Brata
1. Komandan
2. Pelopor
3, Bapak
4, Ibu
5. Guru
6. Pendita
7. Sahabat
8. Satria

0 komentar:

Posting Komentar

Kalau udah dibaca mohon sisipkan komentar ea :D
untuk kemajuan blog saya
terimakasih :D